Senin, 22 April 2024

Gejala Amien Rais Syndrome dan Anies Baswedan

Anies Baswedan dan massa jalan sehat di Makassar beberapa waktu lalu | Foto: ist

JAKARTA, KAIDAH.ID – Direktur PolMark (political marketing Consulting) Eep Saefulloh Fatah mengatakan, ada gejala ‘Amien Rais Syndrome’ di barisan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar. Padahal, massa yang ramai di lapangan, tidak berbanding lurus dengan hasil pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) nanti.

Lantaran itu, Eep Saefulloh mengingatkan kepada partai pendukung Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, agar tidak terjebak pada sebuah ilusi dan gejala pemilih yang diistilahkan dengan ‘Amien Rais Syndrome’.

Dia menjelaskan, Amien Rais Syndrome, didasarkan pada peristiwa Pemilihan Presiden 2004. Saat itu Amien Rais menjadi salah satu dari 5 calon presiden, yaitu Wiranto, Megawati, SBY, dam Hamzah Haz.

Saat itu, kata dia, Amien Rais mendapat dukungan dari PAN, PKS dan 6 partai lainnya, yang begitu gegap gempita khususnya dalam kampanye umum.

Kader-kader Muhammadiyah dan kader militan PKS begitu bersemangat menghadiri setiap kampanye akbar di jalan-jalan dan stadion besar.

Amien Rais, dengan melihat begitu tumpah ruah pendukungnya, menjadi begitu optimis akan memenangkan Pilpres.

Namun faktanya, plot twist terjadi di bilik suara dan papan penghitungan suara, suara Amien Rais hanya 14,66% menempati posisi ke-4 jauh di bawah SBY (33,57%), Megawati (26,61%), dan Wiranto (22,15%).

SBY akhirnya menjadi presiden setelah di putaran kedua mendapatkan tambahan dukungan dari PKS dan beberapa partai lainnya. Suaranya naik signifikan menjadi 60,62%.

“Itulah ‘Amien Rais Syndrome’. Ramai di Lapangan namun sepi di bilik suaram,” kata Eep.

Menurut dia, gejala itu mulai terlihat kampanye Anies Baswedan dan PKS. Selalu ramai dengan massa yang datang.

“Tapi jangan sampai ramainya kampanye umum tersebut, membuat terlena dan merasa seolah-olah sudah akan memenangkan pemilu. Itu harus diwaspadai,” katanya.

Eep memberikan solusi, PKS dan Anies Baswedan harus lebih fokus membuat barisan dan struktur yang rapi, bahkan sampai tingkat TPS.

“Jangan terlena dengan banyaknya masa yang hadir dalam kampanye atau kegiatan umum. Jangan sampai gejala Amien Rais Syndrome akan terulang di 2024,” tandasnya. (*)