Di bawah Gerindra, PDI Perjuangan memperoleh 11,7 persen, disusul Golkar 9,6 persen, Partai Demokrat 8,1 persen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 5,4 persen, Partai NasDem 4,4 persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 4,4 persen, dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 4,1 persen. Sementara partai-partai lainnya memperoleh dukungan di bawah tiga persen
JAKARTA, KAIDAH.ID – Peluang Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) mempertahankan posisinya sebagai partai terkuat, dinilai melemah apabila pemilihan umum (Pemilu) dilaksanakan saat ini. Hal itu terungkap dalam hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Elektabilitas Partai” yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menyampaikan hasil survei tersebut melalui kanal YouTube SMRC TV, Kamis, 30 Juli 2026. Menurutnya, elektabilitas Gerindra mengalami penurunan cukup tajam, setelah sempat meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam simulasi semi terbuka, responden ditanya partai atau calon dari partai mana, yang akan mereka pilih jika Pemilu anggota DPR dilaksanakan saat ini. Hasilnya, Gerindra masih berada di posisi teratas dengan perolehan 16,9 persen suara.
Di bawah Gerindra, PDI Perjuangan memperoleh 11,7 persen, disusul Golkar 9,6 persen, Partai Demokrat 8,1 persen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 5,4 persen, Partai NasDem 4,4 persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 4,4 persen, dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 4,1 persen. Sementara partai-partai lainnya memperoleh dukungan di bawah tiga persen.
Meski demikian, survei juga mencatat masih terdapat 25,9 persen responden yang belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.
Deni menjelaskan, jika dibandingkan dengan hasil Pemilu 2024 dan survei-survei sebelumnya, dukungan terhadap Gerindra mengalami dinamika yang cukup signifikan. Pada Pemilu 2024, Gerindra memperoleh suara sebesar 13,2 persen. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 23,3 persen pada survei November 2025 dan kembali naik hingga mencapai 29,3 persen pada survei Februari-Maret 2026.
“Namun pada survei Juli 2026, elektabilitas Gerindra turun cukup tajam menjadi 16,9 persen,” kata Deni.
Sementara itu, elektabilitas PDI Perjuangan juga menunjukkan tren penurunan, dari 16,7 persen pada Pemilu 2024 menjadi 11,7 persen pada survei Juli 2026. Golkar turut mengalami penurunan dari 15,3 persen menjadi 9,6 persen.
Di sisi lain, Partai Demokrat relatif stabil dengan kenaikan tipis dari 7,4 persen pada Pemilu 2024 menjadi 8,1 persen dalam survei terbaru.
Menurut Deni, elektabilitas PKB, PKS, NasDem, dan PAN mengalami fluktuasi sejak Pemilu 2024, namun secara umum menunjukkan kecenderungan menurun.
SMRC menilai, penurunan elektabilitas Gerindra dalam sembilan bulan terakhir, berjalan seiring dengan menurunnya penilaian publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto.
“Penurunan elektabilitas Gerindra, konsisten paralel dengan turunnya evaluasi positif publik terhadap kinerja Presiden Prabowo, serta menurunnya sentimen positif terhadap kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, dan program-program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP),” ujar Deni.
Survei ini melibatkan 749 responden yang memiliki hak pilih dan dipilih secara acak. Sebanyak 83,8 persen responden diwawancarai melalui sambungan telepon karena memiliki telepon seluler, sedangkan 16,2 persen lainnya diwawancarai secara tatap muka karena tidak memiliki telepon.
SMRC menyebut komposisi metode tersebut disesuaikan dengan proporsi pengguna dan nonpengguna telepon seluler di Indonesia. Survei memiliki margin of error sekitar ±3,7 persen, sehingga suatu perbedaan dinilai signifikan apabila melebihi dua kali margin of error atau sekitar 7,4 persen. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan