Presiden: Ekonomi Indonesia Akan Berat

  • Bagikan
Ilustrasi | Pixabay.com

JAKARTA – Sejumlah purnawirawan TNI dan Polri, Jumat 19 Juni 2020 bertemu Presiden Joko Widodo di di Istana Bogor.

Mereka yang hadir itu Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno, Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Saiful Sulun, Wakil Ketua Umum LVRI Bantu Hardjijo, Sekretaris Jenderal LVRI FX Soejitno, Ketua Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Udara Djoko Suyanto, dan Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Purnawirawan TNI-Polri Soekarno.

Hadir pula Ketua Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat Kiki Syahnakri, Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat Toni Hartono, Forum Komunikasi Purnawirawan TNI-Polri Bambang Darmono, Ketua Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Laut Ade Supandi, dan Ketua Persatuan Purnawirawan Polri Bambang Hendarso Danoeri.

Sedangkan Presiden Joko WIdodo didampingi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Kapolri Jenderal Idham Azis.

Pada pertemuan itu, Presiden Joko Widodo mengatakan, ekonomi Indonesia akan berat, khusunya di kuartal II tahun 2020 ini.  Presiden mengaku harus bicara apa adanya, tanpa menutupinya.

“Di kuartal kedua ini kita akan minus 3 sampai 3,8 persen. Begitu perkiraannya,” kata Presiden Jokowi seperti dikutip dari Setkab.go.id.

Presiden mengatakan, kondisi saat ini lebih berat dari krisis ekonomi tahun 1998, yang hanya berdampak  pada sektor perbankan dan konglomerat besar. Tetapi di masa pandemi Covid-19,  semua sektor turut terdampak.

“Pemerintah telah menyiapkan stimulus bantuan sosial yang sudah mulai diberikan kepada masyarakat dalam 1,5 bulan ini,” kata Presiden Joko Widodo.

“Produksi terdampak, suplai terdampak, demand terkena. Usaha mikro terkena, usaha kecil terkena, usaha menengah terkena, usaha besar terkena. Semuanya terkena,” kata Presiden sembari menambahkan, kondisi ekonomi yang sulit ini dialami hampir semua negara.

Data Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang diterima Presiden, pertumbuhan ekonomi berbagai negara di dunia pun akan turun. Lembaga-lembaga dunia tersebut memprediksi pertumbuhan ekonomi di negara-negara Eropa pada tahun ini akan minus 9-12 persen.

Australia diprediksi minus 6,8 persen, Jepang minus 5,2 persen, Amerika Serikat minus 6,6 persen, Malaysia minus 3,5 persen, dan Singapura minus 5 persen.

Lembaga-lembaga dunia itu, kata Presiden, mengategorikan Indonesia berada pada pertumbuhan positif. Seperti Bank Dunia menyampaikan bahwa nanti di negara-negara G20 itu yang positif hanya tiga, China +1,9 persen, India +1,2 persen, Indonesia +0,5 persen.

Pemerintah, kata Preisden, tidak tinggal diam atas kondisi ekonomi yang sulit ini. Pemerintah memastikan ekonomi rakyat terbantu dengan memberikan bantuan sosial.

“Pemerintah telah menyiapkan stimulus bantuan sosial yang sudah mulai diberikan kepada masyarakat dalam 1,5 bulan ini,” tandas Presiden Joko Widodo. *

  • Bagikan