Matahari di Kota Palu begitu teriknya. Serasa hanya sejengkal dari ubun-ubun. Tapi tak menyurutkan semangat abnaulkhairaat dari berbagai penjuru daerah di kawasan timur Indonesia hadir pada Haul ke-58 Sayyid Idrusnbin Salim Aljufri atau Guru Tua.Semuanya menyatu dalam satu rasa: cinta dan penghormatan kepada sang Guru Tua.
Rabu, 01 April 2026 itu, peringatan Haul ke-58 Guru Tua, bukan sekadar seremoni. Tetapi menjelma menjadi ruang perjumpaan, bilik perenungan, tempat nilai-nilai ilmu, akhlak, dan keteladanan kembali diteguhkan. Di tengah riuhnya ribuan jamaah yang memadati lapangan hingga meluber ke Jalan SIS Aljufri, satu pesan penting mengemuka, tentang pentingnya sanad keilmuan.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, KH. Nusron Wahid, yang menyampaikan pidato pada Haul Guru Tua itu mengingatkan, di tengah derasnya arus modernisasi, sanad keilmuan justru semakin menemukan urgensinya.
“Sanad keilmuan ini sangat penting. Tanpa sanad, kita tidak akan sampai pada pemahaman agama yang benar seperti hari ini,” tegasnya di hadapan ribuan hadirin.
Dalam suasana yang khidmat, KH. Nusron Wahid yang telah dikukuhkan sebagai abnaulkhairaat itu, mengurai makna sanad bukan sekadar rantai transmisi ilmu, melainkan jaminan keaslian ajaran. Ia bilang, sanad Guru Tua tersambung hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui mata rantai ulama besar seperti Imam Syafi’i dan Imam Ja’far Shadiq, sampai kepada Fatimah Azzahra (Putri Rasulullah) dan Ali bin Abi Thalib, yang menjadi penjaga kemurnian ilmu sepanjang zaman.
mantan Ketua Umum GP Ansor itu juga menyinggung fenomena kekinian: generasi muda yang belajar agama secara instan melalui media sosial, tanpa talakki, tanpa bimbingan guru dan tanpa rujukan kitab yang muktabar.
“Banyak yang belajar agama dari media sosial, tanpa sanad. Ini berbahaya, karena bisa menyesatkan,” katanya, dengan nada mengingatkan.
Sindiran halus pun ia sampaikan, tentang mereka yang merasa cukup belajar dari internet, namun gagap ketika diminta memberikan jawaban keagamaan atau fatwa yang memiliki dasar kuat.
Bagi Nusron, sanad adalah “emas” dalam ilmu. Ia bukan hanya simbol, tetapi jaminan otentisitas yang menghubungkan murid dengan guru, guru dengan ulama, hingga bersambung kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam diri Guru Tua, menurutnya, terkumpul berbagai sanad: sanad keilmuan, sanad Al-Qur’an, sanad amalan, hingga sanad pertemuan dengan para ulama.
“Alangkah sedihnya, jika ada abnaulkhairaat yang menyusun khutbahnya dengan menggunakan ChatGPT. Karena sejatinya kita memiliki sanad keilmuan yang jelas. Dan hari imin saya menerima serban ini, saya menilainya bahwa saya telah mendapat ijazah sanad keilmuan dengan Guru Tua dan bersambung hingga kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” tutup KH. Nusron Wahid. (*)

Tinggalkan Balasan