Jumat, 12 April 2024

Menikmati Eksotis Danau Wanga di Lembah Napu

Bersampan di tengah Danau Wanga | Foto: Kaidah/Subarkah
Meniikmati jembatan apung di Danau Wanga | Foto: Kaidah/Subarkah

Tak hanya itu, jika memiliki keahlian mengayuh sampan atau perahu, silakan mencoba  mengitari dan menikmati pemandangan sembari naik perahu dan memancing juga tak kalah asyiknya. Semoga Anda berhasil mendapatkan ikan Gabus untuk dinikmati  bersama teman-teman, memasak nasi dan menyiapkan sambal rica-rica.

Wanga berasal dari kata Wa yang berarti kepala dan Nga yang diartikan sebagai burung belibis. Wanga berdiri sejak tahun 1923 ketika seorang bangsawan yang bernama Roro Manemba bersama pengikutnya pindah dari desa Watutau ke wanga.

Pada 1925 oleh Belanda, Wanga diresmikan menjadi sebuah desa yang kemudian diberi nama Desa Wanga. Di desa itu menjadi tempat kedudukan Magau Lore dan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Magau Kabo dengan seorang permaisuri Mpolite Abu.

Pada 1924 akibat likasi persawahan yang tidak lagi mencukupi karena pertambahan penduduk,  Magau Lore memindahkan sedikitnya 600 orang warga dari Desa Watutau ke Desa Wanga. Tahun 1928 dimulai pembukaan persawahan baru di Desa Wanga, dan pada 1930 berdirilah kantor Swapraja yang membawahi 3 Distrik yaitu, Distrik Napu/Pekurehua, Distrik Behoa dan Distrik Bada.

Untuk sampai ke Danau Wanga, dari Palu memerlukan waktu sekitar 3 jam dengan menggunakan mobil. *