Pada akhirnya, masa depan Sulawesi Tengah tidak hanya ditentukan oleh mereka yang hari ini memegang jabatan, tetapi juga oleh bagaimana generasi muda menggunakan kesempatan yang dimiliki untuk memberi arti bagi daerahnya
DARI SENAYAN, parlemen daerah, hingga dunia olahraga dan bisnis, mereka membawa wajah baru generasi muda Sulawesi Tengah.
Sulawesi Tengah tidak pernah kehabisan cerita tentang anak-anak mudanya.
Di tengah perubahan zaman, muncul generasi yang tidak hanya sibuk membangun karier, tetapi juga mulai mengambil peran dalam menentukan arah daerah. Mereka hadir dari berbagai latar belakang: politik, bisnis, organisasi, hingga olahraga.
Ada yang langkahnya sudah sampai ke jantung republik. Ada yang memilih mengabdi melalui parlemen daerah. Ada pula yang membangun pengaruh melalui dunia usaha dan organisasi olahraga.
Menariknya, di balik posisi dan jabatan yang mereka emban, ada satu kesan yang kerap muncul: kerendahan hati.
Mereka bisa duduk di ruang-ruang penting, tetapi tetap bergaul dengan siapa saja. Jabatan menjadi bagian dari perjalanan, bukan alasan untuk menjaga jarak. Bagi mereka, kekuasaan boleh berganti, tetapi pertemanan dan rasa hormat seharusnya bertahan lebih lama.
Tentu, masing-masing memiliki latar belakang, gaya kepemimpinan, dan perjalanan yang berbeda. Namun, mereka sama-sama memperlihatkan bagaimana generasi muda Sulteng mulai mengambil ruang dalam kehidupan publik.
Lantas, siapa saja mereka?
Mari kita simak.
- Abcandra M. Akbar Supratman
Dari Palu ke Senayan, Menembus Panggung Politik Nasional
Nama Abcandra Muhammad Akbar Supratman atau yang akrab disapa Akbar, bukan lagi sekadar dikenal di Sulawesi Tengah.
Anak muda kelahiran 1998 ini telah menjadi bagian dari panggung politik nasional. Ia terpilih sebagai anggota DPD RI dari Sulawesi Tengah dan dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI.
Akbar ini adalah putra dari Supratman Andi Agtas, Menteri Hukum, dan Idayanti Pandan, seorang notaris di Jakarta. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki kedekatan dengan dunia hukum, aktivis, dan kehidupan profesional.
Di usia yang masih muda, Akbar telah menempati salah satu posisi strategis dalam struktur politik nasional. Namanya tercatat sebagai bagian dari generasi muda Sulteng yang berhasil menembus lingkaran elite republik.
Namun, perjalanan Akbar tidak semata-mata tentang jabatan.
Di Sulawesi Tengah, ia masih terus berkeliling ke berbagai daerah, menemui masyarakat, menyerap aspirasi, dan mengikuti persoalan yang dihadapi warga. Infrastruktur, pendidikan, serta kebutuhan masyarakat menjadi bagian dari isu yang ia bawa dalam kiprahnya sebagai senator.
Sebagai anak menteri, posisi tersebut tentu menjadi bagian dari latar belakang keluarganya. Namun, yang menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana ia membangun perjalanan dan kiprahnya sendiri di tengah panggung politik nasional.
Akbar juga memiliki pengalaman organisasi dan dunia usaha sebelum terjun ke dunia politik. Gaya pergaulannya yang terbuka dan rendah hati menjadi kesan yang kerap muncul dari orang-orang yang mengenalnya.
Di balik jabatan tinggi yang disandangnya, Akbar tetap membawa identitas sebagai anak muda Sulteng yang sedang menapaki perjalanan panjang dalam kehidupan publik.
- Dandhy Adhi Prabowo
Politisi Muda, Pengusaha, dan Perhatian pada Lingkungan
Dandhy Adhi Prabowo lahir pada 1996. Ia merupakan bagian dari generasi milenial yang memilih terjun ke dunia politik sekaligus membangun kiprah di dunia usaha.
Dandhy duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah dari daerah pemilihan Banggai Raya, yang meliputi Banggai, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut.
Di luar parlemen, ia juga dikenal sebagai pengusaha muda yang aktif dalam lingkungan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).
Dua dunia yang ia jalani tersebut, mempertemukan kepentingan yang berbeda: dunia usaha yang berbicara tentang pertumbuhan dan peluang, serta dunia politik yang menuntut perhatian terhadap persoalan masyarakat.
Salah satu isu yang menjadi perhatian Dandhy adalah lingkungan hidup. Bagi daerah seperti Banggai Raya, yang memiliki kekayaan alam dan aktivitas ekonomi yang terus berkembang, isu lingkungan bukan perkara sederhana. Ia bersinggungan dengan kehidupan masyarakat, keberlanjutan sumber daya, dan arah pembangunan.
Dandhy berasal dari keluarga yang memiliki pengalaman di dunia usaha dan politik. Ayahnya, Jemy Nayoan, dikenal sebagai pengusaha, sementara ibunya, Batia Sisilia Hadjar, merupakan Wakil Ketua DPRD Banggai.
Namun, perjalanan setiap anak muda tetap harus dilihat dari kiprah dan tanggung jawab yang dijalankannya sendiri.
Di parlemen, Dandhy menghadapi ruang kerja yang menuntut kemampuan menyuarakan kepentingan masyarakat. Di dunia usaha, ia berada dalam lingkungan yang membutuhkan keberanian mengambil peluang.
Dua jalur tersebut menjadi bagian dari cerita generasi muda Sulteng yang berusaha membangun pengaruh melalui berbagai bidang.
- Rico A.T. Djanggola
Memilih Jalur Usaha Sebelum Menempati Kursi Ketua DPRD
Rico A.T. Djanggola, atau yang akrab dipanggil Caco, merupakan salah satu wajah politik muda di Kota Palu.
Lahir pada 1981, ia terpilih sebagai anggota DPRD Kota Palu dari daerah pemilihan Palu Timur dan Mantikulore. Ia kemudian dipercaya menduduki posisi Ketua DPRD Kota Palu.
Rico berasal dari keluarga yang tidak asing dengan dunia politik. Ayahnya, Longki Djanggola, pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Tengah dan kini sebagai anggota DPR RI, sedangkan ibunya merupakan anggota DPRD Sulteng.
Namun, sebelum masuk ke parlemen, Rico memilih menekuni dunia usaha.
Pilihan tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan hidupnya. Ketika lingkungan keluarganya memiliki pengalaman dalam pemerintahan dan politik, ia justru membangun jalur profesionalnya melalui dunia bisnis.
Menjadi pengusaha bukan berarti berada di luar kehidupan publik. Dunia usaha juga mempertemukan seseorang dengan berbagai persoalan masyarakat, mulai dari lapangan kerja, aktivitas ekonomi, hingga kebutuhan pembangunan.
Kini, sebagai Ketua DPRD Kota Palu, Rico berada di ruang yang berbeda. Ia memiliki tanggung jawab kelembagaan dalam menjalankan fungsi parlemen daerah.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman hidup sebelum masuk politik dapat menjadi bagian dari cara seseorang memahami persoalan masyarakat.
Bagi Caco, jabatan politik merupakan fase baru dalam perjalanan. Tantangannya adalah bagaimana pengalaman dan posisi yang dimiliki dapat diterjemahkan menjadi kerja yang bermanfaat bagi kota yang diwakilinya.
- Muhammad Fathur Razaq
Memimpin KONI dengan Prinsip: Datang untuk Melayani
Muhammad Fathur Razaq memiliki jalur perjalanan yang berbeda dari tiga nama sebelumnya.
Ia tidak tampil melalui panggung parlemen, melainkan melalui dunia olahraga.
Fathur dipercaya memimpin Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) periode 2025–2029. Dalam narasi tentang perjalanan kepemimpinannya, ia disebut sebagai salah satu ketua KONI termuda di Indonesia, terpilih secara aklamasi pada usia 26 tahun.
Usia muda menjadi salah satu ciri yang melekat pada kepemimpinannya.
Namun, memimpin organisasi olahraga bukan semata persoalan usia. KONI berhadapan dengan pembinaan atlet, prestasi, tata kelola organisasi, serta harapan masyarakat terhadap perkembangan olahraga daerah.
Di tengah tanggung jawab tersebut, Fathur membawa prinsip yang sederhana, tetapi memiliki makna penting:
“Datang untuk melayani, bukan untuk dilayani.”
Kalimat itu menggambarkan cara pandang kepemimpinan yang menempatkan pelayanan sebagai bagian dari tanggung jawab.
Fathur juga dikenal dengan gaya komunikasi yang terbuka. Dalam keseharian, ia disebut tidak sulit dihubungi dan berupaya merespons pesan yang masuk.
Hal-hal sederhana seperti itu sering kali membentuk kesan seseorang di tengah lingkungan pergaulan.
Ia memang belum dikenal melalui kiprah partai politik seperti beberapa nama lainnya dalam daftar ini. Namun, dunia olahraga menyediakan ruang tersendiri bagi generasi muda untuk memberikan kontribusi.
Di KONI, tantangan Fathur adalah membangun organisasi yang mampu mendukung atlet, mengembangkan pembinaan, dan menghadirkan prestasi yang dapat dibanggakan masyarakat Sulawesi Tengah.
- Moh. Anugrah Pratama
Dari Perolehan Suara ke Kursi Pimpinan DPRD Kota Palu
Anugrah Pratama lahir pada 1997. Ia termasuk generasi Z yang memilih membangun karier melalui jalur politik.
Politisi muda Partai NasDem ini terpilih sebagai anggota DPRD Kota Palu. Perolehan suara yang disebut menjadi yang tertinggi di internal partainya kemudian mengantarkannya pada posisi Wakil Ketua DPRD Kota Palu.
Dari kontestasi pemilihan umum, ia melangkah menuju ruang pimpinan parlemen daerah.
Perjalanan itu, menunjukkan bagaimana arena politik memberikan ruang bagi figur muda untuk mengambil tanggung jawab kelembagaan. Namun, kepercayaan elektoral juga datang bersama tuntutan untuk bekerja, menyerap aspirasi, dan menjalankan fungsi parlemen.
Anugrah berasal dari keluarga yang memiliki pengalaman politik. Ayahnya, Ahmad Ali, dikenal sebagai tokoh politik nasional, sementara ibunya, Nilam Sari Lawira, merupakan anggota DPR RI dari Partai NasDem.
Latar belakang keluarga menjadi bagian dari cerita perjalanan hidupnya. Namun, kiprah politik setiap individu tetap perlu dilihat melalui peran, keputusan, dan tanggung jawab yang dijalankan.
Di luar aktivitas politik, Anugrah juga baru memasuki fase kehidupan pribadi setelah menikah dengan Elvina Ayu Agustien.
Dua perjalanan tersebut—kehidupan keluarga dan tanggung jawab publik—berjalan beriringan dalam kehidupan seorang anak muda yang kini berada di lingkungan pimpinan DPRD Kota Palu.
Generasi Muda dan Masa Depan Sulteng
Lima nama tersebut memperlihatkan beragam jalur yang ditempuh anak muda Sulawesi Tengah.
Akbar berada di panggung politik nasional. Dandhy memadukan dunia usaha dan parlemen. Rico membawa pengalaman bisnis ke lingkungan politik daerah. Fathur memilih jalur olahraga. Sementara Anugrah meniti perjalanan melalui parlemen Kota Palu.
Mereka tidak memiliki latar belakang dan pengalaman yang sama. Cara memimpin, ruang kerja, serta tantangan yang dihadapi pun berbeda.
Namun, ada satu hal yang menarik untuk diperhatikan: generasi muda tidak lagi hanya menjadi penonton dalam perubahan daerah. Mereka mulai hadir sebagai pelaku.
Kehadiran mereka tentu perlu diikuti dengan kerja yang terukur, keterbukaan terhadap kritik, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Sebab, pengaruh tidak hanya lahir dari jabatan. Ia juga dibangun melalui kepercayaan, konsistensi, dan cara seseorang memperlakukan orang lain.
Jabatan bisa berakhir. Kekuasaan bisa berganti. Tetapi, jejak pengabdian dan hubungan antarmanusia akan menjadi bagian dari cerita yang lebih panjang.
Pada akhirnya, masa depan Sulteng tidak hanya ditentukan oleh mereka yang hari ini memegang jabatan, tetapi juga oleh bagaimana generasi muda menggunakan kesempatan yang dimiliki untuk memberi arti bagi daerahnya. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan