PALU, KAIDAH.ID – Memasuki malam ke-17 Ramadhan, semangat berbagi di Jalan Wahid Hasyim, Palu Barat, Kota Palu, tidak menunjukkan tanda-tanda surut. Kegiatan Sahur Gratis Wahid Hasyim yang telah menjadi ikon kedermawanan di kota ini, tetap setia melayani warga mulai pukul 02.00 WITA hingga persediaan makanan habis Jepang adzan subuh.

Setiap malam, panitia menyiapkan sekitar 3.500 porsi makanan untuk masyarakat. Ribuan porsi tersebut disediakan, agar warga yang datang dapat menjalankan ibadah puasa dengan tenang tanpa harus memikirkan sahur.

MENU SAHUR VARIATIF DAN INKLUSIF

Untuk menjaga kualitas dan selera masyarakat, menu yang disajikan selalu berganti setiap malam. Panitia menyiapkan berbagai pilihan lauk seperti ayam, daging, telur, hingga ikan yang dilengkapi sayur-mayur segar.

Rahman, salah satu pelaksana kegiatan, mengatakan pihaknya berupaya memenuhi kebutuhan warga yang datang dengan cara yang fleksibel.

“Kami membagi makanan dalam berbagai model. Kami bahkan menyiapkan nasi putih khusus karena ada ibu-ibu yang memintanya secara spesifik. Ada ribuan bungkus yang siap dibawa pulang, dan kami juga menyediakan tempat bagi mereka yang ingin makan langsung di sini,” kata Rahman.

Ia juga menegaskan, kegiatan ini terbuka untuk siapa saja tanpa pengecualian.

“Kami tidak pernah bertanya makanan ini untuk siapa. Siapa pun silakan ambil. Keyakinan kami sederhana: siapa pun yang datang di waktu subuh, berarti mereka punya niat untuk berpuasa esok hari,” tambahnya.

WUJUD NYATA TOLERANSI DAN KOLABORASI

Menariknya, aksi sosial ini bukanlah gerakan baru. Sahur Gratis Wahid Hasyim telah berjalan selama kurang lebih 14 tahun, dan terus bertahan berkat semangat gotong royong para relawan.

Setiap malam, sekitar 40 hingga 50 relawan terlibat dalam kegiatan ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari mantan anggota geng motor, juru parkir, mahasiswa, Universitas Alkhairaat (UNISA) asal Kalimantan Utara, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama, hingga anggota Himpunan Pemuda Alkhairaat.

Keberagaman para relawan tersebut, justru menjadi kekuatan yang menjaga kegiatan ini tetap hidup hingga kini.

DONASI LINTAS AGAMA

Sisi humanis lain dari kegiatan ini, terlihat dari sumber pendanaannya yang datang dari berbagai kalangan, termasuk para donatur non-Muslim. Hal itu menjadikan Sahur Gratis Wahid Hasyim sebagai simbol nyata toleransi dan solidaritas sosial di Kota Palu.

“Sahur gratis ini untuk semua, tanpa melihat latar belakang agama. Bahkan ada mahasiswa non-Muslim yang datang makan di tempat, dan kami beri juga nasi bungkus untuk dibawa pulang,” tutup Rahman.

Selama lebih dari satu dekade, Sahur Gratis Wahid Hasyim bukan sekadar tempat berbagi makanan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam semangat kemanusiaan dan toleransi di bulan suci Ramadhan. (*)

(Ruslan Sangadji)