Ke depan, kegiatan Sembada direncanakan menyasar karyawan di kawasan industri IMIP. Evaluasi program akan dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, memperkuat mekanisme penyaluran sampah, dan mengembangkan pengelolaan sampah berbasis komunitas

MOROWALI, KAIDAH.ID – Program Sembako dari Sampah Anda (Sembada) yang digagas PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), berhasil mengumpulkan sampah anorganik dengan nilai ekonomis mencapai Rp1.443.500. Melalui program ini, warga di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dapat menukarkan sampah daur ulang dengan kebutuhan pokok.

Program Sembada IMIP yang difasilitasi Tim Corporate Social Responsibility (CSR) PT IMIP itu berlangsung selama tiga hari di Desa Bahomakmur, Le-Le, dan Labota. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian World Cleanup Day 2026 yang berlangsung pada 17 Agustus hingga 28 Oktober 2026.

Section Head Pilar Lingkungan Departemen Community Development & CSR IMIP, Ferdi Eka Saputra, mengatakan, Sembada bertujuan mendorong masyarakat memilah sampah rumah tangga sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari material yang masih memiliki nilai jual.

“Melalui Sembada, sampah yang berpotensi dibuang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.

Sampah yang terkumpul selama kegiatan meliputi 133,69 kilogram botol plastik, 312,38 kilogram kardus, 2,86 kilogram kaleng aluminium, 4,47 kilogram kaleng biasa, serta 1.615 botol kaca. Berdasarkan harga pembelian material oleh pihak pembeli atau offtaker, nilai ekonomis sampah tersebut mencapai Rp1.443.500.

Warga menukarkan sampah dengan berbagai kebutuhan pokok, seperti beras, minyak goreng, gula pasir, teh, kopi bubuk, sarden, mi instan, dan garam. Komoditas sembako dalam program ini mendapat subsidi 40-50 persen sehingga lebih terjangkau dibandingkan harga pasaran.

Dalam mekanismenya, nilai sampah dihitung berdasarkan jenis dan jumlah material serta harga pembelian di pasaran. Misalnya, satu botol kaca dihargai Rp500. Nilai tersebut kemudian dikonversi menjadi sembako, bukan uang tunai. Setiap warga dapat menukarkan sampahnya dengan maksimal tiga jenis komoditas.

Selama pelaksanaan program, sembako yang disalurkan terdiri atas 64 kilogram beras, 36 liter minyak goreng kemasan, 48 bungkus gula pasir ukuran setengah kilogram, 34 kotak teh celup, 27 bungkus kopi bubuk, dan 11 kaleng sarden, serta sejumlah mi instan dan garam.

Sampah yang terkumpul selanjutnya disalurkan kepada kelompok pengelola di masing-masing desa. Pengelolaan melibatkan Bank Sampah Lestari Mandiri di Bahomakmur, Bank Sampah Sidaya dan KSM Ara Sinergi Berdaya di Labota, serta pengurus Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Le-Le.

Ferdi menjelaskan, material daur ulang tersebut dapat dijual kepada offtaker untuk diolah menjadi bahan baku produksi atau dipasarkan kembali ke sejumlah wilayah, termasuk Morowali, Makassar, dan Surabaya.

Selain menjangkau tiga desa pelaksana, kegiatan ini menarik partisipasi warga dari Desa Dampala, Makarti Jaya, dan Padabaho. Peserta yang hadir didominasi kalangan perempuan.

Menurut Ferdi, program Sembada juga menjadi sarana memperkenalkan peran bank sampah kepada masyarakat. Warga diharapkan semakin aktif memilah sampah dari rumah dan menyetorkannya ke bank sampah terdekat.

Sejak 2024, kegiatan bank sampah di wilayah lingkar industri IMIP telah menjangkau ratusan ibu rumah tangga di sejumlah desa di Kecamatan Bahodopi. Program tersebut menghasilkan total nilai tabungan nasabah lebih dari Rp35 juta.

Ke depan, kegiatan Sembada direncanakan menyasar karyawan di kawasan industri IMIP. Evaluasi program akan dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, memperkuat mekanisme penyaluran sampah, dan mengembangkan pengelolaan sampah berbasis komunitas.

“Dalam jangka panjang, upaya ini diharapkan bisa memperkuat rantai pengelolaan sampah dan menginisiasi penerapan prinsip ekonomi sirkular di lingkup masyarakat lingkar industri,” tandas Ferdi. (*)

(Ruslan Sangadji)