Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara IMIP, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dan Pemerintah Kabupaten Morowali
MOROWALI, KAIDAH.ID – PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menyalurkan ratusan ribu liter air bersih, untuk membantu memenuhi kebutuhan harian warga yang terdampak kekeringan di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Kemarau berkepanjangan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Morowali, membuat ketersediaan air bersih semakin terbatas. Merespons kondisi tersebut, IMIP mengerahkan sejumlah armada water tank untuk mendistribusikan air ke desa-desa yang paling terdampak, termasuk sekolah dan tempat ibadah.
Head Section Stakeholder Engagement PT IMIP, Jaimu, mengatakan distribusi air bersih telah menjangkau Desa Bahomakmur, Dusun I Desa Fatufia, Dusun V Kurisa, serta Dusun II dan III Desa Labota.
“Desa pertama yang mendapat distribusi adalah Bahomakmur, lalu Dusun I Desa Fatufia, Dusun V Kurisa, termasuk Dusun II dan III Desa Labota. Di wilayah itu kekeringannya sangat terasa,” kata Jaimu, Selasa, 20 Oktober 2026.
Menurut Jaimu, bantuan tersebut juga merupakan respons permohonan masyarakat melalui pemerintah desa, termasuk surat dari Ketua Badan Perwakilan Desa Bahomakmur, yang meminta bantuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga.
“Pemerintah desa setempat bersurat kepada kami agar dapat dibantu terkait ketersediaan air bersih untuk warganya,” ujarnya.
Distribusi air bersih ke wilayah terdampak telah berlangsung sejak awal September 2026. Di Desa Bahomakmur, misalnya, penyaluran dilakukan secara berkala dengan mengerahkan dua unit mobil water tank berkapasitas masing-masing 6 ton atau 6.000 liter. Air disalurkan ke wadah penampungan milik warga.
Ketika kebutuhan meningkat, IMIP menambah armada dengan mengerahkan dua unit mobil pemadam kebakaran (damkar) yang masing-masing berkapasitas sekitar 16 ton atau 16.000 liter.
“Kapasitas mobil damkar kurang lebih 16 ton. Setiap hari, distribusi bisa dilakukan sampai dua kali. Di Desa Fatufia dan Bahomakmur, kegiatan ini sudah berjalan sebulan belakangan,” kata Jaimu.
Ia mengatakan, bantuan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat melalui pemerintah desa. Menurutnya, distribusi air bersih diharapkan dapat meringankan kesulitan warga dalam memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Siapkan Langkah Jangka Menengah dan Panjang
Selain menyalurkan air bersih, IMIP juga mengupayakan langkah penanganan untuk mengantisipasi kekeringan yang berkepanjangan. Untuk jangka menengah, perusahaan telah beberapa kali berdiskusi dengan tokoh masyarakat dan aparat pemerintah desa mengenai rencana pengadaan alat pengeboran mekanis (jacro) guna menambah kedalaman sumur warga.
Perusahaan juga mempertimbangkan penyediaan bak penampung berbahan serat (fiber) atau tandon air di setiap desa, untuk membantu menjaga ketersediaan air.
Sementara itu, untuk jangka panjang, IMIP merencanakan kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Morowali dalam penyediaan air bersih melalui jaringan perpipaan yang terhubung ke permukiman warga.
Jaimu menjelaskan, rencana tersebut telah dirancang jauh sebelum kekeringan terjadi. Namun, sistem perpipaan itu belum dapat direalisasikan karena sumber air utama dari bendung di Kilometer 16 masih dalam tahap konstruksi.
Pilihan lainnya adalah pembangunan infrastruktur pengambilan air (intake) di Sungai Makarti. Meski pembangunan intake telah rampung, masih diperlukan sarana pendukung untuk pengolahan dan distribusi air bersih secara terpadu.
Menurut Jaimu, program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara IMIP, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dan Pemerintah Kabupaten Morowali.
“Saat ini, kami terus memantau kondisi cuaca dan ketersediaan air. IMIP akan mengevaluasi distribusi berikutnya. Jika kekeringan berlanjut atau kebutuhan masyarakat meningkat, tentu kami akan mempertimbangkannya berdasarkan tingkat kebutuhan warga, kondisi sumber air, serta kemampuan operasional di lapangan,” pungkasnya. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan