Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan teknologi agar sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan nilai tambah bagi industri nasional

JAKARTA, KAIDAH.ID – Peneliti Pusat Riset Metalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Setiawan, mengembangkan inovasi teknologi pengolahan bijih nikel yang lebih efisien, fleksibel, dan ramah lingkungan. Teknologi tersebut mampu mengoptimalkan pemanfaatan hingga 98 persen material yang terkandung dalam bijih nikel sehingga dapat menekan limbah sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral.

Inovasi tersebut juga telah menghasilkan sekitar lima paten yang berkaitan dengan proses pengolahan nikel yang dikembangkan oleh tim Pusat Riset Metalurgi BRIN.

“Bijih nikel umumnya hanya mengandung sekitar 1–2 persen nikel. Artinya, lebih dari 98 persen material lainnya berpotensi menjadi limbah apabila tidak dimanfaatkan. Oleh karena itu, metode pengolahan apa pun harus mampu mengoptimalkan pemanfaatan seluruh komponen yang terkandung di dalam bijih,” kata Iwan Setiawan yang dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis, 9 Juli 2026.

Mampu Olah Saprolit dan Limonit Sekaligus

Iwan menjelaskan, teknologi pengolahan nikel yang saat ini banyak digunakan umumnya hanya mampu mengolah satu jenis bijih, yakni saprolit atau limonit. Kondisi tersebut membuat proses pengolahan menjadi kurang fleksibel dan menghasilkan limbah dalam jumlah besar karena kadar nikel di dalam bijih relatif rendah.

Teknologi yang dikembangkan BRIN menawarkan pendekatan berbeda. Melalui modifikasi proses Caron yang disesuaikan dengan karakteristik cadangan nikel Indonesia, teknologi ini mampu mengolah dua jenis bijih sekaligus, yaitu saprolit dan limonit.

Menurut Iwan, inovasi tersebut hadir untuk menjawab tantangan perubahan kualitas cadangan nikel yang semakin beragam.

“Cadangan nikel terus berubah, kualitas bijih juga semakin beragam. Karena itu diperlukan teknologi baru yang lebih adaptif terhadap karakteristik bijih yang tersedia,” katanya.

Menekan Energi dan Meminimalkan Limbah

Selain fleksibel dalam mengolah berbagai jenis bijih, teknologi ini juga dirancang untuk mengurangi konsumsi energi dibandingkan proses pirometalurgi konvensional.

Keunggulan lainnya adalah pemanfaatan unsur-unsur lain yang selama ini belum dimaksimalkan. Dalam proses tersebut, tidak hanya nikel yang dipisahkan, tetapi juga besi dan magnesium.

Besi dapat diolah menjadi Fe2O3 yang dimanfaatkan sebagai pigmen maupun diubah menjadi besi oksalat untuk bahan baku baterai. Sementara itu, magnesium diproses menjadi senyawa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan industri.

“Prinsipnya adalah tidak ada sumber daya yang terbuang. Nikel, besi, dan magnesium semuanya diupayakan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sehingga limbah dapat ditekan seminimal mungkin,” ujar Iwan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep efisiensi sumber daya dan ekonomi sirkular yang kini menjadi arah pengembangan industri mineral di berbagai negara.

Sudah Diuji hingga Skala Semi-Pilot

Pengembangan teknologi pengolahan nikel tersebut telah mencapai tahap laboratorium dan semi-pilot. Tim peneliti berhasil melakukan pengujian proses dalam kapasitas puluhan hingga ratusan kilogram sebagai pembuktian awal kelayakan teknologi.

Meski demikian, Iwan menilai tahapan selanjutnya yang menjadi tantangan adalah pembangunan fasilitas pilot plant berskala lebih besar guna memvalidasi aspek teknis dan keekonomian sebelum diterapkan di industri.

“Pada skala laboratorium hasilnya sudah sangat baik. Tahap berikutnya adalah meningkatkan skala proses melalui pilot plant sehingga dapat dibuktikan kelayakan ekonominya untuk kebutuhan industri,” ungkapnya.

Dorong Hilirisasi dan Kemandirian Industri Nasional

Sebagai negara yang memiliki cadangan mineral melimpah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan teknologi pengolahan mineral hasil riset dalam negeri.

Iwan menegaskan, riset metalurgi memiliki peran strategis dalam mendukung kemandirian industri nasional. Tidak hanya untuk komoditas nikel, tetapi juga berbagai logam strategis lainnya seperti titanium, logam tanah jarang, hingga kelompok logam platina.

“Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan teknologi agar sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan nilai tambah bagi industri nasional,” tandasnya. (*)

(Ruslan Sangadji)