Maka, sudah saatnya Sulawesi Tengah tidak hanya dikenal, sebagai salah satu penghasil kakao terbesar di Indonesia, tetapi juga sebagai daerah yang mampu mengolah hasil kebunnya, menjadi produk bernilai tinggi. Sebab, kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hasil panen, melainkan oleh seberapa besar nilai tambah yang mampu diciptakan dan dinikmati di daerah sendiri
SULAWESI TENGAH sudah lama dikenal sebagai salah satu lumbung kakao nasional. Hamparan kebun kakao tersebar di berbagai kabupaten, dan menjadi sumber penghidupan bagi ribuan petani. Setiap musim panen, ratusan ribu ton biji kakao diproduksi dan dikirim ke luar daerah, bahkan ke pasar ekspor.
Namun, di balik besarnya produksi tersebut, masih ada satu mata rantai yang belum terbangun dengan baik. Sulawesi Tengah hingga kini belum memiliki industri pengolahan kakao berskala besar. Akibatnya, sebagian besar kakao masih dijual dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambahnya dinikmati daerah lain.
Padahal, dengan luas areal sekitar 266.670 hektare dan produksi mencapai sekitar 196.210 ton per tahun, Sulawesi Tengah memiliki modal yang sangat kuat untuk membangun industri hilir kakao.
Potensi Besar Belum Diikuti Industri
Hilirisasi telah menjadi kata kunci dalam pembangunan ekonomi nasional. Komoditas seperti nikel berkembang pesat melalui pembangunan kawasan industri di Morowali dan Morowali Utara. Kelapa pun mulai sudah punya pabrik pengolahan untuk menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi.
Sebaliknya, kakao Sulawesi Tengah masih lebih banyak meninggalkan daerah dalam bentuk biji kering.
Padahal, ketika diolah menjadi cokelat, bubuk kakao, cocoa butter, maupun berbagai produk turunannya, nilai jual kakao meningkat berkali-kali lipat. Industri pengolahan juga mampu menciptakan lapangan kerja baru, menggerakkan UMKM, sekaligus meningkatkan pendapatan daerah.
Nilai tambah kakao sesungguhnya baru tercipta, ketika komoditas ini memasuki tahap pengolahan. Selama masih dijual dalam bentuk biji kering, harga kakao di tingkat pasar berkisar antara Rp90 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, bergantung pada kualitas dan tingkat fermentasinya.
Nilai tersebut mulai meningkat, ketika kakao diolah menjadi bubuk kakao (cocoa powder), yang dipasarkan dengan kisaran Rp150 ribu hingga Rp400 ribu per kilogram. Jika diproses lebih lanjut menjadi cocoa butter, salah satu bahan baku industri makanan, kosmetik, dan farmasi, nilai jualnya dapat mencapai sekitar Rp300 ribu hingga Rp1 juta per kilogram.
Peningkatan paling tinggi terjadi ketika kakao diolah menjadi produk cokelat siap konsumsi. Bergantung pada kualitas, kandungan kakao, dan mereknya, harga produk tersebut dapat mencapai Rp500 ribu hingga lebih dari Rp1,5 juta per kilogram.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa nilai ekonomi terbesar, bukan berada pada penjualan biji kakao, melainkan pada proses pengolahannya. Dengan membangun industri hilir di Sulawesi Tengah, nilai tambah yang selama ini dinikmati daerah lain dapat tinggal di daerah, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, menggerakkan UMKM, serta memperkuat perekonomian daerah.
Karena itu, hilirisasi kakao bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan.
Pemerintah Dorong Penguatan dari Hulu
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menyiapkan fondasi menuju pengembangan industri kakao yang lebih kuat. Gubernur Anwar Hafid melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Sulawesi Tengah, terus mendorong peningkatan produktivitas sekaligus kualitas kakao yang dihasilkan petani.
Pendampingan kepada petani terus dilakukan, tujuannya agar teknik budidaya semakin baik dan hasil panen memenuhi standar industri.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulawesi Tengah, Muhammad Neng, mengatakan pemerintah pusat pada 2026 mengalokasikan sekitar 9,8 juta batang bibit kakao, untuk mendukung pengembangan komoditas tersebut di Sulawesi Tengah.
Menurutnya, ketersediaan benih unggul merupakan fondasi utama, untuk meningkatkan produktivitas kebun kakao sekaligus mendukung pengembangan komoditas tersebut di masa mendatang.
Penangkar Bibit Jadi Kekuatan Daerah
Sulawesi Tengah juga memiliki keunggulan berupa pusat-pusat penangkaran bibit kakao, yang menjadi modal penting dalam mendukung pengembangan perkebunan.
Di Kabupaten Poso, terdapat penangkar yang mampu menyediakan sekitar empat juta bibit kakao, dengan kualitas pertumbuhan yang dinilai sangat baik.
“Ada satu penangkar itu kurang lebih ada 4 juta bibit kakao dan kalau menurut pengamatan saya pertumbuhannya bagus,” kata Muhammad Neng.
Selain Poso, Kabupaten Parigi Moutong juga memiliki penangkar bibit dengan kapasitas sekitar dua hingga tiga juta batang yang siap dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan petani.
Keberadaan pusat pembibitan tersebut, diharapkan mampu mempercepat program peremajaan tanaman sekaligus meningkatkan produktivitas kakao Sulawesi Tengah.
Hilirisasi Menjadi Jalan Keluar
Besarnya produksi kakao, dukungan bibit unggul, serta luasnya areal perkebunan, sebenarnya telah memberikan modal yang cukup bagi Sulawesi Tengah untuk naik kelas. Tantangan berikutnya adalah menghadirkan industri pengolahan di daerah.
Dengan adanya pabrik pengolahan, kakao tidak lagi hanya dijual sebagai komoditas mentah. Petani berpeluang memperoleh harga yang lebih baik, lapangan kerja di sektor industri akan terbuka, dan roda perekonomian daerah bergerak lebih cepat.
Hilirisasi juga akan memperpendek rantai distribusi, meningkatkan daya saing produk kakao Sulawesi Tengah, sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu pusat industri kakao nasional.
Maka, sudah saatnya Sulawesi Tengah tidak hanya dikenal, sebagai salah satu penghasil kakao terbesar di Indonesia, tetapi juga sebagai daerah yang mampu mengolah hasil kebunnya, menjadi produk bernilai tinggi. Sebab, kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hasil panen, melainkan oleh seberapa besar nilai tambah yang mampu diciptakan dan dinikmati di daerah sendiri. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan