PT IMIP menilai, pembangunan industri perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Karena itu, perusahaan menjalankan berbagai program pengembangan kompetensi, mulai dari pelatihan, sertifikasi, magang industri hingga kerja sama dengan lembaga pendidikan vokasi dan perguruan tinggi

MOROWALI, KAIDAH.ID – Jumlah tenaga kerja di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, jumlah karyawan IMIP tercatat sebanyak 74.350 orang. Angka tersebut meningkat menjadi 83.000 orang pada 2024, kemudian kembali bertambah menjadi 89.849 orang hingga akhir Januari 2026.

Data Departemen HR PT IMIP per Juli 2026 mencatat jumlah tenaga kerja aktif telah mencapai 97.427 orang. Rinciannya, sebanyak 89.335 merupakan pekerja laki-laki dan 8.092 pekerja perempuan.

Jumlah tersebut belum mencakup sekitar 20.000 tenaga kerja alih daya yang bekerja di sejumlah perusahaan kontraktor dan jasa pendukung operasional kawasan.

Jika dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya, peningkatan tersebut tergolong signifikan. Pada 2020, jumlah tenaga kerja di kawasan IMIP masih berada di kisaran 35.592 orang.

Direktur Komunikasi PT IMIP, Emilia Bassar, mengatakan pertumbuhan industri di Morowali, khususnya di kawasan IMIP, memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah.

“Pertumbuhan industri di Morowali, khususnya di IMIP, menorehkan perkembangan ketenagakerjaan secara signifikan di Sulteng. Dari Juni 2025 ke Juli 2026, serapan tenaga kerja naik 13,53 persen,” ujar Emilia melalui pernyataan resminya, Sabtu, 18 Juli 2026.

Peningkatan jumlah tenaga kerja tersebut berjalan seiring dengan ekspansi investasi, bertambahnya kapasitas produksi, serta masuknya sejumlah proyek industri baru di kawasan IMIP.

Tren pertumbuhan sektor formal juga terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah angkatan kerja formal di Sulawesi Tengah meningkat dari 477,2 ribu orang pada Agustus 2023 menjadi 500,1 ribu orang pada 2024. Angka tersebut kembali naik menjadi 525,8 ribu orang pada Agustus 2025.

Menurut Emilia, perkembangan kawasan IMIP turut mendorong perubahan struktur ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah. Sektor industri pengolahan kini menjadi salah satu sumber penting penciptaan lapangan kerja, di tengah perekonomian masyarakat yang sebelumnya lebih banyak ditopang sektor pertanian dan perikanan.

Kontribusi tenaga kerja IMIP terhadap total penduduk bekerja dengan status buruh atau karyawan di Sulawesi Tengah tercatat sekitar 1,23 persen pada 2023. Angka itu meningkat menjadi 1,74 persen pada 2024 dan berada di level 1,3 persen pada 2025.

Dokumen BPS Indikator Ketenagakerjaan Provinsi Sulawesi Tengah 2025 juga menempatkan kawasan IMIP sebagai salah satu kontributor penting terhadap pertumbuhan lapangan kerja formal di provinsi tersebut.

Pengembangan SDM Industri

Pertumbuhan kawasan industri IMIP juga memberikan dampak terhadap sektor ekonomi lainnya. Industri pengolahan tercatat sebagai lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi di Sulawesi Tengah, yakni mencapai 15,09 persen pada triwulan I 2026.

Pada periode yang sama, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah atas dasar harga berlaku mencapai Rp110,27 triliun. Sementara itu, PDRB per kapita Kabupaten Morowali tercatat menembus Rp1,3 miliar pada 2024.

Aktivitas industri juga ikut mendorong pertumbuhan usaha masyarakat di sekitar kawasan. Berdasarkan penelitian tim Survey and Research Departemen Secretariat and General Affair (SGA) PT IMIP, jumlah UMKM di Kecamatan Bahodopi meningkat dari 4.697 unit pada 2021 menjadi 7.643 unit pada Maret 2025.

Meski jumlah UMKM kemudian turun menjadi 7.190 unit pada April 2026, jumlah tenaga kerja yang terserap justru meningkat hingga mencapai 17.080 orang.

Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas industri tidak hanya membuka lapangan kerja di dalam kawasan IMIP. Keberadaan kawasan industri juga mendorong berkembangnya usaha pendukung dan menciptakan peluang kerja baru bagi masyarakat di sekitar kawasan.

PT IMIP menilai, pembangunan industri perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Karena itu, perusahaan menjalankan berbagai program pengembangan kompetensi, mulai dari pelatihan, sertifikasi, magang industri hingga kerja sama dengan lembaga pendidikan vokasi dan perguruan tinggi.

“Penguatan kualitas SDM menjadi fokus utama perusahaan demi menjaga keberlanjutan pertumbuhan industri. Ini diwujudkan melalui berbagai program pelatihan, sertifikasi kompetensi, magang industri, hingga kerja sama dengan lembaga pendidikan vokasi dan perguruan tinggi,” kata Emilia.

Dalam memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri, IMIP menjalin kemitraan dengan sejumlah institusi pendidikan, di antaranya Politeknik Industri Logam Morowali (PILM), Akademi Teknik Industri Makassar (ATI Makassar), Fakultas Vokasi Universitas Hasanuddin bidang metalurgi, serta Program D4 Teknologi Rekayasa Instalasi Listrik dan Teknologi Rekayasa Instalasi Mesin Universitas Tadulako.

“Kerja sama tersebut mencakup pemberian beasiswa, program magang, serta Praktisi Mengajar yang mempertemukan mahasiswa dengan para profesional industri,” kata Emilia Bassar. (*)

(Ruslan Sangadji)