Di tengah kesibukannya sebagai pekerja di laboratorium PT IMIP, Meidi memilih alternatif lain dengan menanam selada. Tetapi yang sebenarnya sedang ia tanam jauh lebih besar dari sekadar sayuran. Ia sedang menanam kemandirian, membuka kemungkinan lapangan pekerjaan, dan mempersiapkan pilihan untuk masa depan

DI SATU TEMPAT, Meidi Yurianti Mangkasa terbiasa berhadapan dengan sampel, angka, dan hasil analisis. Di tempat lain, ia berhadapan dengan daun-daun selada yang tumbuh hijau dalam aliran air bernutrisi.

Dua dunia itu dijalani orang yang sama. Pada hari kerja, Meidi bekerja sebagai Analis Kimia dan Air pada Departemen Testing Center PT TTRI, salah satu tenant di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Di luar jam kerjanya, ia berpindah ke green house miliknya di Desa Makarti, Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah.

Di sana, seragam analis berganti dengan pakaian kerja seorang petani. Tangannya yang biasa menangani sampel di laboratorium, kini sibuk memeriksa tanaman, mengatur nutrisi, memastikan air mengalir dengan baik, hingga menyiapkan selada untuk pelanggan.

Ia menyebutnya Mey Farm Hidroponik. Bagi Meidi, green house itu bukan sekadar usaha sampingan. Di tengah kesibukan kawasan industri, tempat tersebut menjadi ruang untuk menanam harapan.

“Kalau mau untung lebih, memang harus korban waktu,” kata Meidi dalam rilis resmi Media Departmen PT IMIP, Sabtu, 26 September 2026.

Bermula dari Balkon Kos

Tidak ada rencana besar ketika Meidi pertama kali menanam tanaman. Semua bermula dari balkon tempat kosnya di Desa Labota. Ia membeli polibag, mencari tanah yang dianggap subur, kemudian mulai menanam berbagai jenis tanaman. Hasilnya sederhana. Sebagian tanaman dipanen untuk dimasak sendiri. Sebagian lainnya dibagikan kepada teman dan tetangga kos.

Namun, ada satu momen yang kemudian mengubah cara pandangnya. Suatu ketika, Meidi mengunggah selada hasil panennya ke media sosial. Seorang teman melihat unggahan tersebut dan tertarik membeli. Saat itu, satu tanaman selada dijual sekitar Rp5.000. Nilainya mungkin tidak besar. Tetapi dari transaksi kecil itu, muncul sebuah kesadaran: sesuatu yang awalnya hanya dilakukan sebagai hobi ternyata bisa menghasilkan uang.

Meidi kemudian mulai mencari tahu siapa yang membutuhkan selada di Bahodopi. Ia menemukan pasar yang cukup terbuka. Restoran, usaha burger dan kebab, frozen food, serta berbagai usaha kuliner membutuhkan sayuran segar.

Dari sana, tanaman di balkon kos perlahan berkembang menjadi sebuah usaha. Pada Maret 2023, Meidi mulai membangun green house dengan lebih serius. Dua bulan kemudian, Mei 2023, panen pertama dilakukan. Usaha itu kemudian diberi nama Mey Farm Hidroponik.

Belajar Menjadi Petani

Hidroponik membuat Meidi kembali berhadapan dengan angka. Bedanya, angka-angka itu kini menentukan pertumbuhan tanaman. Pada tahap pembibitan, tanaman mendapat konsentrasi nutrisi sekitar 500–600 ppm. Setelah sekitar 10 hari, tanaman dipindahkan ke tahap remaja dengan konsentrasi sekitar 800–900 ppm selama 17–20 hari. Berikutnya, tanaman masuk ke meja dewasa dengan konsentrasi sekitar 1.000–1.200 ppm hingga siap dipanen pada usia sekitar 40 hari.

Semua membutuhkan ketelitian. Pengalaman sebagai analis laboratorium ternyata membantu. Di laboratorium, kesalahan membaca angka dapat memengaruhi hasil analisis. Di green house, ketidaktepatan mengatur nutrisi, air, atau waktu juga dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman. Dunia yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: ketelitian.

“Kalau mau untung lebih, memang harus korban waktu,” kata Meidi.

Waktu itu ia bagi antara pekerjaan, keluarga, green house, pelanggan, dan media sosial. Setelah menyelesaikan pekerjaan utama, masih ada tanaman yang harus diperiksa. Ada pesanan yang harus disiapkan. Ada pula konten yang harus dibuat.

“Saya harus ngonten biar orang tahu saya jual selada,” ujarnya.

Ruang Hijau di Tengah Kawasan Industri

Mey Farm tumbuh di lingkungan yang identik dengan aktivitas industri. Bahodopi merupakan bagian dari kawasan yang berkembang seiring aktivitas industri pengolahan mineral nikel.

Meidi menyadari bahwa green house, miliknya bukan jawaban atas seluruh persoalan lingkungan di kawasan tersebut. Ia juga tidak ingin membesar-besarkan apa yang dilakukannya. Baginya, kontribusi bisa dimulai dari sesuatu yang kecil. Menanam, merawat, menghasilkan sayuran. Dan menciptakan ruang hijau di lingkungan tempat ia bekerja dan tinggal.

“Saya berharap hidroponik ini bisa menyumbangkan sedikit oksigen di kawasan industri IMIP, khususnya Bahodopi,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi alasan lain mengapa Meidi mempertahankan usahanya. Bukan hanya soal rupiah, tetapi juga tentang menghadirkan sesuatu yang hijau di tengah lingkungan yang dipenuhi aktivitas industri.

Menanam Masa Depan

Kini green house Meidi sedang diperluas. Targetnya meningkatkan kapasitas produksi selada. Lebih jauh lagi, ia ingin melibatkan masyarakat sekitar Bahodopi. Jika produksi semakin besar, ia berharap dapat merekrut tenaga kerja dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Ada alasan lain mengapa Meidi serius membangun usaha tersebut. Ia menyadari pekerjaan sebagai karyawan, tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang akan berlangsung selamanya. Karena itu, sumber penghasilan lain perlu disiapkan sejak sekarang. Hidroponik menjadi salah satu pilihannya.

Di sela kesibukan bekerja, green house juga menjadi ruang untuk melepas penat. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat benih kecil tumbuh, berkembang, kemudian berubah menjadi sayuran yang siap dipanen. Dari sana, Meidi belajar bahwa masa depan tidak selalu harus ditunggu. Kadang, masa depan harus ditanam dan dirawat sejak sekarang.

Dari Laboratorium ke Green House

Kisah Meidi bukan sekadar cerita seorang karyawan yang memiliki usaha sampingan. Ia menggunakan apa yang sudah dimilikinya untuk membangun pilihan baru. Ilmu kimia menjadi modal pengetahuan. Pekerjaan di laboratorium membentuk kebiasaan bekerja secara teliti. Hobi menanam menjadi pintu masuk. Media sosial menjadi alat pemasaran. Dan green house menjadi tempat semuanya bertemu.

Kini, selada dari Mey Farm mulai punya pelanggan. Salah satunya Eka Oktavia, pemilik Frozen Food Bahomakmur. Eka mengaku cukup sering memesan selada dari Mey Farm Hidroponik. Menurutnya, selada yang dihasilkan tidak pahit, ukurannya besar, dan harganya terjangkau, sekitar Rp10.000 per pohon.

“Kemasannya proper, bisa tahan hingga 10 hari dalam lemari pendingin,” kata Eka.

Bagi Meidi, penilaian pelanggan menjadi bagian penting dari perjalanan usahanya. Sebab, dari balkon kos yang sederhana, kini telah tumbuh sebuah usaha yang memiliki pelanggan, pasar, dan rencana pengembangan.

Di satu sisi, ia tetap menjadi analis yang bekerja dengan sampel dan angka. Di sisi lain, ia menjadi petani yang bekerja dengan air, nutrisi, cahaya, dan tanaman. Dua dunia itu kini berjalan beriringan.

Di tengah kesibukannya sebagai pekerja di laboratorium PT IMIP, Meidi memilih alternatif lain dengan menanam selada. Tetapi yang sebenarnya sedang ia tanam jauh lebih besar dari sekadar sayuran. Ia sedang menanam kemandirian, membuka kemungkinan lapangan pekerjaan, dan mempersiapkan pilihan untuk masa depan

Sebab, seperti tanaman yang dirawatnya, masa depan pun membutuhkan waktu untuk tumbuh. Dan Meidi memilih untuk memulainya hari ini. (*)

(Ruslan Sangadji)