Oleh: Salihudin ( Penulis Buku “Menata Kota, Menyusun Harapan: Kisah Inspiratif dari Palu”).

WARUNG PANGKEP di Jalan Trans Sulawesi Bahodopi, duduk tiga orang menunggu makan siang. Mereka bersebelahan dengan meja saya. Sambil menunggu ikan bakar dan sop saudara datang, saya ajak mereka berbincang. “Saya Rusdi dari Bone. Teman saya ini dari Kendari dan Jawa”, memperkenalkan diri. Mereka bekerja di salah satu perusahaan di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Mereka baru sekitar 2 tahun di situ.

Dari segi sosiologi fenomena inilah yang paling menarik. Di warung makan, di jalan, di kos-kosan, di bengkel, di halte pekerja, kita bisa mendengar banyak logat bertemu dalam satu ruang.

Ada logat Bungku. Ada Bugis. Ada Makassar. Ada Jawa. Ada Kendari. Ada Toraja. Ada Palu. Ada Luwuk. Ada juga pekerja asing dengan bahasa yang berbeda sama sekali.

Morowali menjadi tempat pertemuan manusia dari banyak arah, atau yang biasa disebut melting pot.


Industri besar selalu menarik migrasi. Orang datang karena pekerjaan. Ada yang datang dengan ijazah. Ada yang datang dengan keterampilan. Ada pula yang datang hanya bermodal keberanian dan teman orang dalam. Mereka meninggalkan kampung halaman, keluarga, kebiasaan lama, lalu masuk ke dunia kerja yang baru.

Data IMIP menunjukkan besarnya arus ini. Per Januari 2026, pekerja Indonesia di kawasan IMIP mencapai sekitar 89.849 orang. Dari jumlah itu, 82.637 orang atau sekitar 92 persen berasal dari Sulawesi. Pekerja asal Sulawesi Tengah sekitar 26.935 orang, sementara pekerja lokal Morowali sekitar 14.613 orang. Artinya, IMIP memang menyerap banyak tenaga kerja, tetapi juga menjadi magnet besar bagi pendatang dari luar Morowali.


Migrasi ini membawa energi baru. Warung menjadi ramai. Rumah kontrakan laku. Jalan hidup. Pasar bergerak. Uang berputar lebih cepat dan lebih banyak. Anak-anak muda yang dulu mungkin sulit mencari pekerjaan kini punya pilihan baru.

Tetapi migrasi besar-besaran juga membawa pertanyaan sosial. Bagaimana hubungan antara warga lokal dan pendatang? Bagaimana rasa kepemilikan masyarakat lokal terhadap ruang hidupnya? Apakah mereka merasa ikut menjadi bagian dari pertumbuhan, atau justru merasa tersisih di tanah sendiri?


Ini penting, karena dalam setiap kawasan industri, konflik sosial sering bukan dimulai dari hal besar. Kadang muncul dari hal kecil. Misalnya perbedaan gaya hidup, perbedaan bahasa, rebutan ruang usaha, kenaikan harga sewa, atau rasa tidak adil dalam kesempatan kerja.

Masyarakat lokal hidup dengan ingatan panjang tentang tanah, laut, kebun, keluarga, dan adat. Pendatang hadir dengan kebutuhan kerja, uang, tempat tinggal, dan mobilitas. Keduanya bisa saling memperkaya. Tetapi bisa juga saling mencurigai jika tidak ada jembatan sosial.

Karena itu, IMIP tidak hanya membutuhkan infrastruktur fisik seperti jalan, listrik, pelabuhan, dan pabrik. Tapi juga membutuhkan infrastruktur sosial seperti ruang perjumpaan sosial.

Saya diajak Ema melewati sebuah taman. Bahomakmur Park namanya. Di sinilah melting pot, di sinilah tempatnya orang olahraga, jogging dan ketemu pada hari libur.

“Taman ini mirip seperti Watulemo di Palu sebelum dipugar”, jelas Ema menjelaskan dengan semangat.

Seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan Kawasan IMIP, pemerintah memang harus membangun pusat- pusat interaksi sosial baru. Pemerintah bersama perusahaan, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan organisasi lokal juga perlu menjadi penenun hubungan.

Morowali kini bukan lagi ruang yang dihuni satu kisah. Namun telah menjadi rumah bagi banyak kisah. Ketika manusia dari berbagai penjuru bertemu, budaya pun mulai bergerak.

Bersambung……

(Editor: Ruslan Sangadji)