Di pulau tersebut terdapat satu SMP satu atap, dua sekolah dasar dan dua PAUD. Keberadaan lembaga pendidikan itu menjadi tumpuan bagi anak-anak di Pulau Kabetang untuk memperoleh Pendidikan, tanpa harus meninggalkan wilayah tempat tinggal mereka
TOLITOLI, KAIDAH.ID – Warga Desa Pulau Kabetang, Kecamatan Ogodeide, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, sudah dua pekan harus menjalani malam tanpa penerangan listrik.
Kondisi tersebut terjadi, setelah mesin generator pembangkit listrik yang melayani tiga dusun di Pulau tersebut, tidak mendapatkan suplai BBM bersubsidi untuk mengoperasikan mesin pembangkit.
Hal itu disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Tolitoli, Jemi Yusuf, kepada kaidah.ID, Senin, 14 September 2026 sore.
Jemi usuf mengatakan, persoalan listrik ini menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Pulau Kabetang. Sebab, listrik bukan hanya menyangkut penerangan rumah warga, tetapi juga menunjang aktivitas pendidikan dan kehidupan masyarakat pada malam hari.
“Sudah dua pekan masyarakat Desa Pulau Kabetang tidak mendapatkan penerangan listrik pada malam hari,” kata Jemi Yusuf.
Menurutnya, Pulau Kabetang memiliki posisi geografis yang cukup strategis sekaligus rentan, karena merupakan bagian dari Kecamatan Ogodeide yang berada di wilayah terluar dan perbatasan Kabupaten Tolitoli.
Secara administratif, Desa Pulau Kabetang memiliki tiga dusun.
“Sebanyak 1.026 jiwa atau sekitar 310 kepala keluarga bermukim di sana,” sebutnya.
Belum Terlayani MBG
Selain persoalan listrik, Jemi juga menyoroti belum terlayaninya ratusan peserta didik di Pulau Kabetang oleh Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di pulau tersebut terdapat satu SMP satu atap, dua sekolah dasar dan dua PAUD. Keberadaan lembaga pendidikan itu menjadi tumpuan bagi anak-anak di Pulau Kabetang untuk memperoleh Pendidikan, tanpa harus meninggalkan wilayah tempat tinggal mereka.
“Ratusan peserta didik kita yang berada di pulau tersebut sampai saat ini belum terlayani oleh Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebagai Program Strategis Nasional,” ujarnya.
Bagi Jemi Yusuf, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Sebagai wilayah terluar dan perbatasan, masyarakat Pulau Kabetang semestinya tidak boleh tertinggal dalam mendapatkan pelayanan dasar, termasuk energi listrik dan program pemerintah di bidang pemenuhan gizi anak.
Minta Pemerintah Beri Solusi
Ia berharap, pemerintah dapat segera mencarikan solusi terkait ketersediaan BBM bersubsidi, untuk menggerakkan generator pembangkit listrik di tiga dusun pulau tersebut.
Menurutnya, kepastian suplai BBM sangat penting agar masyarakat kembali mendapatkan penerangan pada malam hari.
“Semoga ada solusi untuk masyarakat di pulau itu untuk mendapatkan BBM bersubsidi guna memberikan penerangan listrik di malam hari,” harapnya.
Selain listrik, Jemi Yusuf juga berharap pelayanan MBG segera menjangkau peserta didik di pulau terluar tersebut.
Ia menilai, program unggulan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tersebut harus dapat dirasakan anak-anak sekolah, termasuk mereka yang berada di wilayah kepulauan dan terluar.
“Semoga pelayanan MBG juga dapat segera hadir bagi anak-anak kita di Pulau Kabetang,” katanya.
Jemi menegaskan, masyarakat di wilayah kepulauan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan pemerintah. Karena itu, persoalan geografis dan keterbatasan akses, tidak seharusnya menjadi alasan terhambatnya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan