Sebelum menunjuk kesalahan orang lain, mungkin kita perlu bercermin lebih lama. Sebab sering kali, dosa yang paling berbahaya bukanlah dosa yang dilakukan orang lain, melainkan dosa yang sudah begitu akrab hingga kita tidak lagi merasa bahwa itu adalah dosa.

ADA SATU kenyataan yang sering luput kita akui. Kita jarang benar-benar membenci dosa. Yang sering kita benci adalah dosa yang dilakukan orang lain. Dan membenarkan dosa yang kita pilih.

Kita memilih dosa yang terasa paling nyaman bagi diri sendiri. Dosa yang bisa diberi alasan. Dosa yang bisa dibungkus dengan berbagai pembenaran.

Kesombongan kita sebut sebagai harga diri. Ghibah kita namai sebagai kepedulian. Kebohongan kita anggap sebagai jalan keluar. Ketidakjujuran kita bungkus dengan alasan keadaan memaksa.

Namun ketika melihat orang lain melakukan dosa yang berbeda, lidah kita begitu mudah menghakimi. Seolah-olah dosa mereka lebih besar daripada dosa yang kita simpan rapat di dalam diri.

Padahal, dosa tetaplah dosa. Ia tidak menjadi ringan hanya karena kita terbiasa melakukannya. Dan ia tidak menjadi lebih berat, hanya karena dilakukan oleh orang yang tidak kita sukai.

Ironisnya, kita sering lebih sibuk menjadi hakim atas kehidupan orang lain daripada menjadi pengoreksi bagi diri sendiri. Kita menghabiskan banyak waktu menilai kesalahan orang, sementara hati kita sendiri dipenuhi noda yang enggan kita bersihkan.

Mungkin itulah sebabnya mengapa kerendahan hati menjadi sifat yang begitu langka. Sebab orang yang benar-benar menyadari banyaknya kekurangan dalam dirinya, tidak akan punya banyak waktu untuk menghakimi orang lain. Ia lebih sibuk memohon ampun daripada menghitung dosa sesamanya.

Kita semua sedang berjalan menuju pulang, dengan membawa beban masing-masing. Tidak ada seorang pun yang berhak merasa paling suci. Yang membedakan bukan siapa yang tidak pernah berdosa, tetapi siapa yang mau mengakui kesalahannya, bertobat, dan terus memperbaiki diri.

Sebelum menunjuk kesalahan orang lain, mungkin kita perlu bercermin lebih lama. Sebab sering kali, dosa yang paling berbahaya bukanlah dosa yang dilakukan orang lain, melainkan dosa yang sudah begitu akrab hingga kita tidak lagi merasa bahwa itu adalah dosa.

Dan itulah dosa yang kita pilih kemudian membenarkannya. Dan menyalahkan orang yang tidak mengikuti dosa kita. (*)

(Ruslan Sangadji)