Waktu memang mengubah usia, tetapi rupanya tidak mudah menghapus sentuhan dan kecintaan terhadap sepak bola

BOGOR, KAIDAH.ID – Semangat sepak bola dan nostalgia kejayaan Persiter, kembali menyala di Lapangan Brimob Gedung Halang, Bogor. Dalam semarak menyambut HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kie Raha FC bukan hanya tampil sebagai juara Trofeo 17-an, tetapi juga menjadi bagian dari reuni para mantan pemain Persiter dan legenda sepak bola yang pernah mengharumkan nama Ternate.

Usia boleh kepala lima, tetapi semangat di lapangan masih kepala dua.

Trofeo yang digagas Panitia 17-an itu diikuti lima kesebelasan, yakni Perseta FC, Joker FC, Thunder FC, D’Jokam FC, dan Kie Raha FC.

Hasilnya, Kie Raha FC keluar sebagai juara setelah menaklukkan seluruh lawan yang dihadapinya.

Namun, kemenangan di lapangan bukan satu-satunya cerita yang lahir dari perhelatan tersebut. Lebih dari sekadar trofi, kegiatan ini menjadi momentum untuk kembali mempertemukan orang-orang yang pernah menjadikan sepak bola sebagai bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.

Usai pertandingan, para pemain Kie Raha FC bersalaman dan duduk bersama sejumlah legenda Persiter, serta mantan pemain tim nasional yang pernah memperkuat Kramayudha Tiga Berlian dan Arizona.

Di antara mereka ada Marlon, Arizandi yang pernah menimba ilmu sepak bola di Italia bersama PSSI Yunior Bareti, Bahri, Rony Togubu, Kadirun, Rinto, dan sejumlah nama lainnya.

Mereka adalah wajah-wajah yang dahulu membuat Stadion Gelora Kie Raha bergemuruh. Nama-nama yang pernah menjadi kebanggaan publik sepak bola Ternate dan Maluku Utara.

Dulu mereka berlari demi merah putih di dada. Kini mereka berkumpul demi merah putih di hati.

Waktu memang mengubah usia, tetapi rupanya tidak mudah menghapus sentuhan dan kecintaan terhadap sepak bola.

Napas boleh tak lagi sekuat dulu. Langkah mungkin tak lagi sepanjang masa muda. Tetapi semangat bertanding dan kecintaan terhadap si kulit bundar tetap melekat.

Buktinya, empat tim lawan berhasil ditaklukkan dalam perjalanan menuju gelar juara.

Karena bagi mereka, sepak bola bukan sekadar 90 menit. Sepak bola adalah rumah. Dan rumah itu bernama Indonesia.

Kepengurusan Baru Kie Raha FC.

Secara aklamasi, nahkoda baru Kie Raha FC terpilih untuk membawa klub tersebut ke depan. Kepengurusan baru itu terdiri atas:

Ketua Umum: Nabil M. Salim — mantan Ketum HIKMU dan pengamat sepak bola
Wakil Ketua: Marlon
Ketua Harian: Ismet Solimongo
Sekretaris: Rustam Kasim dan Petrik Ngare
Bendahara: Mudafar Taher

Terpilihnya kepengurusan baru diharapkan tidak sekadar menjadi perubahan struktur organisasi, tetapi juga menjadi energi baru untuk menghidupkan kembali semangat sepak bola Ternate.

Nabil M. Salim menegaskan, perjalanan Kie Raha FC tidak berhenti pada kegiatan reuni atau pertandingan 17-an. Ada mimpi yang lebih besar untuk menghidupkan kembali gairah sepak bola Ternate.

“Usia boleh menua, tapi mimpi tidak. Kie Raha FC hadir untuk menghidupkan lagi api Persiter. Dari silaturahmi 17-an ini, kita bangun masa depan sepak bola Ternate.”


Pesan itu terasa semakin kuat di tengah pertemuan para pemain lintas generasi. Mereka datang bukan sekadar untuk mengejar kemenangan, tetapi untuk merawat persaudaraan, mengenang perjalanan, dan menyalakan kembali kecintaan terhadap sepak bola.

Sebab, pada akhirnya, trofi bisa disimpan, pertandingan akan berakhir, dan usia akan terus bertambah.

Tetapi silaturahmi, kenangan, dan kecintaan terhadap sepak bola akan selalu menemukan jalannya untuk pulang.

Dan kali ini, para legenda itu pulang melalui Kie Raha FC.

Tua? Iya. Mabuk bola? Tetap.

Semangat Kemerdekaan? Nggak pernah luntur. (*)

Penulis: Tommy Rusihan Arief
Editor: Ruslan Sangadji