Total aset perbankan di Sulteng per 31 Maret 2026 mencapai Rp83,90 triliun atau meningkat 7,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp77,87 triliun.
PALU, KAIDAH.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, industri jasa keuangan (IJK) di Sulawesi Tengah (Sulteng) tetap berada dalam kondisi yang sehat hingga triwulan I 2026. Pertumbuhan aset perbankan, penyaluran kredit, hingga jumlah investor pasar modal menunjukkan tren positif, didukung likuiditas yang memadai dan risiko yang tetap terkendali.
Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardi Putra, Senin, 6 Juli 2026, mengatakan stabilitas sektor jasa keuangan di daerah tersebut, tercermin dari kinerja positif perbankan, industri keuangan nonbank (IKNB), serta pasar modal sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
Total aset perbankan di Sulteng per 31 Maret 2026 mencapai Rp83,90 triliun atau meningkat 7,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp77,87 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 3,31 persen menjadi Rp38,04 triliun dari sebelumnya Rp36,82 triliun. Sementara penyaluran kredit mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 25,44 persen, dari Rp59,11 triliun menjadi Rp74,15 triliun.
Bonny menjelaskan, fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan baik. Hal itu tercermin dari rasio loan to deposit ratio (LDR) sebesar 194,93 persen, sementara kualitas kredit semakin membaik dengan rasio kredit bermasalah (NPL) turun dari 1,69 persen pada Maret 2025 menjadi 0,79 persen pada Maret 2026.
Kinerja perbankan syariah juga menunjukkan perkembangan yang positif. Total aset meningkat 19,87 persen menjadi Rp4,42 triliun, sedangkan dana pihak ketiga tumbuh 7,11 persen menjadi Rp2,37 triliun. Adapun total pembiayaan perbankan syariah tercatat sebesar Rp2,06 triliun.

Tinggalkan Balasan