1. Kehadiran Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menghasilkan perputaran uang sekitar Rp492 miliar per bulan atau Rp5,9 triliun per tahun.
  2. Mayoritas pekerja usia produktif mendorong tingginya belanja harian, terutama untuk makanan dan minuman. Dampaknya, ribuan UMKM berkembang di sekitar kawasan, dengan 7.643 unit usaha yang didominasi usaha mikro dan menjadi penopang utama kebutuhan pekerja.

MOROWALI, KAIDAH.ID – Kehadiran Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terbukti tidak hanya mendorong hilirisasi nikel nasional, tetapi juga menjadi penggerak utama ekonomi lokal di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Berdasarkan hasil survei tim Research and Support Departemen Secretariat General Affair PT IMIP, mayoritas tenaga kerja di kawasan tersebut, berada pada usia produktif 26-35 tahun dengan proporsi mencapai 56,4 persen. Komposisi ini berkontribusi besar terhadap tingginya aktivitas konsumsi harian.

Sebanyak 98,4 persen responden, tercatat mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan makanan dan minuman setiap hari, dengan rata-rata belanja mencapai Rp2,19 juta per orang per bulan. Kondisi ini, menjadikan sektor kuliner sebagai tulang punggung ekonomi di sekitar kawasan industri.

Secara agregat, total pengeluaran karyawan IMIP, diperkirakan mencapai Rp492 miliar per bulan atau sekitar Rp5,9 triliun per tahun. Angka tersebut mencerminkan kuatnya daya beli tenaga kerja, sekaligus besarnya kontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal.

Tingginya konsumsi ini, ikut mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Saat ini, terdapat sekitar 7.643 unit UMKM di Bahodopi dan sekitarnya, dengan dominasi usaha mikro sebesar 78 persen dan usaha kecil 22 persen.

Selain sektor kuliner, pertumbuhan juga terlihat pada sektor pendukung seperti transportasi dan hunian. Sebagian besar pekerja, yakni 82,6 persen, tinggal di kos atau kontrakan dengan rata-rata biaya sewa Rp1,26 juta per bulan. Sementara itu, 79,3 persen responden rutin mengeluarkan biaya transportasi.

Menariknya, preferensi belanja karyawan lebih condong ke pelaku usaha lokal. Sekitar 57 persen responden memilih berbelanja di warung atau kios dibandingkan toko modern, dengan alasan kedekatan lokasi dan harga yang lebih terjangkau.

Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulteng menilai, kondisi ini menjadi peluang untuk memperluas dampak ekonomi industri. BI mendorong penguatan sektor perdagangan, logistik, konstruksi, dan UMKM guna menciptakan lapangan kerja baru serta distribusi manfaat ekonomi yang lebih merata.

Dalam jangka panjang, diversifikasi ekonomi daerah dinilai penting, agar tidak bergantung pada satu sektor. Pengembangan sektor pertanian, perikanan, pariwisata, dan industri pengolahan menjadi opsi strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulteng, Andi Irman, menegaskan komitmen pemerintah daerah, untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat. Hal ini dilakukan untuk mendukung kebijakan hilirisasi industri sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas daerah.

Dengan dominasi tenaga kerja usia produktif dan daya beli yang kuat, kawasan IMIP diproyeksikan akan terus menjadi motor penggerak ekonomi lokal sekaligus mendorong pertumbuhan inklusif bagi masyarakat di Bahodopi dan Morowali. (*)

(Ruslan Sangadji)