KABAR DUKA itu datang seperti angin yang pelan, namun meninggalkan kesunyian yang dalam. KH Adnan Arsal, sosok yang selama ini dikenal sebagai juru damai dari tanah Poso, berpulang ke Rahmatullah pada Jumat, 27 Maret 2026.

Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang tokoh agama. Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya Poso, ia adalah penenun harapan di tengah koyaknya kemanusiaan. Namanya telah lama hidup dalam ingatan kolektif sebagai sosok yang memilih jalan damai di saat banyak orang terjebak dalam lingkaran kekerasan.

Dalam buku Adnan Arsal Panglima Damai Poso karya Khoirul Anam, kisah tentang dirinya bukan sekadar biografi, melainkan potret keteguhan seorang manusia dalam menghadapi konflik yang nyaris meluluhlantakkan segalanya.

Ia pernah diberi julukan “panglima”. Namun, panglima dalam dirinya bukanlah tentang perang. Justru sebaliknya, ia berdiri di garis yang berbeda, menolak menjadikan kekerasan sebagai jalan keluar.

“Perang tak akan usai dengan ayunan parang, tetapi harus diselesaikan melalui dialog dengan hati yang lapang,” begitu salah satu pesan yang terekam dalam buku tersebut.

Di tengah bara konflik Poso yang berkepanjangan, Poso pernah menjadi saksi bagaimana manusia saling berhadapan dalam luka dan amarah. Namun, di tengah situasi itu pula, KH Adnan Arsal memilih menjadi salah satu jembatan, menghubungkan yang terputus, meredakan yang membara.

Ia tidak memimpin orang untuk menyerang. Jika pun ada perlawanan, itu semata untuk bertahan. Selebihnya, ia mengajak duduk bersama, membuka ruang dialog, dan mencari jalan keluar yang manusiawi.

Baginya, konflik hanya menyisakan kelelahan dan penyesalan.

“Konflik ini bikin kita semua lelah, frustrasi, habis semua,” pernah ia ungkapkan, menggambarkan betapa mahal harga yang harus dibayar dari sebuah pertikaian.

Karena itu, ia tak pernah lelah menyerukan satu hal sederhana, namun sering diabaikan: dialog.

“Utamakan dialog. Konflik di masyarakat pasti bisa didialogkan. Selesaikan semuanya dengan damai, tak perlu lakukan kekerasan. Itu tidak akan menyelesaikan konflik,” pesannya.

Kini, suara itu telah diam. Namun jejaknya tetap hidup dalam ingatan, dalam nilai, dan dalam harapan akan Poso yang terus menjaga damai.

Perginya KH Adnan Arsal seakan mengingatkan, bahwa di tengah dunia yang sering gaduh, selalu ada sosok-sosok yang bekerja dalam sunyi, menyatukan yang tercerai, menyembuhkan yang terluka.

Dan mungkin, itulah warisan terbesarnya: keyakinan bahwa damai, seberapapun sulitnya, selalu layak diperjuangkan. (*)

(Ruslan Sangadji)