Piala Dunia 2026 membuktikan satu hal. Negara yang “cintanya kurang” pada sepakbola saja bisa mendatangkan 3,6 juta orang ke stadion. Masa kita yang cintanya berlebihan tidak bisa?

Amerika Serikat bukan rumahnya sepakbola. Hanya 1 dari 5 warganya yang mengaku suka bola, dan popularitasnya masih kalah dari NFL, NBA, MLB, sampai NHL. Tapi begitu ditunjuk jadi tuan rumah Piala Dunia 2026, mereka memperlakukannya seperti Super Bowl yang digelar 39 hari nonstop. Hasilnya? Stadion penuh, uang berputar, dan dunia belajar lagi. Indonesia, sebagai negara yang darahnya bola, harusnya paling banyak dapat pelajarannya.


Saat Sepakbola Dijual Seperti Konser, Bukan Sekadar Pertandingan

Yang bikin beda di 2026 bukan cuma stadionnya yang megah. AT&T Stadium di Dallas muat 92 ribu orang. BC Place Vancouver dan Seattle Field juga di atas 66 ribu. Tapi yang dijual bukan kursinya.

Yang dijual adalah pengalamannya.

FIFA mencatat, rata-rata penonton per laga di Piala Dunia kali ini mencapai 64.700 orang dengan tingkat keterisian stadion 99,54%. Total penonton fase grup saja sudah 4,6 juta orang. Rekor akumulasi penonton sejak 1994 resmi pecah di laga Ecuador vs Jerman tanggal 25 Juni 2026.

Kenapa bisa?

  1. Packaging. Ada pre-match show, hiburan antar babak, fan zone, dan siaran multi-platform di FOX, Telemundo, Peacock. Setiap laga dibuat terasa seperti final.
  2. Manajemen bisnis. Tiket dijual dinamis. Sponsor masuk. Hak siar dijual global. Pendapatannya lalu diputar lagi ke 211 federasi anggota untuk pembinaan.
  3. Stadion sebagai destinasi. Orang datang bukan cuma untuk 90 menit. Mereka datang untuk selfie, makan, nonton bareng, dan merasa bagian dari sejarah.

Ini PR besar buat kita. Liga Super Indonesia punya penonton paling loyal di Asia. Tapi kita masih sering jual “pertandingan”. Padahal yang orang mau beli adalah “acara”. GBK, JIS, GBLA harusnya hidup tiap minggu, bukan cuma pas ada big match.

Membangun Timnas Pakai Blueprint, Bukan Obat Sakit Kepala

AS sadar diri. Mereka bukan Argentina. Jadi mereka tidak mengandalkan keajaiban. Mereka pakai sistem.

Langkahnya sederhana tapi konsisten:

  1. Naturalisasi sebagai akselerator. Pemain diaspora dipakai untuk mendongkrak daya saing sekarang. Tapi tidak jadi satu-satunya strategi.
  2. Roadmap 4 tahun. Sejak ditunjuk jadi tuan rumah 2022, program uji coba, pemusatan latihan, dan target sudah disusun. Pelatih diberi waktu, bukan dipecat tiap kalah.
  3. Liga jadi pabrik pemain. MLS dipaksa melahirkan talenta yang langsung bisa dipakai timnas. Hasilnya: AS lolos fase grup dan bahkan sempat jadi juara Grup D.

Pola ini mirip dengan yang sedang terjadi di klub-klub kita. Persib Bandung, Persija Jakarta, Bali United, Madura United sekarang gencar mendatangkan pemain asing level atas. Tujuannya jelas: menaikkan tempo liga, menaikkan nilai jual, dan menarik sponsor.

Bagus. Tapi tantangannya: jangan sampai klubnya terbang, timnasnya tertinggal.
Jepang dan Korea dulu juga impor pemain. Bedanya, bersamaan dengan itu mereka merapikan akademi, kurikulum pelatih, dan data scouting. Hasilnya 20 tahun kemudian timnasnya ikut naik kelas.

Kita Punya Cinta, Mereka Punya Sistem

Piala Dunia 2026 membuktikan satu hal. Negara yang “cintanya kurang” pada sepakbola saja bisa mendatangkan 3,6 juta orang ke stadion. Masa kita yang cintanya berlebihan tidak bisa?

Ada dua pekerjaan rumah besar untuk Indonesia:

  1. Rapikan industri liganya. Jadikan setiap laga sebuah event yang layak ditonton langsung dan layak disponsori.
  2. Kunci blueprint timnasnya. Rekrut diaspora boleh. Tapi bareng itu, bangun dari U12. Buat kurikulum. Jaga kontinuitas.

Sepakbola itu bukan sulap. Ia industri. Ia sains. Ia hiburan.
Dan 2026 sudah menunjukkan contohnya secara live. Tinggal kita mau mencontek yang pintar atau tidak. (*)


Editor: Ruslan Sangadji