Oleh: Ruslan T. Sangadji / Kaidah.ID

Apa yang telah Allah takar dan tetapkan untuk seseorang, tidak akan pernah tertukar. Sebesar apa pun ikhtiar kita, secermat apa pun rencana yang kita susun, rezeki akan tetap datang kepada pemiliknya.

Kamis pagi, 9 Juli 2026. Telepon genggam saya bergetar. Sebuah pesan di grup KAHMI dari Kanda Salihudin membuat saya seketika terdiam.

“Assalamualaikum… Berita duka. Telah berpulang ke rahmatullah H. As’ad Dg Matantu (Imam Masjid At-Taqwa) subuh tadi setelah melaksanakan salat Subuh di Masjid Taqwa.”


Saya membaca pesan itu berulang-ulang. Sulit mempercayainya.

Rasanya baru kemarin kami masih bertemu, bercanda, dan berbincang. Ternyata Allah telah memanggilnya pulang.

Pertemuan terakhir kami terjadi sekitar tiga tahun lalu, sebelum saya hijrah ke Bogor. Hari itu, kami sama-sama menunaikan Shalat Jumat di Masjid Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah. Seperti biasa, As’ad Dg Matantu menjadi khatib sekaligus imam.

Seusai shalat, kami tidak langsung berpisah. Kami duduk berbincang cukup lama hingga tanpa terasa waktu menunjukkan hampir pukul dua siang.

Di sela percakapan, As’ad Dg Matantu berbicara dengan nada yang hingga kini masih terngiang di telinga saya.

“Ustadz Ruslan, sudah lama tidak ceramah dan khutbah lagi di Masjid Taqwa. Kalau tidak salah terakhir ceramah Tarawih tahun lalu. Saya akan jadwalkan lagi, Ustadz. Jamaah selalu bertanya-tanya kapan Ustadz Ruslan kembali mengisi di Masjid Taqwa.”

Saya hanya tersenyum mendengarnya dan mengiyakan keinginannya.

Siapa sangka, percakapan yang hangat siang itu ternyata menjadi pertemuan terakhir kami.

Kini, kabar yang datang justru tentang kepulangannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebuah akhir kehidupan yang begitu indah. Setelah bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai imam, Allah memanggilnya seusai mengimami salat Subuh dan berzikir di rumah-Nya.

Ustadz Haji As’ad usai mengimami Shalat Subuh di Masjid Taqwa, Ujuna, Palu, Kamis, 9 Juli 2026 | Foto: tangkapan layar CCTV

Bagi masyarakat Ujuna, As’ad dikenal sebagai Imam Masjid Taqwa. Namun bagi saya, ia bukan sekadar imam. Ia adalah adik kelas, sahabat, sekaligus teman seperjalanan yang telah saya kenal sejak masa muda.

Kedekatan kami berawal dari lingkungan yang sama.

Saya pernah tinggal di sebuah rumah kos di Jalan Sungai Lambangan, Ujuna. Bahkan dalam satu fase kehidupan, saya pernah tinggal di kubah Masjid Taqwa Ujuna. Di masjid itulah kami bersama-sama membersihkan lantai, merapikan halaman, dan merawat rumah Allah dengan segala kesederhanaan yang kami miliki.

Kenangan itu mungkin tampak sederhana. Namun justru dari situlah banyak pelajaran hidup kami peroleh.

Saat itu As’ad masih berstatus anak sekolah. Ia adik kelas saya di Alkhairaat. Kami sama-sama menjadi jamaah ayahandanya, almarhum KH Abdul Halim Dg. Matantu, ulama kharismatik yang sangat dihormati masyarakat Ujuna dan di Palu.

Dari beliau kami belajar mengaji, belajar adab, dan belajar mencintai Al-Qur’an.

Kami menjadi makmum beliau. Kami juga sering diajak membaca Barzanji dari rumah ke rumah warga di Ujuna. Malam-malam kami dipenuhi lantunan Al-Qur’an, doa, dan kebersamaan yang kini tinggal menjadi kenangan indah.

Barangkali saat itu kami tidak pernah membayangkan ke mana Allah akan membawa perjalanan hidup kami.

As’ad kemudian melanjutkan jejak ayahnya sebagai Imam Masjid Taqwa. Amanah itu dijalaninya dengan tenang, rendah hati, dan penuh keikhlasan. Ia tidak hanya mewarisi posisi ayahnya, tetapi juga mewarisi keteladanan dan kecintaan kepada umat.

Setiap kali mengenang As’ad, ada satu kisah yang selalu membuat saya tersenyum.

Peristiwa itu terjadi ketika kami sama-sama dipercaya menjadi dewan hakim Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di Tolitoli.

Dalam sambutan pembukaan, Bupati Tolitoli saat itu, Ale Bantilan, mengumumkan bahwa juara pertama akan diberangkatkan umrah. Bahkan putra beliau juga akan memberikan hadiah umrah.

Mendengar pengumuman itu, tiba-tiba muncul sebuah ide di kepala saya.

Saya mendekati Gubernur Sulawesi Tengah saat itu, Longki Djanggola, lalu berbisik:

“Pak, jangan mau kalah sama Pak Bupati. Bapak juga kasih hadiah umrah untuk dewan hakim tertua dan termuda.”

Usul itu rupanya disambut baik. Ajudan gubernur langsung bergerak mencari data para dewan hakim.

Siapa yang paling tua.

Siapa yang paling muda.

Sementara saya diam-diam mulai berharap.

Dalam hati saya begitu yakin bahwa dewan hakim termuda adalah saya.

Harapan itu ternyata hanya bertahan beberapa menit.

Ketika nama penerima hadiah diumumkan, dewan hakim tertua yang mendapat hadiah umrah adalah KH Abdul Halim Dg. Matantu.

Sedangkan dewan hakim termuda…

As’ad Dg. Matantu.

Saya hanya bisa tertawa.

Ternyata saya terlalu percaya diri. Rupanya masih ada yang lebih muda daripada saya. Jadilah ayah dan anak yang diberangkatkan umrah oleh Gubernur Longki Djanggola.

Yang lebih menggelikan lagi, seusai acara pembukaan Pak Longki menghampiri saya sambil tertawa lepas. Beliau rupanya tahu siapa penggagas hadiah umrah itu. Beliau juga paham bahwa saya diam-diam berharap menjadi salah satu penerimanya.

Usulan saya berhasil.

Hadiahnya benar-benar ada.

Hanya saja, rezekinya bukan untuk saya.

Hari ini, ketika mengenang kepergian As’ad, kisah itu kembali terlintas di benak saya. Dulu kami menertawakannya bersama. Kini saya mengenangnya dengan senyum yang dibalut rasa kehilangan.

Peristiwa itu mengajarkan satu pelajaran yang dari Abang Guru saya yang membuat saya semakin yakin: Rezeki memang tidak pernah salah alamat.

Apa yang telah Allah takar dan tetapkan untuk seseorang, tidak akan pernah tertukar. Sebesar apa pun ikhtiar kita, secermat apa pun rencana yang kita susun, rezeki akan tetap datang kepada pemiliknya.

As’ad memperoleh hadiah umrah itu, karena memang telah Allah takdirkan untuknya.

Dan pada akhirnya, Allah juga menganugerahkan kepadanya husnul khatimah yang menjadi dambaan setiap muslim: menghembuskan napas terakhir setelah mengimami salat Subuh di rumah-Nya.

Selamat jalan, adikku, As’ad Dg Matantu.

Terima kasih atas persahabatan, keteladanan, dan semua kenangan yang pernah kita rajut bersama.

Suaramu mungkin telah berhenti memimpin jamaah. Namun jejak pengabdianmu akan tetap hidup di hati orang-orang yang pernah mengenalmu.

Allah Subhanahu Wata’ala  pasti menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik bersama para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin
Innalillahi wainna ilaihi raji’un