KAMIS PAGI, 28 Mei 2026, halaman penyembelihan hewan kurban milik Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), dipenuhi suasana yang hangat dan penuh kebersamaan. Takbir berkumandang, panitia bergerak sigap, sementara warga datang silih berganti membantu proses pemotongan hingga membungkus daging kurban.
Pemandangan itu menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar prosesi keagamaan. Tidak tampak sekat di antara mereka. Semua larut dalam kebersamaan, bekerja bahu-membahu dalam suasana yang akrab dan penuh rasa persaudaraan.
Momentum Idul Adha 1447 Hijriah di FKUB Sulteng, memang menghadirkan makna yang lebih dalam. Sejumlah tokoh lintas agama, pengusaha, hingga anggota legislatif turut ambil bagian. Di antaranya anggota DPR RI Matindas J. Rumambi yang ikut berkontribusi bersama tokoh-tokoh lainnya dalam pelaksanaan kurban yang dipimpin Ketua FKUB Sulteng, KH. Zainal Abidin.
Dukungan juga datang dari kalangan pengusaha non Islam, seperti Hendrik Lianto alias Koh Aceo, owner Hotel Swissbell Express, serta Wijaya Chandra atau Koh Awi, owner Milenium Palu. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa kepedulian sosial mampu melampaui batas identitas, termasuk agama.
Di bawah kepemimpinan KH. Zainal Abidin, FKUB Sulteng memang terus memainkan peran penting, dalam merawat harmoni sosial. Kegiatan kurban ini menjadi bukti, bahwa toleransi bukan sekadar wacana, tetapi tumbuh dan hidup dalam praktik keseharian masyarakat.
Hasil riset Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Universitas Indonesia semakin menguatkan hal tersebut. Sulteng tercatat memiliki Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) sebesar 73,99, masuk dalam kategori “Tinggi”, dengan indikator toleransi, kebersamaan, dan kesetaraan yang menunjukkan tren positif.
KH. Zainal Abidin pun menyampaikan bahwa kerukunan adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Yang kita lakukan hari ini sederhana, tetapi maknanya besar. Ini tentang kepedulian, tentang kebersamaan, dan tentang bagaimana kita menjaga persaudaraan,” ujarnya.
Semangat Nosiala Pale: Kearifan Lokal yang Menyatukan
Di balik suasana kebersamaan itu, tersimpan nilai kearifan lokal masyarakat Kaili, yang dikenal dengan istilah Nosiala Pale. Secara sederhana, Nosiala Pale berarti hidup dalam semangat persaudaraan, saling membantu, dan merasakan satu sama lain sebagai bagian dari keluarga besar.
Nilai ini tidak hanya menjadi konsep budaya, tetapi juga praktik hidup sehari-hari masyarakat di Lembah Palu. Dalam momentum kurban FKUB, Nosiala Pale tampak nyata, ketika warga dari berbagai latar belakang berkumpul, bekerja bersama, tanpa mempersoalkan perbedaan.
Nosiala Pale menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai budaya dengan ajaran agama. Tradisi Kaili itu memperkuat, bahwa kebersamaan bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan sosial untuk menjaga harmoni dalam keberagaman.
Di tengah dinamika kehidupan modern yang kerap memunculkan sekat-sekat identitas, Nosiala Pale justru hadir sebagai pengingat, bahwa persaudaraan adalah fondasi utama kehidupan bermasyarakat.
Kurban dari Umat Beda Agama dalam Perspektif Islam
Dalam ajaran Islam, ibadah kurban merupakan ibadah yang bersifat khusus (mahdhah), dan hanya diperuntukkan bagi umat Islam. Niat berkurban menjadi syarat utama, yang tidak dapat dipisahkan dari keimanan seseorang.
Karena itu, para ulama sepakat bahwa hewan kurban yang diniatkan sebagai ibadah, harus berasal dari seorang Muslim. Hal ini berkaitan dengan aspek syariat yang mengatur sah atau tidaknya ibadah tersebut.
Namun, Islam juga mengenal dimensi hubungan sosial (muamalah) yang membuka ruang interaksi lintas agama. Dalam konteks ini, keterlibatan non-Muslim dalam membantu pelaksanaan kurban, baik dalam bentuk tenaga, dukungan, maupun kontribusi sosial, tidak termasuk dalam ibadah kurban itu sendiri.
Para ulama memandang partisipasi tersebut sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, selama tidak mengganggu substansi ibadah. Bahkan dalam sejarah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dikenal menjalin hubungan sosial yang baik dengan komunitas lintas agama dalam berbagai urusan kemasyarakatan.
Dengan demikian, keterlibatan tokoh lintas agama dalam kegiatan kurban FKUB Sulawesi Tengah, dapat dipahami sebagai wujud kepedulian sosial dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal. “Jika dia bukan saudaramu dalam agama, maka dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan,” kata Imam Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.
Kegiatan kurban FKUB Sulteng ini mungkin terlihat sederhana. Namun di balik pembagian daging dan kebersamaan yang terjalin, tersimpan pesan kuat tentang solidaritas, toleransi, dan pentingnya merawat harmoni sosial.
Dan di tengah berbagai isu perpecahan, Sulawesi Tengah justru menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpisah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi dalam semangat persaudaraan. (*)
Wallahu A’lam
(Ruslan Sangadji)


Tinggalkan Balasan