Di sebuah sudut terpencil di Desa Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, ada pemandangan yang selama ini membuat banyak orang tercekat. Setiap pagi, anak-anak berseragam merah putih harus menggulung celana mereka, menggenggam erat tas sekolah, lalu berjalan menyeberangi sungai demi sampai ke ruang kelas. Sungai itu bukan sekadar aliran air. Bagi mereka, sungai itu adalah batas antara harapan dan risiko.
Saat musim hujan datang, kecemasan ikut membesar. Arus sungai berubah liar. Air meninggi dan membawa ancaman yang tak pernah bisa ditebak. Anak-anak tetap berangkat sekolah, tetapi rasa takut selalu mengintai. Tak jarang mereka harus bertahan di sekolah hingga malam karena banjir membuat mereka tak bisa pulang. Di ruang kelas sederhana itu, mereka menunggu air surut sambil menahan rindu kepada orang tua di rumah.
“Anak-anak tidak bisa bertemu orang tua mereka di hari itu jika banjir. Akhirnya mereka bermalam di sekolah,” tutur guru SD Bainaa Barat, Muh. Najib, dalam rekaman video yang dibagikan Wakil Ketua MPR RI Abcandra M. Akbar Supratman kepada Kaidah.ID, Jumat petang, 22 Mei 2026.
CERITA ITU PERLAHAN BERUBAH
Namun kini, cerita itu perlahan berubah. Di tepian sungai yang dulu menjadi simbol kecemasan, bunyi cangkul, sekop dan kerja gotong royong mulai terdengar. Sebuah jembatan penyeberangan tengah dibangun. Personel TNI Angkatan Darat bersama warga tampak bahu membahu menggali fondasi, memasang tali jembatan, dan menyiapkan akses aman bagi para pelajar yang selama ini mempertaruhkan keselamatan demi pendidikan.
“Alhamdulillah jembatan untuk siswa kami sudah dibangun,” kata Najib dengan nada lega. Kalimat singkat itu terasa seperti pelepasan panjang dari rasa cemas yang bertahun-tahun dipendam para guru dan orang tua.
Dalam dokumentasi video yang beredar, wajah-wajah polos anak-anak SD Bainaa Barat kembali terlihat. Bedanya, kali ini ada harapan yang tumbuh di mata mereka. Mereka tak lagi hanya membayangkan perjalanan sekolah tanpa arus deras, tetapi mulai percaya bahwa mimpi itu benar-benar akan menjadi kenyataan.
JALAN MENUJU RASA AMAN
Bagi warga Bainaa Barat, jembatan itu bukan hanya infrastruktur. Jembatan itu adalah jalan menuju rasa aman. Jembatan itu juga menjadi tanda, bahwa mereka tidak lagi sendiri di pelosok yang jauh dari pusat perhatian.
Kadir, salah seorang warga, bahkan tak mampu menyembunyikan rasa harunya, saat menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto, kepada Wakil Ketua MPR RI Abcandra M. Akbar Supratman, Kepala Staf Angkatan Darat Maruli Simanjuntak, Pangdam Palaka Wira Mayor Jenderal TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar, serta seluruh pihak yang membantu pembangunan jembatan tersebut.
BUKTI KEHADIRAN NEGARA
Abcandra mengatakan, pembangunan jembatan itu menjadi bukti, bahwa negara hadir untuk mendengar suara masyarakat di daerah terpencil. Menurutnya, apa yang dialami anak-anak Bainaa Barat tidak boleh dianggap biasa, sebab pendidikan adalah hak setiap anak Indonesia tanpa terkecuali.
Ia mengaku tersentuh, ketika melihat langsung perjuangan para siswa yang harus berjalan menyeberangi sungai demi bisa belajar di sekolah. Baginya, keberanian anak-anak itu, adalah cermin semangat besar yang harus dijawab dengan tindakan nyata dari pemerintah.
“Ini bukan sekadar pembangunan jembatan. Ini adalah penghubung harapan dan masa depan anak-anak kita,” ujar Abcandra.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan jajaran TNI yang bergerak cepat membantu proses pembangunan akses penyeberangan tersebut.
Di tengah semangat gotong royong itu, pembangunan jembatan di Bainaa Barat menjadi simbol, bahwa perhatian terhadap daerah terpencil tidak boleh berhenti pada rasa iba semata. Harus ada langkah nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sebab di balik kayu, tali, dan fondasi yang kini berdiri di atas sungai itu, tersimpan impian sederhana para siswa: pergi ke sekolah tanpa rasa takut. (*)

Tinggalkan Balasan