Senin, 22 April 2024

HEY BOSSKU: Kritik Adi Tangkilisan atas Realitas Politik Kekinian

HEY BOSSKU, Single terbaru Adi Tangkilisan | Foto: ist

LAMA MENGENDAP dalam catatan dan imajinasi penulisnya, akhirnya HEY BOSSKU lahir dalam sorotan lirik yang tajam, lugas tanpa basa-basi.

Lirik dan judul lagu ini, sudah ada dalam pikiran dan catatan kecil penulisnya sejak 2004. Adalah Adi Tangkilisan, seniman progresif asal Palu, yang kini terus berproses dalam dunia musik, menulis kegelisahannya atas realitas kehidupan politik hari ini, yang semakin ke sini semakin tidak beres.

Karya seni, selalu lahir dari pergolakan jiwa yang bersinggungan dengan realitas peradaban. Begitu kira-kira yang tampak dari setiap karya yang lahir dari alam pikir Adi Tangkilisan atau Papa Guma. Dari sekian banyak karyanya dalam bermusik, HEY BOSSKU adalah yang teranyar, setelah sabar menunggu momentum selama 20 tahun.

Panjang memang waktunya untuk menunggu, sebab Adi bukanlah solois yang biasa tampil sendiri. Ia besar dan tumbuh dari band. Sebelum merilis BOSSKU, bersama dua kawannya, Iwan dan Tommy, Adi merilis single SEARAH pada 2020.

SEARAH juga menyuarakan kegelisahan akan perbedaan, menyoroti potensi konflik akibat perselisihan dan beda pendapat, yang akhir-akhir makin sering terjadi dalam lingkup pergaulan.

Setelah berhasil menggarap dan merilis SEARAH, mereka sepakat membentuk band dinamakan PARAPAPPA pada 2021, walaupun mereka saat itu tinggal di tiga kota berbeda; Iwan tinggal di Jakarta, Tommy di Surabaya, dan Adi Tangkilisan di Palu.

Karena soal jarak ini, SEARAH digarap dalam proses yang juga memakan waktu, setelah melalui diskusi panjang melalui grup WhatsApp. Kesamaan persepsi dalam bermusik, telah menyatukan chemistry di antara mereka, yang akhirnya sepakat membentuk band rock alternatif yang produktif dan siap masuk ke Industri Musik Indonesia.

Dinamika pembentukan PARAPAPPA sebagai sebuah band, termasuk salah satu situasi yang kita temukan hanya di era ini. Bahwa jarak dan ruang tidak lagi menjadi batas yang berarti. Kecanggihan teknologi, telah mempertemukan orang-orang dengan ide-ide kreatif, memfasilitasi mereka dengan kemudahan sistem informasi, sehingga nyaris tak ada yang tak mungkin untuk diwujudkan.

BEDA LATAR GENRE MUSIK

Sekalipun ketiga musisi ini punya pengalaman panjang dalam bermusik, sayangnya mereka berangkat dari band bawaan dengan konsep berbeda. Iwan saat ini sedang aktif di band Traxtor yang mengusung Thrash Metal (atau hanya thrash) adalah subgenre ekstrim dari musik heavy metal yang ditandai dengan agresi keseluruhan dan tempo yang sering cepat.

Sedangkan Adi Tangkilisan, juga tengah giat-giatnya berproduksi di band folk progresif Culture Project yang khas dengan aransemen musik tradisinya. Demikian pula Tommy, mantan gitaris band Boomerang yang kini aktif di beberapa band rock Surabaya.

HEY BOSSKU, Single terbaru Adi Tangkilisan | Foto: tangkapan layar youtube

Tak sulit bagi mereka untuk berkolaborasi dalam sebuah band. Kedewasaan dalam bermusik, telah menuntun mereka mengawinkan gaya bermusik dengan gagasan yang selalu menggebu-gebu dalam kritik sosial. Tentu, baik Adi, Iwan maupun Tommy, masing-masing punya konsep atas idealisme karya-karyanya. Dengan kepekaan rasa dan intuisi yang mereka miliki, pandangan-pandangan ideal itu melebur dalam setiap karya musik mereka.

Demikian pula dengan genre, tak ada yang bisa dibilang dominan, dari latar genre bermusik mereka. Semua telah melebur, menyatu dalam gaya yang nantinya biar publik yang menilai. Kalaupun ada yang menyebut band mereka Rock alternatif, itu hanyalah pendekatan dasar saja, bukan sesuatu yang paten.

HEY BOSSKU, RILIS SETELAH MENUNGGU MOMEN

Sejak bertemu dan sepakat membentuk band pada 2020, PARAPAPPA telah merilis 5 lagu selama 2021. Proses garapannya pun sedikit agak rumit, karena masing-masing personil masih di kota yang berbeda. Iwan merekam vocal dari Jakarta. Demikian pula Tommy dan Adi, mengisi instrumen gitar dari Surabaya dan Palu.

Pada lima lagu tersebut, sebenarnya juga ada Farid-Boomerang yang mengisi drum. Namun ia akhirnya mundur, karena kesibukannya bersama Tommy di Surabaya menggarap band lain.

HEY BOSSKU, sekalipun sudah lama menunggu di daftar antrian, harus bersabar bertemu momentum dan rilis pada minggu kedua Maret 2024.

Saat penggarapan lagu ini, Iwan sudah pindah ke Palu bersama keluarga, sehingga mempermudah proses rekaman dan mixing.

Adi Tangkilisan mengaku, lagu ini telah melalui proses penyempurnaan dengan konteks kekinian, dan menemukan momentum untuk dirilis, sekaligus untuk merespon musim kampanye politik yang menciptakan polusi foto diri di mana-mana, seperti yang tampak pada video klipnya.

Lantas kenapa mereka memilih diksi BOSS? Bukan tuan atau kata lain yang sepadan. Adi mengaku BOSS adalah sebuah penegasan kepada kuasa modal, power atau kendali person pada orang lain.

Kata BOSS dalam lagu ini kata dia, juga diekspresikan seperti yang tampak dalam realitas sosial politik, banyak person yang tumben, atau tiba-tiba berperilaku boss, ingin nyaleg untuk melayani rakyat.

Mereka muncul bagai pahlawan yang seakan sanggup sejahterakan masyarakat dan memberi solusi kebijakan. Padahal, dalam kenyataannya selama ini, mereka hanya peduli pada diri sendiri dan kelompoknya.

Selain itu, dalam pergaulan sehari-hari, BOSS juga bisa jadi panggilan nyeleneh oleh para kaum hipokrit yang ingin ditraktir, dibantu oleh seseorang yang juga senang dipanggil BOSS.

KOLABORASI YANG APIK, TAYANG DI KANAL YOUTUBE Kemistri

Seperti layaknya para seniman di era digital, HEY BOSS pertama kali rilis di platform YouTube Kemistri (Kekerabatan Ekositem Musik dan Industri). Dengan formasi Adi pada gitar, Iwan pada Vokal dan Tommy pada drum dan gitar, ditambah Kuo Indra (vokalis band Temperament Navigasi) sebagai additional player untuk mengisi bass. HEY BOSS tak bisa dibilang lagu sederhana.

Hentakan drumnya bergaya rock dengan pola ketukan polyrhythm 10/4, dipadu power achord pada rhythm gitarnya yang berprogres seperti pada lagu-lagu Grunge. Kalau Anda generasi yang sudah remaja pada era 90an, pasti tak mudah mencerna lagu ini. Gaya dan warnanya sekaligus menggambarkan era ketiga musisi ini tumbuh dan berproses.

Gambar Video Klip HEY BOSSKU | Foto: tangkapan layar

Untuk sebagian generasi-Z, mungkin agak terganggu telinganya dengan musik yang ditampilkan PARAPAPPA ini, sebab warnanya jarang ditemukan pada band-band yang hadir pada era ini.

Kehadiran PARAPAPPA melalui single HEY BOSS, sekaligus mengobati kerinduan para penikmat musik dari generasi X yang terbiasa dengan semangat rock.

Selain mengusung tema kritis ala band-band 90an, yang menarik dalam lagu ini adalah proses kolaborasi yang melibatkan banyak orang-orang kreatif di bidang seni. PARAPAPPA mempercayakan sound desain untuk lagu ini pada Gustav Pator, ia sekaligus melakukan proses mixing dan mastering.

Sementara dalam hal perekaman audio vocal dan instrumen, dilakukan di tempat berbeda. Tommy merekam gitar dan drum di studionya di Surabaya, suara vokal Iwan dan sebagian gitar direkam di Halaman Belakang Studio milik Yusuf Rajamuda di Palu, dan untuk bass oleh Indra Kuo, direkam di Tepidanau Studio di Tentena.

Kemudian, untuk menyajikan tampilan video klip yang apik dalam menerjemahkan tema lagu dalam bentuk visual, ada Ongi Bengga, pemilik Before After studio yang dipercaya sebagai sutradara sekaligus editor.

Untuk diketahui, Kemistri Indonesia, adalah sebuah gerakan pendekatan yang kini mulai dipromosikan oleh para pelaku seni kreatif di Palu, untuk berkarya bersama dalam prinsip-prinsip yang adil.

Mereka mencoba mengawinkan dua pendekatan dari kutub yang berbeda, antara pendekatan major label dan pendekatan gotong royong kesukarelaan. Sekalipun dua prinsip kerja ini masing-masing punya kelemahan, namun mereka akan berusaha menambal kekurangan pada masing-masing pendekatan tersebut.

Harapannya, ke depan proses berkarya oleh para seniman akan mendapatkan sisi keseimbangan; di satu sisi mereka leluasa dan dihargai dalam karya, sementara di sisi lain para penikmat hasil karya mereka memperoleh manfaat, yang juga akan dikembalikan pada proses kesenian yang berkelanjutan. Dengan catatan, proses ini harus melibatkan banyak pihak, sebagaimana sebuah ekosistem tumbuh dan berkembang. (*)

Penulis: Mohamad Sahril
Editor: Ruslan Sangadji