Oleh: Salihudin
Mantan Ketua Umum HMI Cabang Palu
KAHMI adalah rumah besar alumni HMI. Karena itu kualitas KAHMI dalam jangka panjang tidak mungkin sepenuhnya dipisahkan dari kualitas proses perkaderan HMI. Bila hulunya mengalami problem intelektual, hilirnya cepat atau lambat akan merasakan akibatnya
SAYA ikut LK 1 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tahun 1994 di Poso, LK 2 tahun 1996 di Jogyakarta dan Lk 3 tahun 1999 di Makassar. Artinya, lebih dari tiga dekade saya melihat organisasi ini dari jarak yang berbeda-beda: sebagai kader, aktivis, pengurus dan alumni.
Terus terang, setelah perjalanan panjang itu, saya mulai pesimis.
Pesimisme ini bukan karena saya kehilangan kecintaan kepada HMI. Justru karena pernah tumbuh di dalamnya, saya merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang serius sedang terjadi pada organisasi ini. HMI masih besar secara struktur, luas secara jaringan, dan kuat secara historis. Tetapi pertanyaannya: apakah kebesaran organisatoris itu masih berbanding lurus dengan kebesaran intelektualnya?
Saya khawatir jawabannya semakin sulit diberikan secara meyakinkan.
Dari Rapat Anggota Komisariat (RAK), konferensi cabang, musyawarah daerah Badko hingga kongres, energi organisasi tampaknya semakin banyak tersedot pada perebutan struktur. Politik internal menjadi sangat dominan. Kompetisi kepemimpinan yg seharusnya menjadi mekanisme kaderisasi demokratis sering mengalami reduksi menjadi sekadar perebutan posisi.
Akibatnya terjadi apa yang dalam studi organisasi dapat disebut sebagai goal displacement: tujuan substantif organisasi perlahan digantikan oleh kepentingan mempertahankan mekanisme dan struktur organisasi itu sendiri.
HMI akhirnya sangat sibuk mengurus HMI.
Padahal dahulu daya tarik HMI justru terletak pada kemampuannya berbicara melampaui dirinya sendiri. HMI mendiskusikan Islam, negara, modernitas, demokrasi, pembangunan, keadilan sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan masa depan Indonesia.
Nama Nurcholish Madjid menjadi salah satu monumen intelektual dari tradisi itu. Terlepas dari setuju atau tidak terhadap seluruh pemikirannya, Cak Nur menunjukkan sesuatu yang sangat penting: seorang kader HMI dapat memproduksi gagasan yang perdebatan dan pengaruhnya melampaui pagar organisasi.
Persoalannya, setelah generasi itu, di mana gelombang besar pembaruan pemikiran HMI berikutnya?
Pertanyaan ini perlu diajukan secara serius.
Bukan berarti setelah Cak Nur tidak ada kader HMI yang menjadi intelektual. Banyak alumni HMI menjadi akademisi, ekonom, birokrat, politisi, pengusaha, ulama, dan profesional terkemuka. Tapi sebagai sebuah institusi produksi pengetahuan, sulit mengatakan bahwa HMI hari ini mempunyai daya pengaruh intelektual sebesar yang pernah dimilikinya.
Kita mungkin mengalami apa yang dapat disebut sebagai stagnasi epistemik: organisasi tetap hidup, kaderisasi berjalan, forum dilaksanakan, tetapi kemampuan menghasilkan paradigma baru semakin melemah.
Ironisnya, pada saat dunia mengalami perubahan luar biasa—artificial intelligence, disrupsi digital, perubahan geopolitik, krisis iklim, ketimpangan ekonomi, transformasi pasar kerja, hingga perubahan wajah keberagamaan—diskursus internal organisasi sering masih berkutat pada persoalan yang jauh lebih sempit.
Lebih menyedihkan lagi ketika forum-forum konstitusional HMI justru lebih dikenal publik karena keributan daripada gagasannya.
Kongres semestinya merupakan arena deliberasi intelektual tertinggi organisasi. Orang seharusnya menunggu Kongres HMI karena ingin mengetahui: gagasan apa yang akan ditawarkan HMI kepada Indonesia?
Tetapi ketika perhatian publik justru tersedot kepada konflik, kegaduhan, perebutan kekuasaan, atau tindakan yang tidak mencerminkan tradisi intelektual mahasiswa, maka yang terjadi bukan sekadar masalah teknis penyelenggaraan. Itu merupakan gejala krisis kultur organisasi.
Karena itu, menjelang Kongres HMI XXXIII di Lampung, pertanyaan terpenting menurut saya bukanlah: siapa yang akan menjadi Ketua Umum PB HMI.
Pertanyaan yang jauh lebih fundamental adalah: pemikiran apa yang akan lahir dari Kongres HMI?
Anggota HMI sebenarnya tidak kekurangan orang yang ingin menjadi ketua. Tapi HMI kekurangan figur organisasi yang mampu melahirkan pemikiran.
Dari Krisis HMI ke Krisis KAHMI
Persoalan ini tidak berhenti di HMI. Secara alamiah mengalir ke KAHMI.
KAHMI adalah rumah besar alumni HMI. Karena itu kualitas KAHMI dalam jangka panjang tidak mungkin sepenuhnya dipisahkan dari kualitas proses perkaderan HMI. Bila hulunya mengalami problem intelektual, hilirnya cepat atau lambat akan merasakan akibatnya.
Memasuki usia 60 tahun, KAHMI semestinya melakukan evaluasi yang jauh lebih serius daripada sekadar mengenang romantisme sejarah.
Pertanyaannya sederhana: apa kontribusi intelektual kolektif KAHMI terhadap Indonesia hari ini?
KAHMI mempunyai sumber daya yang luar biasa. Alumni HMI tersebar di perguruan tinggi, pemerintahan, parlemen, dunia usaha, lembaga negara, organisasi masyarakat sipil, media, dan hampir seluruh sektor strategis bangsa.
Dalam bahasa teori sosial, KAHMI memiliki social capital, intellectual capital, sekaligus political capital yang sangat besar.
Tetapi modal besar tidak otomatis menghasilkan pengaruh besar.
Jika KAHMI hanya menjadi ruang silaturahmi alumni, tempat bernostalgia tentang masa-masa menjadi aktivis, atau bahkan sekadar ruang konsolidasi kepentingan politik dan jabatan, maka KAHMI sedang melakukan reduksi terhadap potensi sejarahnya sendiri.
KAHMI seharusnya menjadi reservoir moral dan intelektual bangsa.
Ketika demokrasi mengalami masalah, KAHMI harus berbicara dengan argumentasi. Ketika ketimpangan ekonomi melebar, KAHMI harus menawarkan konsep. Ketika teknologi kecerdasan buatan mengubah struktur pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sosial, KAHMI harus mempunyai pemikiran. Ketika umat menghadapi konservatisme, ekstremisme ataupun banalitas keberagamaan, KAHMI harus menghadirkan diskursus Islam yang cerdas, terbuka, substantif, dan berkeadaban.
KAHMI tidak boleh sekadar menjadi organisasi yang memiliki banyak orang pintar. Tapi harus menjadi organisasi yang memproduksi kepintaran kolektif.
Itu dua hal yang berbeda.
Berhenti Membanggakan Masa Lalu
Saya kira salah satu penyakit organisasi besar adalah terlalu lama hidup dari kebanggaan sejarah.
Kita bangga HMI pernah melahirkan tokoh besar. Bangga terhadap Lafran Pane, Dahlan Ranuwiharjo, Deliar Noer sampai Cak Nur. Bangga terhadap banyak alumni yang menjadi menteri, gubernur, anggota parlemen, profesor, pengusaha, dan pemimpin berbagai institusi.
Tidak ada yang salah dengan kebanggaan itu.
Tetapi sejarah seharusnya menjadi modal, bukan tempat tinggal.
Pertanyaan sebuah organisasi bukan hanya siapa yang pernah dilahirkannya, melainkan siapa dan pemikiran apa yang sedang dilahirkannya hari ini.
Karena itu, 60 tahun KAHMI dan Kongres HMI XXXIII seharusnya menjadi momentum melakukan semacam intellectual reset.
HMI perlu mengembalikan membaca, menulis, riset, diskusi dan perdebatan gagasan sebagai prestise utama kader. Komisariat harus kembali menjadi laboratorium pemikiran. Cabang harus menjadi pusat diskursus persoalan daerah. Badko menjadi penghubung gagasan regional. PB HMI harus kembali berfungsi sebagai salah satu pusat produksi pemikiran mahasiswa Islam Indonesia.
KAHMI, pada sisi lain, harus menjadi ekosistem yang menopang semua itu. Kahmi membangun pusat studi, mendanai riset kader, menerbitkan jurnal dan buku, menciptakan forum pemikiran nasional, serta mempertemukan ilmuwan senior dengan kader muda.
Saya masih ingin percaya HMI dan Kahmi dapat melakukannya.
Tetapi waktu tidak menunggu.
Enam puluh tahun KAHMI seharusnya bukan hanya perayaan panjang umur. Tapi harus menjadi momentum untuk bertanya secara jujur kepada diri sendiri:
Apakah kita masih sebuah gerakan intelektual, atau tinggal sebuah jaringan sosial yang kebetulan mempunyai sejarah intelektual?
Dan menjelang Kongres HMI XXXIII di Lampung, saya ingin menitipkan satu pertanyaan kepada adik-adik saya di HMI:
Setelah spanduk kongres diturunkan, palu sidang diketukkan, dan Ketua Umum baru terpilih, pemikiran besar apa yang akan dibawa pulang untuk Indonesia?
Sebab kalau kongres hanya menghasilkan ketua, kita sebenarnya tidak memerlukan forum intelektual sebesar kongres. Cukup panitia pemilihan.
HMI dahulu diperhitungkan bukan karena gaduhnya, tetapi karena gagasannya.
Dan jika HMI ingin kembali diperhitungkan, barangkali jalan pulangnya juga sama:
kembali kepada ilmu, kembali kepada gagasan, dan kembali kepada keberanian berpikir.
Palu , 17 September 2026
(Editor: Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan