Ahmad Rifai | S3 Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah Pedesaan IPB
Membangun daerah, bukan berarti daerah tidak harus punya segalanya. Daerah hanya perlu menemukan kekuatannya, lalu berani fokus sampai menjadi juara
SATU KESALAHAN membangun daerah adalah keinginan mengembangkan semuanya sekaligus. Pertanian, perikanan, pariwisata, industri, UMKM, dan perdagangan semuanya ingin dijadikan prioritas. Padahal, ketika semuanya menjadi prioritas, sering kali tidak ada satu pun yang benar-benar menjadi kekuatan utama.
Sebuah daerah tidak harus unggul dalam segala hal. Yang dibutuhkan adalah menemukan satu atau dua kekuatan yang benar-benar dimiliki, lalu mengerahkan kebijakan, anggaran, teknologi, infrastruktur, pendidikan, pembiayaan, dan pasar untuk menjadikannya unggul.
Prinsipnya sederhana, daerah tidak harus memiliki segalanya, tetapi harus mampu menjadi yang terbaik dalam sesuatu yang memang menjadi keunggulannya.
Karena itu, pertanyaan pembangunan tidak cukup hanya “Apa yang kita punya?”, tetapi harus dilanjutkan dengan, “Dari apa yang kita punya, apa yang bisa kita jadikan keunggulan?”
Membangun Rantai Nilai dari Komoditas Unggulan
Misalnya, sebuah daerah memiliki kopi sebagai komoditas unggulan. Strateginya tidak boleh berhenti pada pembagian bibit atau peningkatan produksi. Daerah harus membangun seluruh rantai nilainya: dari bibit, budidaya, pembiayaan, penyuluhan, pascapanen, pengolahan, sertifikasi, kemasan, branding, logistik, hingga pemasaran dan ekspor.
Kopi kemudian tidak lagi sekadar dijual sebagai biji mentah. Tetapi dapat berkembang menjadi industri roasting, kedai kopi, produk siap minum, agrowisata, dan berbagai usaha kreatif. Di sekitarnya tumbuh pekerjaan bagi petani, pengolah, pedagang, transportasi, pergudangan, percetakan, desainer, pemasaran digital, hingga eksportir.
Dengan demikian, satu komoditas dapat menjadi mesin ekonomi daerah, apabila seluruh ekosistemnya dibangun secara serius.
Pelajaran dari Spesialisasi di China
Pengalaman China menunjukkan pentingnya spesialisasi wilayah dan klaster industri. Banyak wilayah di China dikenal karena produk tertentu yang dikembangkan secara fokus. Shouguang di Shandong, misalnya, berkembang sebagai pusat produksi sayuran dan teknologi pertanian, dengan dukungan rumah kaca, pembibitan, perdagangan, logistik, pengolahan, dan pasar.
Anji di Zhejiang dikenal dengan industri bambu yang mengolah bahan tersebut menjadi furnitur, kerajinan, bahan bangunan, dan berbagai produk bernilai tambah.
Pelajarannya, bukan bahwa setiap daerah hanya boleh memiliki satu produk. Fokus berarti memiliki mesin pertumbuhan yang jelas. Ketika mesin tersebut tumbuh, sektor lain akan ikut bergerak di sekitarnya.
Dari Produksi Menuju Nilai Tambah
Hal inilah yang masih menjadi tantangan di banyak daerah Indonesia. Kita memiliki kopi, kakao, kelapa, ikan, rumput laut, buah, dan berbagai komoditas lainnya. Namun, sering kali kita hanya menjual bahan mentah, sementara nilai tambah terbesar justru tercipta di daerah lain. Akibatnya, daerah menjadi tempat produksi, tetapi bukan tempat di mana nilai ekonomi terbesar dihasilkan.
Karena itu, pembangunan ekonomi harus bergeser dari sekadar mengejar jumlah produksi menuju peningkatan nilai tambah. Petani dapat meningkatkan produksi, tetapi jika harga yang diterima tetap rendah sementara keuntungan terbesar berada pada pengolahan dan perdagangan, kesejahteraan mereka belum tentu meningkat secara signifikan.
Indonesia memiliki modal besar untuk menjalankan strategi ini. Kita memiliki sumber daya pertanian, perkebunan, dan perikanan yang beragam serta masyarakat yang banyak menggantungkan hidup pada sektor tersebut. Persoalan kita bukan kekurangan potensi, melainkan bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah lebih besar kepada masyarakat.
Menentukan Mesin Pertumbuhan Daerah
Karena itu, pemerintah daerah perlu menentukan satu atau dua komoditas yang paling potensial menjadi mesin pertumbuhan. Pemilihannya harus berdasarkan analisis: kondisi geografis, kesesuaian lahan, produktivitas, jumlah masyarakat yang terlibat, tren pasar, peluang hilirisasi, penyerapan tenaga kerja, peluang ekspor, dan kemampuan membangun merek daerah.
Jika kelapa menjadi salah satu keunggulan, misalnya, jangan berhenti pada penjualan kelapa. Kelapa dapat diolah menjadi santan, minyak kelapa, virgin coconut oil, air kelapa kemasan, arang tempurung, karbon aktif, serat, cocopeat, kosmetik, dan berbagai produk lainnya. Hal serupa dapat dilakukan terhadap kakao, rumput laut, ikan, buah, dan komoditas lain.
Fokus Bukan Berarti Mengabaikan Sektor Lain
Fokus juga bukan berarti mengabaikan sektor lain. Jika suatu daerah menjadi pusat kopi, pariwisata dapat berkembang melalui agrowisata, UMKM melalui produk olahan, anak muda melalui kedai dan bisnis digital, perguruan tinggi melalui riset, serta perbankan melalui pembiayaan. Semua sektor tetap hidup, tetapi bergerak mengelilingi kekuatan ekonomi yang sama.
Dalam strategi ini, pemerintah daerah tidak harus menjadi pelaku usaha. Peran pemerintah adalah membangun ekosistem agar masyarakat dan dunia usaha dapat tumbuh.
Jalan dari sentra produksi harus baik, listrik dan internet tersedia, pembiayaan mudah diakses, sertifikasi dan perizinan diperbaiki, penyuluhan diperkuat, serta data produksi dan pasar tersedia. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian juga perlu dihubungkan dengan kebutuhan petani dan industri.
Rakyat Kecil Harus Menjadi Pusat Strategi
Yang paling penting, rakyat kecil harus menjadi pusat strategi. Hilirisasi jangan hanya berarti membangun pabrik besar, sementara petani dan nelayan tetap berada di posisi paling lemah. Koperasi, kemitraan, akses modal, informasi harga, peningkatan kualitas, dan kepastian pasar harus diperkuat agar petani, nelayan, dan UMKM ikut menikmati nilai tambah.
Infrastruktur dan pendidikan pun harus mengikuti strategi ekonomi daerah. Sentra buah membutuhkan gudang dan rantai pendingin. Daerah perikanan membutuhkan fasilitas es, penyimpanan dingin, dan pengolahan.
Daerah kopi membutuhkan fasilitas pascapanen dan laboratorium kualitas. Pendidikan dan pelatihan juga perlu menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan ekonomi lokal, sehingga anak muda memiliki peluang membangun masa depan dari daerahnya sendiri.
Konsistensi Menjadi Kunci
Strategi ini membutuhkan konsistensi. Fokus berarti berani mengatakan bahwa tidak semua sektor dapat menjadi prioritas utama. Lebih baik memiliki satu atau dua agenda ekonomi yang dikerjakan secara konsisten selama sepuluh atau dua puluh tahun daripada terus mengganti komoditas unggulan setiap pergantian kepala daerah.
Keberhasilan juga tidak cukup diukur dari jumlah produksi. Ukurannya harus lebih konkret: apakah produktivitas meningkat, harga yang diterima petani membaik, pengolahan di dalam daerah bertambah, UMKM berkembang, investasi masuk, lapangan kerja tercipta, ekspor meningkat, dan terutama pendapatan masyarakat naik.
Ukuran Pembangunan adalah Kesejahteraan
Pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari statistik pertumbuhan ekonomi. Petani hidup dari harga hasil panennya, nelayan dari hasil tangkapannya, pedagang dari pembelinya, dan keluarga dari pendapatan yang mereka bawa pulang.
Maka ukuran utama pembangunan adalah, apakah strategi tersebut benar-benar membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.
Indonesia tidak membutuhkan setiap kabupaten menjadi versi kecil dari Jakarta. Kita justru membutuhkan keragaman kekuatan ekonomi berdasarkan keunggulan masing-masing wilayah: ada daerah kopi, kakao, kelapa, perikanan, rempah, buah, peternakan, industri kreatif, maupun manufaktur tertentu.
Jika dibangun secara konsisten, komoditas lokal dapat berubah menjadi identitas daerah. Produk tidak hanya memiliki harga, tetapi juga cerita, kualitas, standar, dan reputasi. Pada tahap itulah keunggulan geografis berubah menjadi keunggulan ekonomi.
Apa yang Paling Bisa Kita Menangkan?
Pertanyaannya bukan lagi, “Apa saja yang bisa kita bangun?” Pertanyaannya adalah, “Apa yang paling bisa kita menangkan?”
Mulailah dari apa yang kita punya. Pilih yang paling potensial. Fokuskan kebijakan. Tingkatkan produktivitas. Kuasai pengolahan. Ciptakan merek. Buka pasar. Hubungkan dengan teknologi dan pembiayaan. Libatkan anak muda. Dan pastikan nilai tambah terbesar tidak terus-menerus meninggalkan daerah.
Membangun daerah, bukan berarti daerah tidak harus punya segalanya. Daerah hanya perlu menemukan kekuatannya, lalu berani fokus sampai menjadi juara. (*)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan