Oleh: Ruslan Sangadji / Kaidah.ID
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, bumi mengeluarkan isi perutnya, dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi dengannya (bumi)?” Pada hari itu (bumi) menyampaikan berita (tentang apa yang diperbuat manusia di atasnya), karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya” (QS. Az-Zalzalah: 1-5).
Dalam penjelasan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bumi kelak akan menjadi saksi atas seluruh perbuatan manusia. Bumi akan menceritakan apa yang terjadi di atasnya: siapa yang menanam pohon dan siapa yang menebang hutan; siapa yang menjaga sungai dan siapa yang mencemarkannya; siapa yang merawat alam dan siapa yang merusaknya.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni, mengingatkan kita bahwa bumi sesungguhnya sedang “berbicara” sejak sekarang. Banjir, longsor, kekeringan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga pencemaran laut merupakan bahasa alam yang mengabarkan kondisi dirinya kepada manusia.
Di Indonesia, suara bumi itu terdengar semakin keras.
Data terbaru menunjukkan, sepanjang tahun 2025 Indonesia kehilangan hutan seluas 433.751 hektare, meningkat 66 persen dibandingkan tahun 2024. Angka ini merupakan tingkat kehilangan hutan tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Deforestasi terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, Sumatra, Papua, Sulawesi, dan Maluku.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian kehilangan hutan tersebut, terkait dengan perluasan kawasan pertambangan. Sedikitnya 41.162 hektare hutan berubah menjadi konsesi tambang batubara, emas, dan nikel selama tahun 2025 (Sumber Data Reuters).
Di Sulawesi, terutama Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan, ledakan industri nikel telah mengubah bentang alam secara drastis. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai bagian dari Wallacea—salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia—kini menghadapi tekanan besar akibat pembukaan tambang, pembangunan smelter, dan perluasan kawasan industri. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ekspansi industri nikel telah memicu kehilangan tutupan hutan, sedimentasi sungai, penurunan kualitas perairan pesisir, serta ancaman terhadap ekosistem laut dan terumbu karang.
Di Morowali, Sulawesi Tengah, kawasan industri pengolahan nikel terbesar di dunia terus berkembang, untuk memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik global. Namun di balik narasi transisi energi hijau, penelitian satelit terbaru menemukan adanya penurunan kejernihan perairan pesisir, yang berkorelasi dengan ekspansi kawasan industri tersebut. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekosistem laut, tetapi juga oleh masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada perikanan.
Di Sulawesi Tenggara, berbagai laporan dan penelitian mencatat kerusakan daerah aliran sungai, sedimentasi pesisir, serta terganggunya lahan pertanian akibat aktivitas pertambangan nikel. Di kawasan Teluk Lasolo dan sekitar Pulau Labengki, masyarakat dan pegiat lingkungan melaporkan penurunan kualitas perairan, serta kerusakan terumbu karang akibat limpasan material tambang.
Sementara itu, di Maluku Utara, khususnya Pulau Halmahera dan pulau-pulau kecil sekitarnya, pertambangan nikel berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kajian menunjukkan bahwa aktivitas ekstraktif tersebut, berkontribusi terhadap degradasi lingkungan, memperbesar kerentanan ekosistem pesisir, serta menambah tekanan terhadap sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat lokal.
Ironisnya, sebagian besar kerusakan tersebut terjadi atas nama pembangunan dan kebutuhan dunia akan energi bersih. Nikel Indonesia menjadi bahan baku penting baterai kendaraan listrik global. Namun para investor internasional, organisasi lingkungan, dan lembaga hak asasi manusia kini semakin menyoroti risiko deforestasi, pencemaran, dan kerusakan ekosistem yang menyertai rantai pasok nikel tersebut.
Seandainya bumi dapat berbicara hari ini, mungkin ia akan berkata:
“Di sini dahulu berdiri hutan hujan tropis yang menjadi rumah burung, mamalia, dan ribuan spesies tumbuhan. Di sini dahulu mengalir sungai yang jernih menuju laut. Di sini manusia menggali perut bumi demi memenuhi kebutuhan zamannya. Sebagian melakukannya dengan tanggung jawab, sebagian lagi tanpa memikirkan akibatnya.”
Namun bumi juga akan mengingat kisah yang berbeda:
“Di sini masyarakat adat mempertahankan hutannya. Di sini anak-anak menanam mangrove. Di sini para relawan membersihkan pantai. Di sini ada orang-orang yang memilih menjaga alam karena sadar bahwa bumi bukan warisan nenek moyang, melainkan titipan bagi generasi mendatang.”
MARI RENUNGKAN KEMBALI
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 mengajak kita merenungkan kembali pesan Surah Az-Zalzalah. Kelak bumi memang akan bersaksi di hadapan Allah. Tetapi sebelum hari itu tiba, bumi telah lebih dahulu memberikan kesaksiannya melalui fakta-fakta yang kita lihat setiap hari: hutan yang hilang, sungai yang keruh, laut yang tercemar, dan iklim yang semakin tidak menentu.
Pertanyaannya bukan apakah bumi akan berbicara. Al-Qur’an telah memastikan itu.
Pertanyaannya adalah: ketika bumi menyampaikan beritanya kelak, apakah ia akan bersaksi bahwa kita adalah generasi yang merawatnya, atau generasi yang membiarkannya terluka?
Bumi tidak pernah menulis laporan. Bumi tidak menyusun statistik. Bumi tidak berbicara dalam bahasa manusia. Bumi tidak menggelar konferensi pers. Namun setiap pohon yang tumbang, setiap sungai yang berubah warna, setiap spesies yang menghilang, adalah kalimat-kalimat yang sedang dituliskannya kepada kita.
Kita hidup pada zaman ketika kemampuan manusia mengubah alam, mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gunung dapat diratakan, sungai dapat dibelokkan, laut dapat direklamasi, dan isi perut bumi dapat diangkat dalam skala masif, untuk memenuhi kebutuhan industri global. Kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tanggung jawab moral yang jauh lebih besar.
Di tengah perlombaan ekonomi dan pembangunan, sering kali kita lupa bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan ruang kehidupan yang menopang seluruh makhluk. Hutan bukan hanya kumpulan pohon, tetapi rumah bagi keanekaragaman hayati, penyimpan air, pengatur iklim, dan penyangga kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Laut bukan hanya jalur perdagangan dan sumber mineral, tetapi juga sumber pangan, budaya, dan penghidupan jutaan orang.
BUMI AKAN BERSAKSI
Al-Qur’an mengingatkan: Kerusakan di darat dan di laut, terjadi karena ulah tangan manusia, agar manusia merasakan sebagian akibat dari perbuatannya dan kembali kepada jalan yang benar (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini bukan sekadar peringatan spiritual, melainkan juga refleksi ekologis yang terasa semakin relevan hari ini. Ketika banjir datang lebih sering, ketika musim semakin sulit diprediksi, ketika udara dan air kehilangan kualitasnya, sesungguhnya manusia sedang berhadapan dengan konsekuensi dari pilihan-pilihannya sendiri.
Karena itu, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan teknis atau kebijakan pembangunan. Tetapi juga amanah moral dan spiritual. Menanam pohon, mengurangi sampah, menjaga sungai, melindungi hutan, mengawasi praktik-praktik ekstraktif yang merusak, serta mendorong pembangunan yang berkeadilan ekologis, adalah bagian dari tanggung jawab kekhalifahan manusia di muka bumi.
Mungkin tidak semua orang dapat menghentikan deforestasi atau mengubah kebijakan global. Namun setiap orang dapat menentukan di sisi mana ia akan berdiri: menjadi bagian dari masalah atau menjadi bagian dari solusi; menjadi saksi kerusakan atau menjadi penjaga kehidupan.
Dan ketika kelak bumi menyampaikan beritanya di hadapan Allah, semoga yang tercatat bukan hanya jejak kaki kita yang pernah berjalan di atasnya, tetapi juga jejak kebaikan yang kita tinggalkan untuk menjaganya.
Pada akhirnya, Hari Lingkungan Hidup bukan sekadar peringatan tahunan. Hari Lingkungan Hidup adalah momen untuk memeriksa kembali hubungan kita dengan bumi yang kita pijak setiap hari. Sebab ketika sejarah menilai generasi ini, yang akan dikenang bukan hanya seberapa banyak sumber daya yang berhasil kita ambil dari alam, tetapi juga seberapa besar keberanian kita untuk menjaganya. Bumi akan bersaksi. Pertanyaannya, kesaksian seperti apa yang akan ia sampaikan tentang kita?
Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan