Sebab di tengah perubahan yang bergerak cepat, peluang sering kali tidak datang dalam bentuk yang megah. Kadang datang sebagai raung motor di ujung sif. Kadang sebagai tumpukan pakaian kotor. Dan bagi mereka yang jeli, keduanya bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik

SETIAP kali sif berakhir, Bahodopi seperti dibangunkan oleh suara yang sama: raung ribuan sepeda motor. Motor-motor itu keluar dari kawasan industri, memenuhi jalan, lalu menyebar ke berbagai penjuru Bahodopi.

Bagi sebagian orang, suara itu mungkin hanya bising. Bagi Fitra, suara tersebut adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang sedang tumbuh.

Ada ribuan orang yang pulang bekerja. Dan ribuan orang itu membutuhkan sesuatu.

Motor mereka perlu diservis. Tangki mereka perlu diisi. Perut mereka perlu diisi makanan. Pakaian mereka perlu dicuci. Mereka membutuhkan tempat tinggal, minuman, pulsa, hingga berbagai kebutuhan kecil yang sering luput dari perhatian.

Fitra memilih menangkap salah satunya.

Dari balik suara mesin kendaraan itulah bisnis bengkelnya berkembang.

Pada 2017, Fitra membuka bengkel motor pertamanya di Desa Siumbatu. Bengkel itu dijaga istrinya, sementara ia masih bekerja di pertambangan di Kalimantan. Setahun kemudian, ia memindahkan bengkel ke Bahodopi.

Saat itu, jalan di kawasan tersebut belum sepenuhnya beraspal. Belum ada keramaian seperti sekarang. Namun, Fitra melihat sesuatu yang sedang bergerak.

Ia melihat semakin banyak orang datang. Ia melihat semakin banyak sepeda motor. Dan ia melihat sebuah kawasan yang perlahan berubah.

“Perubahannya cepat sekali. 2018 jalan belum beraspal, dua tahun kemudian warga membangun dengan masif, 2020 terus berkembang, dan 2026 sangat pesat,” kata Fitra.

Selama 14 tahun, Fitra bekerja di tambang Kalimantan. Pandemi Covid-19 kemudian menjadi titik balik. Ia berhenti bekerja dan memilih pulang untuk mengurus bengkel yang sebelumnya hanya menjadi usaha sampingan keluarga. Keputusan itu ternyata mengubah hidupnya.

Kini, sekitar 90 persen pelanggan Bengkel Segar Jaya Berkah adalah karyawan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Dari satu bengkel, usaha Fitra berkembang menjadi enam cabang. Lebih dari 50 orang bekerja di dalamnya, mulai dari admin hingga mekanik. Seorang mekanik bisa memperoleh upah hingga Rp8 juta per bulan.

Bengkel itu tumbuh bersama perubahan Bahodopi. Dan perubahan Bahodopi tidak terjadi dalam semalam.

Ketika Nikel Mengubah Wajah Bahodopi

Bahodopi berada di sisi timur Sabuk Tengah Sulawesi, di tepi Teluk Tolo, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Selama puluhan tahun, kecamatan ini nyaris tidak masuk dalam percakapan nasional. Namanya tidak banyak dikenal di luar Sulawesi Tengah.

Kemudian nikel mengubah segalanya. Pada 2013, pemerintah menetapkan kebijakan hilirisasi mineral dan melarang ekspor bijih mentah. Mineral yang selama ini dikirim dalam bentuk bahan mentah didorong untuk diolah di dalam negeri.

Morowali menjadi salah satu lokasi yang strategis. Cadangan nikelnya besar. Letaknya di tepi Teluk Tolo memungkinkan pembangunan pelabuhan untuk mendukung kawasan industri. Tiang pancang pertama ditanam di tanah Bahodopi.

Dari sana, Indonesia Morowali Industrial Park atau IMIP tumbuh. Kawasan yang awalnya menjadi proyek industri, perlahan berubah menjadi magnet bagi para pencari kerja dari berbagai daerah.

Mereka datang dengan harapan yang hampir sama: mendapatkan pekerjaan, memperoleh penghasilan, dan membawa pulang kehidupan yang lebih baik. Jumlahnya terus bertambah.

Data HR Department PT IMIP mencatat, pada 2020 terdapat 35.592 pekerja di kawasan tersebut. Setahun kemudian, jumlahnya menjadi 51.542 orang. Pada 2022 mencapai 68.466 orang, lalu 74.350 orang pada 2023 dan sekitar 83.000 orang pada 2024. Pada 2025, jumlah pekerja mencapai 86.804 orang. Hingga September 2026, jumlah itu telah menembus 100.310 orang. Sebanyak 91.904 di antaranya laki-laki dan 8.406 perempuan.

Angka itu bukan sekadar statistik ketenagakerjaan. Seratus ribu pekerja berarti seratus ribu orang yang setiap hari membutuhkan makan, tempat tinggal, transportasi, pakaian bersih, layanan kesehatan, kendaraan yang terawat, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Di situlah ekonomi Bahodopi menemukan lapisan baru. Kawasan industri menciptakan pekerjaan di dalam pagar. Namun, kebutuhan para pekerjanya menciptakan pekerjaan di luarnya. Dari pakaian kotor, Ayu menemukan jalan pulang

Pakaian Kotor

Jika Fitra menemukan peluang dari suara ribuan motor, Ayu Lestari Rahman menemukannya dari sesuatu yang jauh lebih sunyi: Pakaian kotor.

Warga Desa Fatufia itu melihat keseharian para pekerja di kawasan industri. Mereka bekerja dalam ritme yang padat. Ketika pulang, tenaga sudah terkuras. Mencuci pakaian menjadi urusan yang mudah ditunda.

Ayu melihat pekerjaan yang tidak sempat dikerjakan orang lain.

“Di sini banyak orang yang sibuk bekerja, sehingga tidak sempat mencuci,” katanya.

Pada 2022, Ayu bersama suaminya membuka laundry BlueSea. Modal awal mereka Rp20 juta. Peralatannya sederhana: satu mesin cuci.

Tidak ada modal besar. Tidak ada jaringan bisnis besar. Mereka memulai dengan memanfaatkan jaringan pertemanan para pekerja pabrik.

Satu pelanggan datang. Lalu pelanggan lain. Pakaian kotor semakin banyak. Hari ini, mesin cuci BlueSea menangani sekitar 200 kilogram pakaian setiap hari.

Pelanggan mereka tidak hanya pekerja IMIP. Ada kontraktor, pedagang, dan warga sekitar.

Tarif layanan reguler Rp7.000 per kilogram. Untuk layanan kilat, pelanggan membayar Rp15.000 per kilogram. BlueSea juga menyediakan layanan antar gratis dalam radius tiga kilometer.

Dari satu mesin cuci, BlueSea kini menjadi sumber pendapatan utama keluarga Ayu. Omzetnya sekitar Rp35 juta per bulan. Bagi Ayu, angka itu bukan hanya omzet. Di baliknya ada keberanian untuk memulai dari kecil. Ada pekerjaan yang tercipta. Ada keluarga yang bisa bertahan.

Dan ada keyakinan bahwa pertumbuhan sebuah kawasan tidak harus hanya dinikmati oleh perusahaan besar.

“Semoga IMIP terus berkembang dan bisa terus menyerap tenaga kerja. Kalau karyawan sudah capek bekerja, jangan capek lagi mencuci. Bawa saja ke sini,” ujar Ayu.

Ekonomi yang Tumbuh di Luar Pagar

Kisah Fitra dan Ayu bukan cerita yang berdiri sendiri. Di sepanjang Bahodopi, usaha kecil tumbuh mengikuti arus pekerja.

Ada kios yang buka sejak pagi. Ada warung yang ramai ketika sif berganti. Ada penjual minuman yang menunggu pekerja pulang. Ada pengisian bahan bakar, rumah kos, jasa transportasi, bengkel, laundry, dan berbagai usaha lain yang hidup dari kebutuhan sehari-hari.

Menurut riset tim SGA Department IMIP, lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi adalah kios Pertamini sebanyak 981 unit, stan minuman 735 unit, stan makanan non-bangunan 670 unit, kios umum 648 unit, dan warung makan 591 unit.

Sebagian besar masih berskala mikro, dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun.

Namun jumlahnya menunjukkan satu hal: ketika sebuah kawasan tumbuh cepat, kebutuhan di sekelilingnya ikut berkembang.

Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan mengatakan pertumbuhan kawasan industri ikut mendorong perkembangan sektor usaha di Bahodopi.

“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang,” katanya, Jumat, 2 Oktober 2026.

Perputaran uangnya pun tidak kecil. Pada 2025, ketika jumlah pekerja mencapai 86.804 orang, perputaran uang di Bahodopi diperkirakan Rp499,1 miliar setiap bulan. Dalam setahun, nilainya mencapai sekitar Rp6 triliun.

Sebagian uang itu berputar di dalam ekosistem industri. Sebagian lainnya mengalir ke luar pagar. Masuk ke warung. Ke kios. Ke bengkel. Ke laundry. Ke rumah-rumah warga.

Dan pada akhirnya, ke tangan orang-orang yang memilih membuka usaha untuk memenuhi kebutuhan mereka yang bekerja di kawasan industri.

Dari Bahodopi, pertumbuhan menjalar lebih jauh Dampaknya tidak berhenti di Bahodopi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhamad Irfan Sukarna, dalam laporan Februari 2026, menyebut ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,43 persen secara tahunan. Pertumbuhan itu meningkat dari 7,79 persen pada triwulan sebelumnya.

Menurut Bank Indonesia, kinerja tersebut ditopang oleh dominannya industri pengolahan berbasis nikel serta pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah. Angka-angka itu menggambarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertumbuhan sebuah kawasan industri.

Namun, wajah pertumbuhan itu barangkali lebih mudah ditemukan dalam cerita orang-orang seperti Fitra dan Ayu. Fitra tidak membangun smelter. Ayu tidak mengoperasikan pabrik. Mereka tidak mengendalikan harga nikel atau menentukan arah industri. Mereka hanya melihat perubahan yang terjadi di sekitar mereka, kemudian bertanya: apa yang bisa kami lakukan dari sini?

Jawabannya ditemukan dalam hal-hal sederhana. Fitra membuka bengkel. Ayu membuka laundry. Yang satu merawat kendaraan orang-orang yang bekerja. Yang lain mencuci pakaian mereka.

Dari dua usaha kecil itu, lahir puluhan lapangan pekerjaan dan pendapatan bagi keluarga. Peluang yang terdengar seperti suara mesin Menjelang pergantian sif, suara motor kembali memenuhi jalan Bahodopi. Bagi Fitra, suara itu masih terdengar sama. Tetapi maknanya sudah berbeda.

Dulu, mungkin itu hanya suara kendaraan yang melintas di jalan yang belum sepenuhnya beraspal. Kini, di balik suara mesin itu, ia mendengar denyut usaha yang dibangunnya dari satu bengkel kecil. Enam cabang. Lebih dari 50 pekerja. Dan ribuan pelanggan yang datang silih berganti.

Di tempat lain, mesin cuci BlueSea terus berputar. Satu demi satu pakaian pekerja masuk, dicuci, dikeringkan, dilipat, lalu dikembalikan kepada pemiliknya. Dua aktivitas itu—suara motor dan putaran mesin cuci—barangkali sederhana. Namun keduanya menceritakan perubahan Bahodopi dengan cara yang paling manusiawi.

Bahwa sebuah kawasan industri tidak hanya mengubah angka investasi dan jumlah tenaga kerja. Namun juga mengubah cara orang melihat masa depan.

Dulu, Fitra melihat jalan yang belum beraspal. Ayu melihat orang-orang yang terlalu lelah untuk mencuci. Keduanya memilih tidak sekadar menjadi penonton.

Mereka mengambil bagian. Sebab di tengah perubahan yang bergerak cepat, peluang sering kali tidak datang dalam bentuk yang megah. Kadang datang sebagai raung motor di ujung sif. Kadang sebagai tumpukan pakaian kotor. Dan bagi mereka yang jeli, keduanya bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik. (*)

(Ruslan Sangadji)