Teknologi supercritical memungkinkan pembangkit mencapai efisiensi termal sebesar 38 hingga 45 persen, lebih tinggi dibandingkan PLTU subkritis yang umumnya hanya berkisar 33 hingga 39 persen

MOROWALI, KAIDAH.ID – PT Qing Kota Metal (QKM), salah satu tenant di kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), menerapkan teknologi Supercritical Boiler pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 380 Megawatt (MW). Teknologi tersebut diklaim mampu meningkatkan efisiensi penggunaan energi sekaligus menekan emisi dan limbah hasil pembakaran.

Manajer Departemen Environmental PT IMIP, Yundi Sobur, mengatakan teknologi supercritical boiler bekerja pada tekanan dan temperatur uap di atas titik kritis air, sehingga mampu menghasilkan listrik dengan efisiensi lebih tinggi dibandingkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) konvensional atau subkritis.

Menurutnya, sistem tersebut memanfaatkan panas pembakaran secara lebih optimal, tanpa melalui proses pendidihan dan pemisahan air serta uap yang berpotensi menyebabkan kehilangan energi.

“Teknologi supercritical memungkinkan pembangkit mencapai efisiensi termal sebesar 38 hingga 45 persen, lebih tinggi dibandingkan PLTU subkritis yang umumnya hanya berkisar 33 hingga 39 persen,” kata Yundi dalam keterangan tertulis Media Departmen PT IMIP, Rabu, 1 Juli 2026.

Ia menjelaskan, peningkatan efisiensi tersebut berdampak pada berkurangnya konsumsi batubara, untuk menghasilkan energi listrik dalam jumlah yang sama. Kondisi itu turut menekan emisi karbon dioksida (CO₂), sulfur dioksida (SO₂), nitrogen oksida (NOx), serta partikulat yang dihasilkan dari proses pembakaran.

Untuk mendukung pengendalian pencemaran udara, PLTU PT QKM juga dilengkapi sejumlah fasilitas, di antaranya Flue Gas Desulfurization (FGD) untuk mengurangi emisi sulfur dioksida, serta Electrostatic Precipitator (ESP) dan Bag House Filter yang berfungsi menangkap partikulat hasil pembakaran.

Yundi menyebutkan, hasil pemantauan emisi cerobong pada semester II 2025 menunjukkan kadar sulfur dioksida sebesar 129,9 mg/Nm³, nitrogen oksida 146,9 mg/Nm³, partikulat 24,9 mg/Nm³, dan merkuri 0,022 mg/Nm³. Seluruh parameter tersebut berada di bawah baku mutu yang ditetapkan pemerintah.

Sementara pada semester I 2026, hasil pemantauan mencatat emisi sulfur dioksida sebesar 81 mg/Nm³, nitrogen oksida 165 mg/Nm³, partikulat 3 mg/Nm³, dan merkuri 0,01 mg/Nm³. Menurut perusahaan, seluruh hasil pengukuran masih berada di bawah ambang batas yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 15 Tahun 2019.

Selain mengurangi emisi, penerapan teknologi supercritical boiler juga dinilai mampu menekan volume limbah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) karena kebutuhan batubara menjadi lebih sedikit. Proses pembakaran yang lebih sempurna juga diklaim mengurangi kandungan karbon yang tidak terbakar sehingga meningkatkan kualitas residu pembakaran.

Yundi menerangkan, penerapan teknologi tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan meningkatkan efisiensi energi sekaligus mendukung praktik industri yang lebih ramah lingkungan.

“Melalui kombinasi efisiensi energi, teknologi pengendalian emisi modern, serta pengurangan limbah hasil pembakaran, PLTU PT Qing Kota Metal diharapkan dapat menjadi contoh penerapan teknologi pembangkit listrik yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan bagi perkembangan industri di Indonesia,” ujarnya. (*)

(Ruslan Sangadji)