Oleh: Salihudin ( Penulis Buku “Menata Kota, Menyusun Harapan: Kisah Inspiratif dari Palu”).

SEKITAR pukul 06.20 WITA, Ema berangkat ke tempatnya bekerja. Pakaiannya dibalut jas hujan agar tidak basah. Akhir-akhir ini Morowali memang sering hujan, baik pagi, sore, maupun malam. Hujan seperti menjadi bagian dari ritme baru kawasan industri: pekerja tetap bergerak, kendaraan tetap padat, dan kehidupan ekonomi tetap menyala.

Tidak berapa lama, Ema mengirim WA. Isinya daftar menu pada sebuah warung makan.

“Nnti malam makan d sini kita. Kitaa plih apaa mau kita makan biar d pesan memang,” tulisnya dengan banyak typo.

Pesan itu adalah biasa. Tetapi kalau dibaca maknanya lebih dalam, ia sedang menceritakan sesuatu yang besar. Bahwa di sekitar IMIP, ekonomi kecil sedang hidup. Warung makan, kos-kosan, laundry, bengkel, kios, barbershop, ojek, sampai rumah makan semi permanen tumbuh mengikuti arus pekerja.

Puluhan ribu orang seperti Ema, setiap hari makan, minum, mencuci pakaian, menyewa kamar, gunting rambut dan memakai jasa lain dari masyarakat sekitar.

Di sinilah IMIP terlihat bukan hanya sebagai kawasan industri, tetapi juga sebagai mesin penggerak ekonomi harian. Hingga akhir 2025, investasi IMIP disebut mencapai sekitar Rp696,91 triliun. Perusahaan yang beroperasi di kawasan itu sekitar 52 perusahaan.

Angka ini besar. Sangat besar. Tidak heran kalau Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi, yakni 8,47 persen pada 2025 dan masih tumbuh sekitar 8,32 persen pada Triwulan I-2026. Ekspor Sulteng sepanjang 2025,juga mencapai sekitar 22,316 miliar dolar AS, terutama dari besi, baja, nikel, dan produk turunannya.


Namun di balik angka yang berkilau itu, ada pertanyaan penting: apakah pertumbuhan ini menyebar ke kawasan sekitar?

Apakah Poso ikut terangkat? Apakah Tojo Una-Una ikut naik? Apakah Banggai, Donggala, Sigi, dan wilayah lain benar-benar masuk ke dalam denyut ekonomi IMIP?

Berdasarkan riset sederhana, jawabannya belum terlalu terlihat. PDRB per kapita Morowali pada 2025 mencapai sekitar Rp1,073 miliar. Tetapi angka itu jauh meninggalkan daerah sekitar. Morowali sekitar 3,7 kali lebih tinggi dari Morowali Utara, 9,2 kali Banggai, 19,9 kali Poso, dan sekitar 23 kali Tojo Una-Una.

Di sinilah muncul fenomena enclave growth. Artinya ada satu kawasan yang tumbuh sangat cepat, sangat terang, dan sangat ramai. Namun pertumbuhan itu belum sepenuhnya mengalir ke wilayah sekitarnya. Seperti ada lampu besar menyala di satu titik, tetapi cahaya lampu itu belum cukup jauh menerangi kampung-kampung di sekelilingnya.

Dalam enclave growth, ekonomi memang bergerak, tetapi pusat geraknya sempit. Pabrik besar hidup. Ekspor naik. Investasi masuk. Pekerja berdatangan. Tetapi petani sekitar belum tentu menjadi pemasok pangan utama. Nelayan belum tentu masuk ke rantai kebutuhan industri. UMKM lokal belum tentu menjadi vendor. Daerah tetangga belum tentu ikut menikmati nilai tambah secara proporsional.

Warung tempat Ema memesan makan malam adalah tanda bahwa ekonomi rakyat ikut bergerak. Tetapi agar pertumbuhan tidak berhenti di warung dan kos-kosan saja, daerah sekitar perlu masuk ke rantai pasok yang lebih besar. Pangan, logistik, perbengkelan, transportasi, pelatihan tenaga kerja, dan jasa pendukung industri harus nyambung dengan sebuah jembatan.

Jembatan itu bisa berupa kontrak pembelian hasil pertanian dari Poso, Tojo Una-Una, Morowali Utara, Banggai, Sigi, atau Donggala untuk kebutuhan dapur pekerja. Bisa juga berupa pelatihan tenaga kerja lokal, agar anak-anak muda sekitar tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa masuk sebagai teknisi, operator, sopir alat berat, tenaga K3, mekanik, atau pekerja terampil lainnya.

Jembatan itu juga bisa berbentuk pendampingan UMKM agar warung kecil naik menjadi katering, bengkel kecil naik menjadi rekanan perawatan kendaraan, Bumdes menjadi pemasok bahan pangan, dan pengusaha lokal masuk dalam jasa transportasi, laundry, logistik, serta penyedia kebutuhan harian industri.

Jadi jembatan berarti membuka jalan, agar ekonomi besar di dalam kawasan IMIP tersambung dengan ekonomi kecil di luar pagar industri. (*)

Bersambung…

(Editor: Ruslan Sangadji)