Kekaisaran demi kekaisaran akan berganti. Namun, seperti yang diajarkan sejarah, tidak ada yang bisa membakar sebuah puisi dari ingatan sebuah peradaban. Anda dapat mengalihkan sungai ke atas reruntuhan kota, seperti yang dilakukan bangsa Mongol, tetapi Anda tidak bisa menghentikan seorang anak di Teheran, Isfahan, atau Kabul untuk melantunkan syair Hafez.
Iran bertahan karena mereka memahami bahwa bahasa, budaya, dan identitas adalah benteng yang tak tertembus oleh rudal atau sanksi.
Dalam pusaran ketidakpastian Timur Tengah saat ini, Iran berdiri dengan tenang, bukan karena tidak memiliki musuh, tetapi karena ia telah melihat begitu banyak musuh datang dan pergi. Pada akhirnya, mereka yang datang dengan pedang dan senjata akan pergi, tetapi mereka yang datang untuk memahami puisi akan tinggal. Itulah posisi Iran: sebuah negeri yang telah mengajarkan dunia bahwa kekuatan paling abadi yang dapat dimiliki sebuah bangsa bukanlah politik, melainkan budaya. (*)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan