PALU, KAIDAH.ID – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Profesor Lukman Thahir, menegaskan, penanganan mantan narapidana teroris (eks-Napiter), tidak cukup hanya dengan pembebasan secara fisik, tetapi juga harus diikuti dengan pemberdayaan, agar mereka terbebas dari jeratan ideologi ekstrem.

“UIN Datokarama selama ini telah fokus dalam pencegahan radikalisme dengan pendekatan moderasi beragama. Namun hal ini tidak cukup, melainkan harus diikutkan dengan pemberdayaan secara langsung dan berkesinambungan terhadap eks-Narapidana teroris,” jelas Profesor Lukman Thahir, Ahad,8 Maret 2026.

Menurut Rektor Prof Lukman, kemandirian ekonomi dan penguatan spiritual, menjadi faktor penting agar para eks-Napiter dapat kembali menjalani kehidupan secara normal di tengah masyarakat.

“Kita tidak ingin mereka, para eks-Napiter, hanya bebas secara fisik, tapi juga bebas dari jeratan ideologi ekstrem, karena merasa tidak punya masa depan. Dengan kemandirian ekonomi, martabat mereka pulih,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Lukman Thahir dalam pembahasan kerja sama antara UIN Datokarama dan Kementerian Sosial Republik Indonesia, terkait pemberdayaan mantan narapidana teroris.

Dalam pertemuan tersebut, kedua institusi sepakat menyusun naskah Memorandum of Understanding (MoU), tentang penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang akan diikuti dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS), mengenai pemberdayaan sosial bagi bekas warga binaan pemasyarakatan terorisme, melalui implementasi tri dharma perguruan tinggi.

Ruang lingkup kerja sama mencakup dukungan rehabilitasi sosial, pemberdayaan sosial, bimbingan spiritual, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pertukaran data dan informasi.

Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang Kementerian Sosial, Rachmat Koesnadi, menyampaikan apresiasi atas antusias UIN Datokarama Palu, dalam membahas draf kerja sama tersebut.

Ia menjelaskan, kerja sama tersebut juga mencakup pembinaan, pengembangan, serta pendampingan program sekolah rakyat. Di Sulawesi Tengah sendiri, terdapat tiga sekolah rakyat, salah satunya berada di Sentra Nipotowe di Kabupaten Sigi.

“Ini semua membutuhkan penguatan mental dan spiritual. Hal ini menjadi gawean UIN Datokarama, sementara untuk penguatan sosial menjadi gawean Kemensos,” ucapnya.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Sosial Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishak Zubaedi Raqib, menyatakan UIN Datokarama menjadi perguruan tinggi pertama di Sulawesi Tengah, yang akan bekerja sama dengan Kementerian Sosial dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

“Ini bukan pertama kali Kemensos melakukan kolaborasi dengan perguruan tinggi. Kami berharap UIN Datokarama dapat menjadi leader dalam hal penanganan dan pemberdayaan di Sulawesi Tengah,” katanya.

Pertemuan pembahasan kerja sama tersebut turut dihadiri tim Kementerian Sosial yang terdiri dari Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang Rachmat Koesnadi, Staf Khusus Menteri Sosial Ishak Zubaedi Raqib, perwakilan Biro Perencanaan dan Biro Hukum Kemensos, Kepala Sentra Nipotowe Kemensos Diah Rini Lesnawati, serta Tenaga Ahli Menteri Sosial Syamsuddin Pay. (*)

(Ruslan Sangadji)