Saat ini, Iran adalah jantung dari 110 juta penutur Bahasa Persia yang tersebar di Iran, Afghanistan, dan Tajikistan. Seorang penutur di Teheran dapat berkomunikasi dengan mudah bersama seorang penutur di Kabul, meskipun politik modern berusaha memisahkan mereka dengan nama-nama seperti Bahasa Dari dan Tajik.

Dalam perang proksi dan ketegangan regional, Iran menggunakan ikatan budaya ini sebagai jembatan kekuatan lunak (soft power). Mereka tidak hanya menawarkan dukungan militer kepada sekutu di Lebanon, Suriah, atau Yaman, tetapi juga menawarkan akses ke sebuah jaringan peradaban yang lebih besar, yang akar sejarahnya melampaui batas-batas negara modern.

Tiga Pilar Ketahanan: Puisi, Fleksibilitas, dan Prestise

Mengapa posisi Iran terasa begitu kokoh meskipun menghadapi tekanan ekonomi dan militer yang luar biasa? Karena mereka berdiri di atas tiga pilar yang sama, yang membuat bahasa mereka bertahan, seperti yang diuraikan dalam buku-buku:

Hafez Shirazi (1325–1390) adalah seorang penyair lirik Persia yang karya-karyanya yang terkumpul, dianggap oleh banyak orang Iran sebagai salah satu puncak tertinggi sastra Persia. Karya-karyanya sering ditemukan di rumah-rumah penutur bahasa Persia, yang menghafal puisi-puisinya dan menggunakannya sebagai peribahasa serta ungkapan sehari-hari. Kehidupan dan puisi-puisinya telah menjadi objek banyak analisis, komentar, dan interpretasi, serta memengaruhi penulisan Persia setelah abad ke-14 lebih daripada penulis Persia lainnya.

Hafez paling dikenal melalui Divān-nya, yaitu kumpulan puisi-puisinya yang masih tersisa dan kemungkinan disusun setelah wafatnya. Karya-karyanya dapat digambarkan sebagai “antinomian” dan, dalam penggunaan istilah abad pertengahan, bersifat “teosofis”.

Istilah “teosofi” pada abad ke-13 dan ke-14 digunakan untuk merujuk pada karya-karya mistik oleh “penulis yang hanya terinspirasi oleh Kitab Suci Islam” (berbeda dengan teologi). Hafez terutama menulis dalam genre sastra puisi lirik atau ghazal, yang merupakan gaya ideal untuk mengekspresikan ekstase inspirasi ilahi dalam bentuk mistik puisi cinta. Ia adalah seorang sufi.

Pertama adalah Puisi (Tradisi Sastra): Iran memiliki banyak pujangga sepeti Sa’di Shirazi (c. 1210–1291/1292) adalah penyair dan moralis Persia terkemuka dari abad pertengahan, yang dikenal sebagai salah satu guru sastra klasik terbesar dengan julukan “Ostâd-e Soxan” (Sang Ahli Kata). Karya utamanya, Bustan (Kebun Buah) dan Gulistan (Taman Mawar), menggabungkan prosa dan puisi yang kaya akan nilai moral, kebijaksanaan, dan kisah-kisah perjalanan.

Hafez Shirazi (1325–1390) adalah seorang penyair lirik Persia dengan karya-karyanya yang terkumpul, dianggap oleh mayoritas orang Iran sebagai salah satu puncak tertinggi sastra Persia. Karya-karyanya ditemukan hampir di semua rumah-rumah penutur bahasa Persia, yang menghafal puisi-puisinya dan menggunakannya sebagai peribahasa serta ungkapan sehari-hari. Kehidupan dan puisi-puisinya telah menjadi objek banyak analisis, komentar, dan interpretasi, serta memengaruhi penulisan Persia setelah abad ke-14 lebih daripada penulis Persia lainnya.

Belum lagi Shahnameh-nya Ferdowsi kitab para raja. 50.000 baris puisi epik, seluruh rentang mitologis dan historis Persia, dari penciptaan dunia hingga penaklukan Arab. dan mistisismenya Rumi. Ini bukan sekadar sastra; ini adalah DNA kebangsaan. Selama masa-masa tersulit, seperti saat invasi Mongol atau krisis modern, rakyat Iran kembali ke puisi. Seorang pemimpin Iran tahu bahwa ia tidak hanya mewarisi sebuah negara, tetapi sebuah peradaban yang telah merebut “waktu” melalui kata-kata. “Pasukan merebut wilayah. Penyair merebut waktu.”

Kedua adalah Fleksibilitas: Sejarah menunjukkan bahwa bahasa Persia adalah bahasa yang luar biasa fleksibel. Ia menyerap kosakata Arab, Turki, dan Mongol tanpa kehilangan struktur tata bahasanya yang khas. Dalam diplomasi dan politik luar negeri, Iran menunjukkan fleksibilitas yang mirip. Mereka mampu bernegosiasi dengan kekuatan Barat, menjalin aliansi dengan negara-negara non-Arab dan non-Persia seperti Rusia dan Tiongkok, namun tetap mempertahankan inti ideologis revolusi dan identitas nasional mereka. Mereka beradaptasi, tetapi tidak kehilangan jati diri.

Dan ke tiga adalah Prestise Kultural: Inilah senjata paling ampuh Iran. Ketika negara-negara tetangga atau bahkan kekuatan global berhadapan dengan Iran, mereka berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rezim. Mereka berhadapan dengan “gagasan tentang kecanggihan, tentang kehalusan, tentang peradaban.”

Sepanjang sejarah, para penakluk mengadopsi Bahasa Persia untuk menaikkan status mereka sendiri. Dalam dunia modern, Iran menggunakan warisan ini untuk memproyeksikan citra, bahwa meskipun dilanda sanksi dan tekanan, mereka adalah pewaris peradaban agung yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar angka-angka ekonomi atau kekuatan militer belaka.

Di Atas Reruntuhan, Puisi Tetap Bersuara.

Posisi Iran dalam perang saat ini, bukanlah posisi seorang prajurit yang sekadar berperang di medan laga, tetapi posisi sebuah peradaban yang bermain dalam jangka waktu yang sangat panjang. Perang hari ini, dengan segala dinamikanya, akan berlalu.