MENJELANG Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, suasana berbeda terlihat di halaman sebuah rumah di Jalan Lagarutu, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sejak sianh hari, warga dari berbagai penjuru berdatangan. Anak-anak, ibu-ibu, hingga para bapak berkerumun dengan wajah penuh harap.

Mereka datang ke rumah Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman.

Di halaman rumah itu, Akbar tampak berdiri mengenakan masker. Dengan sabar, satu per satu warga yang datang disambut dan diberikan uang tunai. Ada yang menerima Rp50 ribu, ada pula yang mendapatkan Rp100 ribu.

Tradisi ini dikenal oleh masyarakat Palu dengan sebutan hagala.

Bagi masyarakat setempat, hagala bukan sekadar berbagi uang. Hagala adalah tradisi lama yang hanya ditemukan di Palu dan daerah sekitarnya menjelang Lebaran. Setiap tahun, warga biasanya mendatangi rumah-rumah orang yang dianggap mampu, berharap mendapatkan sedikit rezeki untuk menyambut hari kemenangan.

Suasana di rumah Akbar sore itu penuh kehangatan. Anak-anak yang menerima uang tampak sumringah. Beberapa bahkan langsung berlari kembali ke kerumunan sambil menunjukkan uang yang baru mereka terima. Sementara para orang tua tampak tersenyum, mengucapkan terima kasih sebelum melangkah pergi.

Abcandra M. Akbar Supratman sendiri memang sedang pulang kampung atau mudik ke Palu dalam momentum Ramadhan tahun ini. Ia telah berada di Kota Palu sejak 14 Maret 2026.

Dalam tradisi lokal, hagala memiliki makna yang cukup dalam. Istilah ini diyakini berasal dari bahasa Arab, dari dua suku kata: haq dan Allah.

Maknanya sederhana namun kuat: di dalam setiap rezeki yang dimiliki seseorang, terdapat hak Allah yang harus dibagikan kepada sesama.

Karena itu, hagala tidak hanya dimaknai sebagai sedekah. Tetapi juga menjadi simbol kepedulian sosial, sekaligus pengingat bahwa kebahagiaan menjelang Lebaran sebaiknya dirasakan bersama.

Di Palu, tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan terus dijaga oleh masyarakat. Setiap Ramadhan menjelang Idul Fitri, pemandangan warga mendatangi rumah-rumah untuk hagala selalu menjadi bagian dari cerita kota.

Di rumah Akbar Supratman, tradisi itu kembali hidup tahun ini.

Di tengah keramaian warga yang datang silih berganti, satu hal yang terasa jelas: hagala bukan sekadar memberi uang, tetapi merawat nilai berbagi yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Palu. (*)

(Ruslan Sangadji)