Oleh: Salihudin (Penulis Buku Menata Kota, Menyusun Harapan, Kisah Inspiratif dari Palu)
DULU, jika orang menyebut Morowali, yang terbayang mungkin daerah pesisir, kampung-kampung nelayan, kebun, dan jalan panjang menuju wilayah timur Sulawesi Tengah. Hari ini, nama Morowali sudah berubah menjadi salah satu penanda penting dalam peta ekonomi Indonesia. Penyebab utamanya adalah Indonesia Morowali Industrial Park atau IMIP.
Dalam dua tahun terakhir, 2024-2025, kontribusi IMIP terlihat semakin kuat. Bukan hanya untuk Kabupaten Morowali, tetapi juga untuk Sulawesi Tengah dan bahkan ekonomi nasional. Angkanya cukup mencolok. Ekonomi Sulawesi Tengah pada 2025 mencapai sekitar Rp415,48 triliun dan tumbuh 8,47 persen. Ini jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di sekitar 5,11 persen. Artinya, Sulteng sedang berlari lebih cepat dari rata-rata Indonesia.
Dari mana tenaga larinya? Salah satunya dari industri pengolahan, terutama yang berpusat di Morowali. Pada 2025, industri pengolahan menyumbang sekitar 41 persen terhadap ekonomi Sulawesi Tengah. Ini bukan angka kecil. Ini berarti hampir separuh denyut ekonomi provinsi, digerakkan oleh aktivitas mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah.
Morowali bahkan lebih menarik lagi. Pada 2024, PDRB Morowali mencapai sekitar Rp173,87 triliun. Tahun 2025 diperkirakan naik menjadi sekitar Rp197,77 triliun. Dengan angka itu, Morowali menyumbang sekitar 47,6 persen terhadap total ekonomi Sulawesi Tengah. Sederhananya, hampir separuh ekonomi Sulteng bertumpu pada satu kabupaten. Ini luar biasa, sekaligus perlu dibaca dengan hati-hati.
IMIP juga menjadi magnet investasi. Sampai Desember 2025, akumulasi investasi di kawasan ini mencapai sekitar US$41,48 miliar atau kurang lebih Rp696,91 triliun. Angka sebesar ini bukan hanya berarti pabrik berdiri. Ini juga berarti pelabuhan bergerak, truk berjalan, pekerja datang, kos-kosan tumbuh, warung makan ramai, bengkel hidup, laundry berkembang, dan uang berputar di sekitar kawasan.
Dari sisi tenaga kerja, IMIP mencatat lebih dari 85 ribu pekerja Indonesia pada Mei 2025. Jika memakai upah minimum sektoral Morowali sebagai ukuran konservatif, perputaran upah langsung diperkirakan sekitar Rp338 miliar per bulan. Bayangkan uang sebesar itu masuk ke pasar lokal setiap bulan. Tidak heran jika UMKM di Bahodopi ikut tumbuh. Pada Maret 2025, jumlah UMKM di sekitar Bahodopi tercatat lebih dari 7.600 unit dan menyerap lebih dari 16 ribu tenaga kerja.
Namun, pertumbuhan besar selalu membawa pekerjaan rumah besar. Jalan makin padat. Kebutuhan air bersih makin besar. Sampah bertambah. Hunian pekerja harus ditata. Lingkungan harus dijaga. Keselamatan kerja tidak boleh dianggap urusan kecil. Morowali tidak boleh hanya menjadi tempat produksi, tetapi harus menjadi ruang hidup yang layak.
IMIP telah membuktikan bahwa hilirisasi bisa mengubah daerah pinggiran menjadi pusat pertumbuhan. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan itu tidak hanya besar di angka, tetapi juga terasa adil di rumah-rumah warga. Ekonomi boleh melesat, tetapi manusia dan lingkungan tidak boleh tertinggal.
Tamat!
(Editor: Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan