Kini, semua statistik itu hanya akan menjadi angka ketika wasit meniup peluit kick-off. Akankah pertahanan disiplin Spanyol mampu meredam magis Lionel Messi? Atau justru Argentina kembali menunjukkan ketajamannya untuk mempertahankan mahkota juara dunia?

PANGGUNG TERBESAR sepak bola dunia akhirnya tiba. Final Piala Dunia FIFA 2026 akan mempertemukan dua raksasa, Spanyol dan Argentina, dalam laga yang diprediksi menjadi pertarungan penuh taktik, kualitas, dan drama hingga peluit akhir berbunyi.

Statistik resmi FIFA menghadirkan cerita yang menarik. Di satu sisi ada Argentina, sang juara bertahan yang tampil sebagai tim paling tajam sepanjang turnamen. Di sisi lain berdiri Spanyol, tim dengan pertahanan paling kokoh, dan jumlah kebobolan paling sedikit. Serangan paling mematikan akan berhadapan langsung dengan benteng pertahanan terbaik.

Namun, angka-angka itu hanya permulaan.

Sorotan utama kembali mengarah kepada Lionel Messi. Di usia yang tak lagi muda, kapten La Albiceleste masih menjadi pusat permainan Argentina, sekaligus mimpi buruk bagi setiap lini belakang lawan. Sang maestro memimpin hampir seluruh statistik individu turnamen.

Messi tercatat sebagai pemain dengan percobaan tembakan terbanyak (34), tembakan tepat sasaran terbanyak (19), expected goals (xG) individu tertinggi (6,16), hingga jumlah tendangan sudut terbanyak (34). Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa setiap serangan Argentina hampir selalu berawal atau berakhir di kaki sang legenda.

Sementara itu, Spanyol datang dengan filosofi yang berbeda. La Roja tidak bergantung pada satu bintang, melainkan mengandalkan kekuatan kolektif yang membuat mereka begitu konsisten sejak fase grup.

Mikel Oyarzabal menjadi ujung tombak paling tajam dengan koleksi lima gol, sedangkan Dani Olmo dan Marc Cucurella sama-sama menyumbang dua assist. Dalam urusan ancaman ke gawang lawan, Oyarzabal juga sedikit lebih unggul dari wonderkid Lamine Yamal, dengan catatan 11 tembakan tepat sasaran, berbanding 10 milik Yamal.

Identitas permainan Spanyol juga tergambar jelas dari statistik distribusi bola. Tiga pemain dengan jumlah umpan terbanyak di turnamen semuanya berasal dari La Roja, yakni Rodri (694 umpan), Aymeric Laporte (568), dan Pau Cubarsi (566). Dominasi penguasaan bola menjadi senjata utama mereka untuk mengendalikan ritme pertandingan.

Argentina tak tinggal diam. Leandro Paredes (521 umpan) dan Enzo Fernández (483) menjadi motor permainan di lini tengah, memastikan aliran bola menuju Messi dan para penyerang tetap mengalir deras.

Kini, semua statistik itu hanya akan menjadi angka ketika wasit meniup peluit kick-off. Akankah pertahanan disiplin Spanyol mampu meredam magis Lionel Messi? Atau justru Argentina kembali menunjukkan ketajamannya untuk mempertahankan mahkota juara dunia?

Jawabannya akan ditentukan dalam 90 menit pada Senin, 20 Juli 2026 dini hari WIB, yang berpotensi menjadi salah satu final Piala Dunia paling menarik dalam sejarah. (*)

(Ruslan Sangadji)