DI TANGANNYA tergenggam selembar ijazah kesetaraan Paket C. Bagi sebagian orang, dokumen itu mungkin hanya tanda kelulusan. Namun bagi Amel Tri Rianindi, ijazah tersebut adalah simbol perjuangan panjang yang sempat terhenti di tengah jalan.
Perempuan muda asal Kelurahan Lasoani, Kota Palu itu, pernah membayangkan dirinya akan lulus SMA bersama teman-teman seangkatannya. Namun takdir berkata lain. Saat duduk di bangku kelas III SMA, Amel Tri Rianindi harus meninggalkan sekolah demi merawat orang tuanya yang sakit.
Hari-harinya yang semula diisi pelajaran dan tugas sekolah, berubah menjadi rutinitas menjaga orang tua di rumah. Impian melanjutkan pendidikan terpaksa disimpan rapat-rapat.
“Saya putus sekolah saat kelas III SMA, karena harus mengurus orang tua yang sakit,” tuturnya pelan.
Setelah itu, hampir setahun lamanya Amel tidak memiliki aktivitas pendidikan maupun pekerjaan. Ia hanya bisa menyaksikan teman-temannya melangkah maju, sementara dirinya tertahan oleh keadaan. Namun harapan tidak benar-benar hilang.
Kesempatan itu datang, ketika ia mengetahui adanya Program Mosikola, program pendidikan kesetaraan yang dijalankan Yayasan Kana Mapande Palu bersama PT Citra Palu Mineral (CPM). Program tersebut membuka jalan bagi warga yang sempat putus sekolah, untuk kembali mendapatkan hak pendidikan mereka. Amel memutuskan bergabung.
Perlahan, langkah yang sempat terhenti kembali bergerak. Ia mengikuti proses belajar bersama peserta lain yang memiliki kisah dan perjuangan berbeda-beda. Ada yang terkendala ekonomi, ada yang harus bekerja sejak usia muda, dan ada pula yang mengalami persoalan keluarga.
Bagi Amel, kembali belajar bukan perkara mudah. Setelah lama meninggalkan bangku sekolah, ia harus menyesuaikan diri lagi dengan materi pelajaran dan jadwal belajar. Namun keinginannya untuk menyelesaikan pendidikan jauh lebih besar daripada rasa lelah yang dirasakan.
Hingga akhirnya, Sabtu, 20 Juni 2026, menjadi hari yang tak akan mudah ia lupakan.
Di sebuah ruangan sederhana di Palu, Amel berdiri menerima ijazah Paket C yang selama ini diperjuangkannya. Senyum tipis terlihat di wajahnya saat dokumen itu berpindah ke tangannya.
Perjalanan yang sempat terputus akhirnya menemukan ujungnya.
“Setelah menerima ijazah Paket C, saya berencana langsung bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.
Ia bersyukur, karena kesempatan yang diberikan melalui Program Mosikola telah membawanya kembali ke jalur pendidikan.
“Alhamdulillah, berkat CPM saya bisa ikut Program Mosikola,” ujarnya.
Amel hanyalah satu dari 50 peserta didik, yang tahun ini berhasil menyelesaikan pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C melalui Program Mosikola.
BISA MENDAFTAR SEBAGAI PEKERJA DI PT CPM
Program yang telah berjalan selama lima tahun tersebut, merupakan hasil kerja sama PT Citra Palu Mineral (CPM) dan Yayasan Kana Mapande Palu, untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat, khususnya warga di wilayah lingkar tambang.
Tim PPM CSR PT CPM, Moh Riski Sultan, mengatakan ada 50 warga pada 2026 ini, yang mendapat dukungan melalui program tersebut.
“Tahun 2026, ada 50 orang di wilayah lingkar tambang yang mendapat dukungan dalam program ini. Kami berharap mereka bisa melanjutkan pendidikan sesuai dengan jenjangnya,” ujarnya.
Tak hanya membantu peserta memperoleh ijazah, CPM juga membuka peluang peningkatan keterampilan melalui pelatihan komputer bagi para lulusan.
“Setelah lulus, mereka bisa mengikuti pendidikan komputer atau mendaftar bekerja di perusahaan CPM karena tidak ada pembeda pendidikan formal di perusahaan kami,” kata Riski.
Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Hardi. Menurutnya, program pendidikan kesetaraan menjadi salah satu solusi nyata untuk membantu anak-anak yang terpaksa putus sekolah karena berbagai alasan.
“Banyak kendala yang dihadapi anak-anak kita sehingga tertunda melanjutkan pendidikan. Dengan adanya bantuan CPM, persoalan anak putus sekolah dapat terbantu,” katanya.
Sementara itu, Kepala PKBM Kana Mapande, Mawardin, menjelaskan proses pembelajaran dilakukan dua kali dalam sepekan melalui tatap muka, pembelajaran daring, hingga kunjungan langsung ke rumah peserta didik.
Sebanyak 12 tenaga pengajar yang berasal dari Kota Palu dan Kabupaten Sigi, terlibat dalam program tersebut. Para peserta berasal dari berbagai daerah, mulai dari Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala hingga Parigi Moutong.
Di balik angka 50 lulusan itu, tersimpan puluhan cerita perjuangan yang berbeda. Ada yang berjuang melawan keterbatasan ekonomi, ada yang harus bekerja sejak usia muda, dan ada pula yang seperti Amel, memilih menghentikan sekolah demi merawat orang tua.
Kini mereka memiliki kesempatan yang sama untuk melangkah ke masa depan.
Bagi Amel Tri Rianindi, ijazah yang diterimanya bukan sekadar akhir dari sebuah perjalanan pendidikan. Ia adalah awal dari harapan baru—harapan untuk bekerja, membantu keluarga, dan membuktikan bahwa mimpi yang sempat tertunda tidak harus berakhir selamanya. (*)

Tinggalkan Balasan