Oleh: Salihudin | Kader Partai Golkar Sulawesi Tengah
Dalam teori kepemimpinan, gaya seperti ini dikenal sebagai bridging leadership—kepemimpinan yang membangun jembatan di antara kelompok-kelompok yang berbeda. Pemimpin semacam ini tidak mematikan perbedaan. Ia mengelola perbedaan agar tidak berkembang menjadi perpecahan
SABTU SORE, 18 Juli 2026, satu babak penting dalam perjalanan Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) akhirnya ditutup dengan baik. Musyawarah Daerah XI telah menetapkan Ilham Arief Sirajuddin atau IAS sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan periode 2026–2031.
Bagi IAS, hasil Musda tersebut merupakan permulaan sebuah kepemimpinan. Namun bagi Muhidin M. Said, inilah penanda bahwa amanah organisasi yang diletakkan di pundaknya, telah ditunaikan dengan sukses. Ia menerima Golkar Sulsel dalam masa transisi, menatanya, mempertemukan berbagai kekuatan, lalu menyerahkannya kepada ketua definitif dalam keadaan utuh.
Muhidin ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan pada Desember 2025. DPP memberinya dua tugas utama: melakukan konsolidasi organisasi dan mempersiapkan Musda. Penugasan tersebut diterima, setelah berakhirnya masa kepengurusan sebelumnya.
Tugas itu membutuhkan kemampuan politik yang tidak biasa. Golkar Sulsel memiliki banyak tokoh dengan basis, jaringan, dan sejarah politik masing-masing. Ada kekuatan kepala daerah, anggota legislatif, mantan pejabat, kader senior, DPD II, organisasi sayap, hingga hasta karya. Semuanya merupakan kekayaan politik, tetapi perlu dipertemukan oleh seorang pemimpin yang dapat berdiri di tengah.
Bridging Leadership
Muhidin hadir sebagai tokoh yang tidak membawa kepentingan pencalonan. Ia tidak datang untuk menjadi kontestan, melainkan menjadi penghubung. Lahir di Soppeng dan tumbuh dalam lingkungan politik Sulawesi Tengah, ia memiliki kedekatan emosional dengan Sulawesi Selatan, sekaligus jarak yang membuatnya dapat diterima oleh berbagai kelompok.
Dalam teori kepemimpinan, gaya seperti ini dikenal sebagai bridging leadership—kepemimpinan yang membangun jembatan di antara kelompok-kelompok yang berbeda. Pemimpin semacam ini tidak mematikan perbedaan. Ia mengelola perbedaan agar tidak berkembang menjadi perpecahan.
Langkah awal Muhidin, adalah membuka ruang yang sama bagi seluruh kader. Ketika berbagai nama bermunculan sebagai calon ketua, ia tidak tergesa-gesa menutup pintu bagi figur tertentu. Semua diberikan kesempatan berkomunikasi, menyampaikan gagasan, dan membangun dukungan sesuai mekanisme organisasi. Dengan cara itu, setiap arus politik merasa tetap menjadi bagian dari rumah besar Golkar.
Muhidin kemudian menyusun kepengurusan sementara yang melibatkan 162 kader, dengan Rahman Pina sebagai sekretaris dan Andi Ina Kartika Sari sebagai bendahara. Struktur tersebut mempertemukan berbagai unsur Golkar dalam satu meja kerja. Ia memahami bahwa orang-orang akan lebih mudah dipersatukan, apabila diberi tanggung jawab bersama.
Kosolidasi di tiga Wilayah Dapil
Konsolidasi kemudian dilaksanakan di tiga wilayah daerah pemilihan, dengan melibatkan seluruh 24 DPD II kabupaten dan kota. Muhidin turun menemui kader, mendengarkan aspirasi, dan membangun komunikasi langsung.
Rangkaian konsolidasi itu dituntaskan di Soppeng pada Mei 2026. Saat itu Muhidin telah menyatakan bahwa Golkar Sulsel berada dalam keadaan kompak dan siap melaksanakan Musda.
Muhidin memang lebih memilih politik percakapan daripada politik kegaduhan. Kepada kader, ia selalu mengingatkan agar setiap persoalan disampaikan dengan hati jernih dan kepala dingin. Baginya, musyawarah bukan sekadar prosedur memilih ketua, tetapi jalan untuk menjaga persaudaraan setelah pilihan ditetapkan.
Terpilihnya IAS, Tercapainya Tujuan Akhir
Terpilihnya IAS sore tadi menjadi bukti, bahwa seluruh proses tersebut berhasil mencapai tujuan akhirnya.
Dinamika yang sebelumnya bergerak di sekitar berbagai figure, dapat dipertemukan dalam forum organisasi. Musda berlangsung, ketua definitif telah terpilih, dan estafet kepemimpinan dapat diserahkan dengan baik.
Keberhasilan Muhidin tidak hanya terletak pada terlaksananya Musda. Keberhasilan yang lebih besar, adalah kemampuannya membawa berbagai faksi menuju satu titik temu. Ia mengubah persaingan menjadi musyawarah, keragaman menjadi kekuatan, dan pergantian kepemimpinan menjadi momentum persatuan.
Begitulah amanah organisasi ditunaikan. Muhidin datang ketika Golkar Sulsel membutuhkan jembatan. Ia bekerja dengan tenang, menyatukan berbagai jalan, lalu mengantarkan seluruh kader sampai ke seberang. Sore tadi, ketika ketua definitif terpilih, tugas itu pun dinyatakan tuntas. (*)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan