Lilin kecil itu memang sudah lama padam. Tetapi cahaya yang pernah diberikannya masih menyala, dan mungkin akan terus menjadi bagian dari cerita seorang anak Gambesi bernama Margarito Kamis
IA PERNAH belajar di bawah lampu teplok, menjadi sopir angkot untuk membayar kuliah, dan bersimpuh di kaki ibunya ketika tak punya uang untuk membayar ujian skripsi. Dari rumah sederhana di Gambesi, Ternate Selatan, itulah perjalanan Margarito Kamis yang kemudian membawanya menjadi akademisi, pakar hukum tata negara, dan kini anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Menjelang salat Magrib pada suatu bulan Ramadhan, seorang mahasiswa bernama Margarito Kamis duduk bersimpuh di hadapan ibunya dengan perasaan yang campur aduk. Ia sedang berada di penghujung perjalanan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate, tetapi sebuah persoalan sederhana sekaligus berat sedang menghadangnya: ujian skripsi sudah di depan mata, sementara uang untuk membayar biaya ujian tidak ada.
Dalam keadaan seperti itu, Margarito tidak pergi mencari pinjaman ke sana-kemari. Ia justru mendatangi perempuan yang melahirkannya, yang sejak kecil menjadi tempatnya bergantung, lalu bersimpuh dan memeluk kaki ibunya. Dengan bahasa sehari-hari orang Ternate, ia menyampaikan permintaan yang hingga kini masih diingatnya.
“Ma, mama yang lahirkan To. Ini mau ujian skripsi tapi tara ada doi (tidak ada uang). Mama doakan To supaya bisa ujian skripsi,” begitu permohonan yang ia sampaikan kepada ibunya.
Tidak lama setelah itu, pertolongan datang melalui jalan yang sama sekali tidak diduganya. Seorang dosennya, yang juga berprofesi sebagai pengacara, datang dan menawarkan pekerjaan untuk membantu menyusun pleidoi, dalam sebuah perkara yang sedang ditanganinya di pengadilan. Dari pekerjaan tersebut Margarito mendapatkan uang yang digunakannya membayar biaya ujian skripsi.
Peristiwa itu mungkin sederhana bagi orang lain, tetapi tidak bagi Margarito. Ia mengingatnya sebagai salah satu pengalaman yang membuatnya semakin percaya, bahwa doa seorang ibu memiliki jalan yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh manusia. Doa ibu menembus tujuh petala langit.
Bertahun-tahun kemudian, ketika menceritakan kembali kisah tersebut, air matanya masih meleleh. “Saya tidak akan pernah melupakan jasa dan doa ayah dan ibu saya,” katanya.
Kalimat itu seperti menjadi pintu masuk untuk memahami siapa sebenarnya Margarito Kamis. Sebab sebelum namanya dikenal sebagai pakar hukum tata negara, sebelum ia sering muncul di layar televisi sebagai narasumber berbagai persoalan hukum, sebelum menjadi panelis debat calon presiden, menjadi ahli dalam perkara di Mahkamah Konstitusi, dan sebelum akhirnya dipercaya masuk ke Dewan Pertimbangan Presiden, Margarito adalah seorang anak dari keluarga sederhana di Gambesi, Ternate, yang sejak kecil sudah mengenal bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan.
Ayahnya, Ade Kamis, adalah seorang petani, sedangkan ibunya berjualan sayuran di Pasar Gamalama. Setiap pagi ibunya berangkat membawa dagangan dan baru kembali ketika hari sudah sore. Kehidupan keluarga itu jauh dari kemewahan, tetapi ada satu hal yang tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang boleh dikorbankan: pendidikan anak-anak.
Ade Kamis yang juga tokoh PNI di zamannya itu, selalu mengingatkan Margarito agar sekolah dengan sungguh-sungguh. “Kamu harus sekolah, sekolah dan sekolah. Dunia ini dipimpin oleh orang yang sekolah,” demikian pesan sang ayah yang terus diingatnya sampai sekarang.
Bagi seorang anak yang tumbuh dalam keluarga pas-pasan, pesan itu bukan sekadar nasihat orang tua. Pesan seperti sebuah jalan yang harus ditempuh, meskipun jalan tersebut tidak selalu mudah.
Belajar di Bawah Cahaya Lampu Teplok
Pada masa Margarito muda, kehidupan belum semudah sekarang. Penerangan di rumah masih menggunakan lampu teplok berbahan bakar minyak tanah. Ketika minyak tanah tersedia, ia belajar di bawah cahaya lampu kecil tersebut. Namun ketika minyak tanah tidak ada, ia menggunakan lilin kecil berwarna kuning sebagai penerangan.
Ia akan menyalakan satu lilin, membuka buku, lalu belajar sampai lilin tersebut habis. Tidak ada meja belajar khusus dengan lampu terang dan rak buku yang penuh. Yang ada hanyalah keinginan untuk terus membaca dan menulis meskipun cahaya yang menerangi halaman bukunya sangat terbatas.
Kebiasaan itu barangkali terlihat sederhana, tetapi dari situlah ketekunan Margarito mulai terbentuk. Ia belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Kalau tidak ada minyak tanah, ada lilin. Kalau tidak ada uang, harus bekerja. Kalau jalan pertama tertutup, harus mencari jalan lain.
Ketika kuliah di Fakultas Hukum Universitas Khairun, perjuangan itu belum berakhir. Bahkan, sebagai mahasiswa, ia harus membagi waktunya antara belajar dan bekerja. Setelah kuliah, ia kadang menjadi sopir angkot atau orang mengistilahkan supir oto penumpang. Pada waktu tertentu ia juga menjadi sopir truk pengangkut pasir.
Uang yang diperolehnya digunakan untuk menambah membiayai kebutuhan kuliah, termasuk membayar KKN. Ketika tidak sedang membawa angkot atau truk, ia membantu ayahnya di kebun dengan memanen kangkung yang kemudian dijual ibunya di pasar.
Kehidupan Margarito pada masa itu berjalan dalam lingkaran yang sederhana, tetapi melelahkan: kuliah, bekerja, membantu orang tua, kemudian kembali belajar. Ia tidak mempunyai banyak pilihan, selain menjalani semuanya jika ingin menyelesaikan pendidikan.
Mahasiswa Gondrong yang Buku Catatannya Disimpan di Saku
Menariknya, Margarito pada masa kuliah tidak tampak seperti gambaran mahasiswa hukum yang serius dan formal. Rambutnya gondrong, dua kancing atas kemejanya sengaja terbuka, dan gaya tersebut oleh orang Ternate disebut “buka dada”. Buku catatannya pun tidak selalu dibawa dalam tas sebagaimana mahasiswa pada umumnya.
Buku yang tipis sering dilipat dan dimasukkan ke saku belakang celananya. Gaya seperti itu di Ternate dikenal sebagai gaya “gron”. Teman-temannya mengenal Margarito sebagai orang yang keras kepala (orang Ternate bilang kepala batu) dan tidak mudah mengubah pendirian.
Namun, di balik penampilannya yang terkesan santai itu, Margarito adalah seorang pembelajar yang tekun. Ia dikenal suka membaca dan memiliki kemampuan akademik yang membuat sejumlah dosen memperhatikannya. Salah satu di antaranya adalah Andi Zainal Abidin Farid dari Universitas Hasanuddin, yang menjadi penguji saat ujian skripsi di Unkhair.
Dari lingkungan akademik itulah, kemudian nama Margarito sampai kepada Baharuddin Lopa, tokoh hukum yang sangat dihormati di Indonesia dan memiliki hubungan erat dengan Universitas Khairun sebagai salah seorang pendiri perguruan tinggi swasta kala itu (sekarang Unhkair telah menjadi kampus negeri).
Ketika Baharuddin Lopa datang ke Ternate untuk menghadiri wisuda, ia mencari Margarito. Ia ingin bertemu dengan mahasiswa yang sebelumnya diceritakan kepadanya sebagai anak muda yang cerdas.
Pertemuan itu menjadi awal dari hubungan guru dan murid yang kemudian sangat berarti bagi perjalanan Margarito.
Baharuddin Lopa mendorongnya agar melanjutkan pendidikan ke Universitas Hasanuddin.
“Setelah ini, kamu ke S-2 ya. Di Unhas,” pesan Lopa.
Margarito mengikuti nasihat itu. Ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Hasanuddin dengan konsentrasi Hukum Agraria. Di sana, perjalanan akademiknya semakin berkembang, dan ia kemudian mendapat kesempatan menjadi asisten dosen yang diangkat oleh Andi Zainal Abidin Farid.
Margarito tidak pernah melupakan dua sosok tersebut. Tentang Andi Zainal Abidin Farid, ia mengaku mempunyai utang budi yang besar. Sedangkan tentang Baharuddin Lopa, ia menyimpan kekaguman yang sangat dalam.
“Profesor Baharuddin Lopa itu sosok yang sangat lurus. Jujur. Beliau itu orang yang sangat saya kagumi,” katanya.
Ada satu pesan Baharuddin Lopa yang terus dibawa Margarito dalam perjalanan hidupnya: “Kamu belajar ya. Belajar, dan suatu saat orang akan mengenal kamu.”
Pesan itu terdengar biasa ketika diucapkan kepada seorang mahasiswa. Tetapi bertahun-tahun kemudian, kalimat tersebut seolah menemukan jawabannya sendiri.
Dari Gambesi Menuju Jakarta
Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Hasanuddin, Margarito melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia. Itu atas saran Yusril Ihza Mahendra, karena sebelumnya Margarito ingin kuliah di kampus lain dengan mengambil konsentrasi hukum perbankan.
AKhirnya Margarito mengambil program doktoral di bidang hukum tata negara. Hubungannya dengan Yusril Ihza Mahendra turut memberi warna dalam perjalanan akademiknya, sementara di Universitas Indonesia ia berada dalam lingkungan intelektual, yang mempertemukannya dengan sejumlah nama besar dalam dunia hukum, antara lain Ismail Suny, Jimly Asshiddiqie, dan Adnan Buyung Nasution.
Margarito kemudian berhasil meraih gelar doktor dan dikenal sebagai putra Ternate pertama yang berhasil menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi di kampus ternama. Namun, gelar akademik itu tidak membuatnya melupakan Universitas Khairun. Ia tetap kembali ke kampus yang menjadi titik awal perjalanan intelektualnya, dan mengabdikan diri sebagai akademisi.
Perjalanan berikutnya membawanya memasuki ruang publik. Ia mulai sering diundang menjadi narasumber di televisi untuk membahas persoalan hukum dan ketatanegaraan. Namanya perlahan dikenal masyarakat di luar lingkungan kampus.
Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ketika Yusril Ihza Mahendra dipercaya sebagai Menteri Sekretaris Negara, Margarito ikut masuk ke lingkungan pemerintahan sebagai staf khusus. Dari lingkungan itulah ia semakin dekat dengan dinamika penyelenggaraan negara dan persoalan kebijakan publik.
Ia kemudian dipercaya terlibat dalam sejumlah proses kenegaraan, termasuk menjadi anggota tim seleksi hakim Mahkamah Konstitusi pada masa pemerintahan SBY. Pengalaman tersebut semakin memperluas perannya dari seorang akademisi menjadi salah satu suara yang diperhitungkan dalam perdebatan hukum dan konstitusi.
Pada 2019, KPU menunjuk Margarito sebagai salah satu panelis debat pertama calon presiden dan wakil presiden. Tema debat ketika itu adalah hukum, HAM, korupsi, dan terorisme. Bersama panelis lainnya, ia bertugas menyusun materi serta pertanyaan yang akan diajukan kepada pasangan calon.
Dari mahasiswa yang dahulu belajar dengan penerangan lilin, Margarito kini berada di panggung nasional, ikut menyusun pertanyaan yang akan dijawab oleh calon pemimpin Indonesia di hadapan jutaan pasang mata.
Ketika Hukum Mempertemukannya dengan Politik
Nama Margarito juga kemudian beberapa kali muncul dalam perkara perselisihan hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi. Ia menjadi salah satu ahli yang memberikan pandangan hukum dalam perkara yang berkaitan dengan Prabowo Subianto, baik pada saat Prabowo berada pada posisi sebagai pihak yang kalah maupun ketika akhirnya memenangkan Pilpres 2024.
Margarito pernah melontarkan candaan mengenai pengalaman tersebut: “Ternyata enak menjadi pemenang. Tidak enak kalau kalah.”
Kalimat itu memperlihatkan sisi lain Margarito, yang tidak selalu terlihat ketika ia sedang menjelaskan persoalan konstitusi dengan serius. Ia mampu melihat perjalanan politik dari jarak tertentu, termasuk pengalaman berada di ruang hukum yang berhadapan langsung dengan dinamika politik nasional.
Namun, di balik semua itu, perjalanan Margarito tetap kembali pada dunia akademik. Ia tidak pernah benar-benar meninggalkan kampus, karena baginya pendidikan bukan sekadar bagian dari masa lalu, melainkan jalan hidup.
Dari Lampu Teplok ke Istana
Pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Margarito Kamis sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia (Wantimpres RI).
Berita tentang pelantikan itu mungkin tampak seperti sebuah peristiwa kenegaraan biasa. Nama-nama dibacakan, sumpah jabatan diucapkan, dan tugas baru dimulai.
Tetapi bagi Margarito, perjalanan menuju ruangan tersebut sesungguhnya telah dimulai puluhan tahun sebelumnya, jauh dari Jakarta, jauh dari Istana, dan jauh sebelum ia dikenal masyarakat sebagai pakar hukum tata negara.
Perjalanan itu dimulai dari Gambesi.
Dari rumah seorang petani dan pedagang sayur.
Dari lampu teplok yang cahayanya terbatas.
Dari lilin kecil yang dinyalakan ketika minyak tanah tidak ada.
Dari kemudi angkot yang ia pegang setelah selesai kuliah.
Dari truk pengangkut pasir yang pernah ia kendarai untuk mendapatkan uang.
Dari kebun tempat ia membantu ayahnya memanen kangkung.
Dan dari kaki ibunya yang pernah ia peluk sambil meminta doa, karena tidak mempunyai uang untuk membayar ujian skripsi.
Jika hari ini Margarito berdiri di lingkungan Istana, maka perjalanan itu bukanlah perjalanan yang tiba-tiba. Ada puluhan tahun perjuangan yang membentuknya, ada orang tua yang tidak pernah lelah mendorongnya, ada guru-guru yang melihat potensi dalam dirinya, dan ada begitu banyak kesempatan yang ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Ia pernah menjadi kiper di kampungnya, tetapi kemudian memilih hukum. Ia pernah menjadi sopir angkot dan sopir truk, tetapi kemudian memilih dunia akademik. Ia pernah belajar dengan lilin kecil, tetapi kemudian berbicara tentang konstitusi di ruang-ruang nasional. Barangkali itulah yang membuat kisah Margarito berbeda.
Ia tidak lahir dengan kemudahan, tetapi tumbuh dengan keyakinan. Ia tidak dibesarkan dalam keluarga kaya, tetapi dibesarkan oleh orang tua yang kaya akan harapan.
Ia tidak selalu mempunyai buku yang lengkap, tetapi ia mempunyai keinginan untuk membaca. Ia tidak selalu mempunyai uang untuk membayar kuliah, tetapi ia mempunyai keberanian untuk bekerja. Dan ketika tidak mempunyai apa-apa selain doa, ia datang kepada ibunya.
Dari sanalah ia belajar bahwa hidup tidak selalu memberikan jalan yang mudah, tetapi hampir selalu menyediakan kemungkinan bagi orang yang mau berusaha.
Sebuah Lilin Kecil
Ada sesuatu yang sangat simbolis dari kisah Margarito ketika ia belajar dengan lilin. Lilin itu kecil dan cahayanya terbatas. Ia tidak mampu menerangi seluruh ruangan. Namun Margarito Kamis tidak menunggu sampai mempunyai lampu yang lebih terang untuk mulai belajar. Ia menggunakan cahaya yang tersedia, membaca selama cahaya itu masih menyala, dan berhenti ketika lilinnya sudah habis.
Mungkin begitu pula cara ia menjalani hidup. Ia tidak menunggu keadaan menjadi sempurna untuk memulai. Ketika hanya ada lampu teplok, ia belajar dengan lampu teplok. Ketika minyak tanah tidak ada, ia menggunakan lilin. Ketika tidak punya uang, ia menjadi sopir. Ketika harus membantu orang tua, ia pergi ke kebun. Ketika seorang guru membuka pintu, ia masuk dan belajar. Ketika kesempatan melanjutkan pendidikan datang, ia berangkat.
Satu demi satu.
Sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya seorang anak dari Gambesi itu menempuh perjalanan yang sangat jauh, melewati Ternate, Makassar, dan Jakarta, hingga akhirnya kembali berada di lingkungan Istana.
Namun, bagi Margarito sendiri, semua itu tidak pernah terasa sebagai sebuah perjalanan menuju jabatan. Ia hanya menjalankan pesan ayahnya.
Sekolah.
Sekolah.
Dan sekolah.
Sebab ayahnya pernah berkata bahwa dunia ini dipimpin oleh orang yang sekolah.
Kini, puluhan tahun setelah kalimat itu diucapkan, Margarito Kamis telah sampai pada sebuah titik yang mungkin dulu tidak pernah dibayangkannya ketika duduk membaca buku di bawah cahaya lilin.
Ia telah menjadi doktor.
Ia telah menjadi dosen.
Ia telah menjadi pakar hukum tata negara.
Ia pernah menjadi bagian dari pemerintahan.
Ia pernah duduk sebagai panelis debat calon presiden.
Ia pernah hadir sebagai ahli dalam perkara besar di Mahkamah Konstitusi.
Dan kini ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Tetapi ketika semua gelar dan jabatan itu disingkirkan, yang tersisa tetap seorang anak bernama To, putra Ade Kamis dan seorang ibu penjual sayur di Pasar Gamalama, yang dahulu hanya mempunyai satu lilin untuk menerangi bukunya.
“Terima kasih ya Allah”
Mungkin kalimat itulah yang paling menggambarkan perjalanan Margarito Kamis.
Sebab cahaya yang membawanya sampai sejauh ini bukan hanya cahaya lampu teplok, bukan hanya cahaya lilin, bukan pula hanya cahaya ilmu yang diperolehnya dari kampus dan para gurunya.
Ada cahaya dari doa seorang ibu, ada cahaya dari nasihat seorang ayah, dan ada cahaya dari keyakinan bahwa selama seseorang mau belajar dan bekerja, keterbatasan tidak harus menjadi akhir dari sebuah perjalanan.
Lilin kecil itu memang sudah lama padam. Tetapi cahaya yang pernah diberikannya masih menyala, dan mungkin akan terus menjadi bagian dari cerita seorang anak Gambesi bernama Margarito Kamis. (*)

Tinggalkan Balasan