Jumat, 12 April 2024

Ivo yang Mendunia

Ketika itu, tangan Nenek Galavende mash kuat menggenggam ike, alat pemukul kayu. Ayunannya berirama memukul-mukul kayu di atas balok kayu kanore untuk membuat kain | Foto: Kaidah/Ochan
Sinjulo, kain yang terbuat kulit kayu ivo. Pembuatan kain ini dilakukan secara tradisional di Desa Pandere, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, sekitar 35 kilometer arah Selatan Kota Palu —- ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Per lembar sinjulo ini dijual dengan harga antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung ukuran dan jenisnya. Sinjulo ini, telah dipasarkan di Jepang, Jerman dan Belanda | Foto: Kaidah/Ochan

Status Sosial

Setiap bentuk, warna dan ragam rias kain dari kayu ivo itu juga memiliki makna dan menggambarkan status sosial para pemakainya.  Bentuk-bentuk hasil kerajinan pakaian yang mengandung arti tidak terlalu penting, khususnya pada blus, tetapi sangat berpengaruh pada bentuk rok. Rok yang bersusun tiga misalnya mengandung makna tentang silsilah atau keturunan.

Susunan pertama bermakna atau melambangkan Maradika atau Bangsawan. Susunan kedua melambangkan Totua Ngata atau tokoh masyarakat. Susunan ketiga melambangkan Todea atau masyarakat umum.

Warna-warna pada pakaian kulit kayu memberi makna yang merupakan lambang-lambang yang nyata pada masyarakat Pandere. Warna kuning melambangkan kebesaran, warna hijau melambangkan kesuburan lingkungan alam, warna merah melambangkan keberanian atau kepahlawanan, warna hitam melambangkan kedukaan atau berkabung, warna putih melambangkan kesucian.

Dari sisi ragam, gampiri melambangkan kekayaan akan hasil pertanian pada daerah itu. Ragam rias kepala kerbau melambangkan kepahlawanan Pandere, yang dinyatakan dalam mempertahankan diri dari para penjajah. Dan Ragam hias tumpal melambangkan atau memberi makna kebesaran masyarakat Pandere dalam silsilah keturunannya.*