Banyak persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan dialog dengan perusahaan. Ia mengatakan dalam sejumlah kasus, pendekatan tersebut justru membuat perusahaan dapat menerima kepentingan masyarakat
GUBERNUR Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, tidak memandang industri pertambangan dan investasi nikel sebagai sesuatu yang harus dijauhi.
Sebaliknya, ia mengakui investasi telah membawa perubahan besar bagi daerah, terutama di Morowali yang dikenal sebagai salah satu pusat industri nikel.
Namun, bagi Gubernur Anwar, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada berapa banyak nikel yang berhasil ditambang hari ini.
Apa yang akan tersisa untuk rakyat ketika nikel itu habis?
Pertanyaan itu, menjadi dasar pandangannya terhadap masa depan industri nikel di Sulawesi Tengah.
“Morowali akan habis, nikel ini akan habis, Sulteng ini nikel akan habis. Tapi yang kita pikirkan, bagaimana kalau nikelnya habis rakyat masih bisa apa?” kata Gubernur Anwar.
Dia menyampaikan itu dalam wawancara Podcast Madilog di Forum Keadilan TV, yang disiarkan pada Ahad, 13 September 2026 yang dikutip kaidah.ID, Senin, 14 September 2026. Podcast itu berjudul: Sindiran Sulawesi Tengah untuk Pemerintah Pusat.
Menurutnya, jawabannya bukan memperpanjang ketergantungan terhadap sumber daya alam. Jawabannya adalah membangun manusia.
“Solusinya tidak ada yang lain kecuali rakyat itu diisi dengan ilmu pengetahuan, pendidikan, pendidikan,” tegasnya.
Tidak Anti Investasi
Gubernur Anwar menegaskan, dirinya bukan sosok yang anti terhadap perusahaan maupun investasi. Ia justru melihat sendiri bagaimana investasi telah mengubah Morowali.
Saat dirinya tumbuh dan besar di daerah tersebut, Morowali merupakan daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Ia menyebut ketika menjabat sebagai bupati, angka kemiskinan di daerah itu sekitar 27 persen dan pada akhir masa jabatannya tersisa sekitar 13 persen.
Karena itu, ia tidak menafikan kontribusi investasi terhadap perkembangan ekonomi masyarakat.
“Kami orang kampung, saya lahir dan besar di Morowali, saya menyaksikan bahwa daerah kami itu maju, rakyat kami itu banyak yang berhasil gara-gara adanya investasi itu,” ujarnya.
Tetapi kemajuan ekonomi hari ini, menurutnya, tidak boleh membuat pemerintah kehilangan perspektif jangka panjang.
Investasi harus meninggalkan sesuatu yang lebih permanen daripada sekadar angka produksi. Investasi harus ikut membangun manusia lokal.
Pesan Gubernur Anwar kepada PT IMIP
Dalam Podcast Madilog tersebut, GubernurbAnwar secara khusus menyinggung PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Ia berharap, perusahaan tidak hanya mengambil tenaga kerja dari daerah untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi ikut mencetak generasi Sulawesi Tengah yang menguasai teknologi.
Ia bahkan mengusulkan, agar anak-anak terbaik dari Morowali dan Sulawesi Tengah diberi kesempatan memperoleh pendidikan dan pengalaman teknologi di China.
“Saya mau sekali, kenapa sih anak-anak Morowali itu, anak-anak Sulawesi Tengah itu, diambil dari sekolah-sekolah yang hebat, kemudian disekolahkan di Cina,” katanya.
Menurut dia, anak-anak tersebut nantinya dapat menjadi tenaga ahli, yang membawa pulang pengetahuan dan teknologi ke daerah.
Ia menyontohkan, tidak perlu dalam jumlah besar. Jika ada 10 atau 20 anak yang benar-benar ditempa hingga menjadi ahli teknologi, dampaknya dapat sangat besar bagi masa depan industri di daerah.
“Kita punya 10 orang saja atau 20 orang yang kalian bikin hebat, dia jadi ahli di sana, dia pulang di sini, meledak,” tuturnya.
Bagi Gubernur Anwar, inilah bentuk investasi sumber daya manusia, yang jauh lebih panjang umurnya dibandingkan cadangan nikel itu sendiri.
Jangan Sampai Nikel Habis, Rakyat Kehilangan Masa Depan
Kekhawatiran Anwar bukan tanpa alasan. Sulawesi Tengah memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar. Tetapi sumber daya alam, termasuk nikel, memiliki batas.
Ketika cadangan itu berkurang atau habis, masyarakat tidak bisa lagi menggantungkan masa depan hanya pada aktivitas pertambangan.
Karena itu, sejak sekarang masyarakat harus dibekali kemampuan, yang memungkinkan mereka tetap hidup dan berkembang setelah era tambang berakhir.
Nikel bisa habis. Keahlian manusia tidak. Inilah alasan Gubernur Anwar menempatkan Pendidikan, sebagai salah satu prioritas utama pemerintahannya.
Program beasiswa yang dijalankan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, menjadi bagian dari strategi tersebut. Dalam Podcast itu, Gubernur Anwar menyebut sebanyak 47.000 anak Sulawesi Tengah telah mendapatkan beasiswa selama dirinya menjabat, dengan cakupan pendidikan S1, S2, S3 hingga dokter spesialis.
Para penerima beasiswa tersebar di sekitar 300 perguruan tinggi di Indonesia, termasuk di luar negeri.
Dengan cara itu, kekayaan alam hari ini diharapkan dapat dikonversi menjadi kekayaan manusia untuk masa depan.
Industri Harus Berbagi dengan Masyarakat
Gubernur Anwar, juga menyampaikan pesan yang lebih luas kepada perusahaan yang beroperasi di Sulawesi Tengah. Ia tidak mempersoalkan perusahaan mendapatkan keuntungan.
Namun, keuntungan tersebut menurutnya, harus diikuti kepedulian terhadap masyarakat sekitar, terutama dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Perusahaan juga saya sering bilang, jangan sampai kamu sudah kaya raya, tolonglah bantu rakyat kita biar lebih maju lagi. Itu terutama sumber daya manusia,” pesannya.
Bagi Gubernur Anwar, perusahaan besar memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dibandingkan masyarakat.
Karena itu, investasi sosial yang diarahkan untuk pendidikan dan peningkatan keahlian masyarakat local, dinilai lebih strategis dibandingkan sekadar bantuan jangka pendek.
Ia ingin anak-anak Sulawesi Tengah, tidak selamanya hanya menjadi pekerja dalam rantai industri.
Mereka harus memiliki kesempatan menjadi tenaga ahli, teknisi, profesional bahkan pengambil keputusan yang menguasai teknologi industri.
Belajar dari Politeknik di Morowali
Pengalaman Gubernur Anwar ketika menjadi Bupati Morowali juga memengaruhi pandangannya. Ia mengatakan, pernah mendorong pembangunan Politeknik Negeri di Morowali.
Namun setelah melihat komposisi mahasiswa, ia menemukan sekitar 80 persen mahasiswa justru berasal dari luar daerah, sementara anak-anak Morowali hanya sekitar 20 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu dibalik.
“Seharusnya 80 persen anak Morowali, 20 persen dari luar. Kenapa? Karena mereka ini yang akan tinggal hidup mati di situ,” harapnya.
Dari Tambang Menuju SDM
Bagi Gubernur Anwar Hafid, ukuran keberhasilan pembangunan Morowali dan Sulawesi Tengah tidak boleh berhenti pada seberapa besar industri tumbuh.
Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah masyarakat lokal ikut naik kelas. Apakah anak-anak daerah mampu menguasai teknologi? Apakah mereka bisa menjadi tenaga ahli? Apakah ketika suatu hari nikel habis, masyarakat tetap memiliki kemampuan untuk membangun ekonominya sendiri?
Karena itu, ia mendorong agar perusahaan seperti IMIP, ikut mengambil peran dalam membangun SDM lokal.
Bukan semata-mata karena kewajiban sosial, tetapi karena masa depan industri itu sendiri membutuhkan manusia yang semakin berkualitas.
“Saya Akan Berdiri Bersama Rakyat”
Sikap Anwar terhadap investasi juga memiliki batas yang tegas. Ketika kepentingan perusahaan berhadapan dengan kepentingan rakyat, ia menyatakan akan berdiri bersama masyarakat.
“Kalau ada korporasi berhadapan dengan rakyat maka saya akan berdiri di hadapan rakyat apapun resikonya,” tegasnya.
Namun ia menegaskan, keberpihakan tersebut tidak berarti mengajak masyarakat melakukan perlawanan dengan kekerasan.
Menurutnya, banyak persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi dan dialog dengan perusahaan. Ia mengatakan dalam sejumlah kasus, pendekatan tersebut justru membuat perusahaan dapat menerima kepentingan masyarakat.
Bagi Gubernur, perusahaan dan pemerintah tetap merupakan bagian dari pembangunan. Tetapi rakyat tidak boleh menjadi pihak yang tersisih dari proses tersebut. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan