Laba bersih DEWA diperkirakan mencapai Rp748 miliar pada 2026, dan melonjak menjadi Rp1,52 triliun pada 2027 atau tumbuh sekitar 104 persen dibandingkan tahun sebelumnya
JAKARTA, KAIDAH.ID – PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dinilai mulai memasuki fase pertumbuhan baru, setelah strategi internalisasi armada alat berat mulai memberikan dampak positif terhadap kinerja operasional, dan profitabilitas perusahaan. Di sisi lain, tambahan proyek baru diperkirakan akan mendorong lonjakan volume pekerjaan dalam beberapa tahun mendatang.
Melihat prospek tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli (buy) terhadap saham DEWA, sekaligus menaikkan target harga menjadi Rp550 per saham dari sebelumnya Rp300.
Strategi Internalisasi Mulai Berbuah
Dalam riset yang diterbitkan pada Jumat, 31 Juli 2026, BRI Danareksa menyebut, kinerja kuartal I-2026 menjadi bukti awal keberhasilan strategi internalisasi armada yang dijalankan perseroan.
Selama tiga bulan pertama tahun ini, volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden/OB removal) meningkat 9 persen secara tahunan menjadi 38 juta bank cubic meter (bcm).
Porsi pekerjaan yang dikerjakan menggunakan armada milik sendiri, juga naik signifikan menjadi 77 persen, dibandingkan 62 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan penggunaan armada internal tersebut, berdampak langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan. EBITDA Darma Henwa tumbuh 16 persen secara tahunan menjadi Rp442 miliar, sedangkan margin EBITDA meningkat menjadi 28,5 persen dari sebelumnya 24,1 persen.
Menurut BRI Danareksa, pelebaran margin tersebut merupakan hasil nyata pertama dari strategi internalisasi armada yang diterapkan perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Proyek Baru Dorong Lonjakan Volume
Prospek pertumbuhan Darma Henwa diperkirakan semakin kuat, dengan masuknya sejumlah proyek baru. Salah satunya adalah proyek Sebuku yang diproyeksikan menyumbang sekitar 8 juta bcm pengupasan overburden pada tahap awal.
Kontribusi proyek tersebut, diperkirakan meningkat menjadi sekitar 27 juta bcm pada tahun buku 2027. Selain volume yang besar, proyek Sebuku juga menawarkan tarif awal sekitar USD2,8 per bcm, lebih tinggi dibanding proyek lainnya karena memiliki cakupan layanan yang lebih luas.
Selain Sebuku, BRI Danareksa juga melihat peluang tambahan proyek lain yang berpotensi menambah hingga 70 juta bcm volume pekerjaan mulai 2027.
Dengan tambahan proyek tersebut, total volume pengupasan overburden DEWA diperkirakan meningkat menjadi sekitar 232 juta bcm, jauh di atas proyeksi sebelumnya sebesar 144 juta bcm.
Ekspansi Didukung Kondisi Keuangan yang Sehat
Untuk mendukung ekspansi bisnis, kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) diperkirakan meningkat menjadi Rp3,26 triliun pada 2027 dan Rp5,20 triliun pada 2028.
Meski kebutuhan investasi meningkat, BRI Danareksa menilai posisi keuangan DEWA tetap terjaga. Rasio utang bersih terhadap EBITDA diproyeksikan berada di kisaran 0,9 hingga 1,5 kali sampai 2030 sehingga ruang pendanaan masih dinilai memadai.
Proyeksi Laba Direvisi Naik
Sejalan dengan prospek pertumbuhan yang semakin kuat, BRI Danareksa juga merevisi naik proyeksi laba bersih DEWA.
Estimasi laba bersih tahun buku 2026 dinaikkan 36 persen. Sementara itu, proyeksi laba tahun buku 2027 dan 2028 masing-masing direvisi naik sebesar 130 persen dan 141 persen untuk mengakomodasi kontribusi proyek-proyek baru.
Laba bersih DEWA diperkirakan mencapai Rp748 miliar pada 2026, dan melonjak menjadi Rp1,52 triliun pada 2027 atau tumbuh sekitar 104 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Valuasi Masih Menarik
Dari sisi valuasi, saham DEWA dinilai masih memiliki ruang kenaikan, meski saat ini diperdagangkan pada level 17,8 kali price-to-earnings (PE) forward.
BRI Danareksa menilai, premi valuasi tersebut masih layak, karena didukung volume pekerjaan yang tetap kuat dari dua unit usaha PT Bumi Resources Tbk, yakni KPC dan Arutmin, pipeline pertumbuhan yang solid, serta potensi pembukaan nilai (value unlock) dari anak usaha DEWA, GMR.
Dengan kombinasi efisiensi operasional, tambahan proyek strategis, dan prospek pertumbuhan laba yang kuat, BRI Danareksa menilai DEWA memiliki peluang untuk memasuki fase pertumbuhan baru dalam beberapa tahun ke depan. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan