Kemudian penaklukan Arab. Bahasa Arab datang bukan hanya sebagai bahasa penguasa baru, tetapi sebagai bahasa Tuhan. Selama dua abad, bahasa Persia nyaris terhapus dari ranah sastra dan administrasi. Namun, seperti yang dikisahkan dalam cerita-cerita, “Bahasa Arab tidak dapat menjangkau ke dalam rumah-rumah.” Ketika Dinasti Samaniyah memutuskan untuk menghidupkan kembali bahasa Persia, dan Ferdowsi menghabiskan 30 tahun menulis Shahnameh (Kitab Para Raja) dengan kosakata Arab seminimal mungkin, bahasa itu bangkit kembali—diubah, tetapi tetap Persia.
Pelajaran dari masa lalu ini membentuk cara Iran memandang perang saat ini. Mereka telah melihat kerajaan-kerajaan besar datang dan pergi: Yunani, Arab, Mongol, Inggris dan Uni Soviet. Setiap kali, mereka belajar bahwa kekuasaan militer bersifat sementara, tetapi kekuatan budaya adalah abadi.
Paradoks Mongol: Ketika Penghancur Menjadi Pemuja
Bagian paling mencengangkan dari sejarah Persia, yang menjadi kunci untuk memahami posisi Iran saat ini, adalah kisah invasi Mongol. Pada tahun 1219, Jenghis Khan dan pasukannya melakukan salah satu pembantaian paling dahsyat dalam sejarah. Kota-kota seperti Nishapur dan Merv—pusat peradaban—dihapus dari peta, sungai dialihkan untuk menggenangi reruntuhan, dan jutaan orang tewas. Persia secara fisik hampir dimusnahkan.
Namun, dalam dua generasi, istana-istana Mongol, yang dikenal sebagai Ilkhanat, sudah berbisnis dan memerintah dalam bahasa Persia, talih alim justru mengadopsi agama Islam sekaligus dengan budaya Persia. Mereka memesan puisi Persia dan menjadi pelindung seni dan sastra Persia. Para penakluk yang paling ditakuti itu pada akhirnya menyerah secara budaya.
Mereka menyadari bahwa untuk mengelola sebuah peradaban yang kompleks dan untuk mendapatkan legitimasi, mereka membutuhkan bahasa Persia. Seperti yang dikatakan dalam satu artikel, “Bahasa Persia bukanlah bahasa kaum yang ditaklukkan. Ia menjadi bahasa yang digunakan oleh para penakluk untuk membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar penakluk.”
Dalam konteks geopolitik saat ini, Iran memproyeksikan kekuatan dengan mentalitas yang sama. Mereka tidak berusaha menjadi versi lain dari Barat atau kekuatan lain. Mereka memosisikan diri sebagai pusat peradaban yang begitu berpengaruh, sehingga lawan-lawannya, pada akhirnya, harus memperhitungkannya. Ini adalah strategi bertahan hidup yang telah terbukti selama ribuan tahun: menjadi sangat esensial sehingga Anda tidak bisa diabaikan.
Bahasa Persia sebagai Simbol Perlawanan
Dalam konflik saat ini, baik secara regional maupun dalam narasi global, Iran memainkan kartu “peradaban” dan “identitas” dengan sangat cerdik. Ketika tekanan modern datang pada abad ke-19 dan ke-20—dari ekspansi Inggris dan Rusia, dari sekularisasi paksa ala Ataturk yang membersihkan Bahasa Turki dari pengaruh Persia, hingga upaya Uni Soviet yang memisahkan bahasa Persia Tajik dari akarnya—Iran (dahulu Persia) kita belajar satu hal: identitas linguistik adalah benteng terakhir.

Tinggalkan Balasan