Oleh: M. Ridha Saleh / Wakil Ketua Komnas HAM RI 2007-2012

Hari Bumi lahir dari gelombang gerakan lingkungan pada dekade 1960-an, ketika kesadaran mulai tumbuh bahwa kerusakan lingkungan telah mencapai titik yang membahayakan keberlanjutan bumi dan mengancam kehidupan umat manusia. Pada masa itu, diskursus mengenai dampak negatif aktivitas manusia (antropogenik) terhadap planet ini mulai mengemuka. Terbitnya buku Silent Spring karya Rachel Carson pada tahun 1962 menjadi momentum penting yang memicu kesadaran ekologis publik sekaligus membuka jalan bagi gerakan lingkungan modern.

Karya tersebut mengungkap bahaya penggunaan pestisida secara masif, yang berdampak serius terhadap ekosistem. Gagasan ini kemudian diperluas oleh Barry Commoner melalui bukunya The Closing Circle. Ia menolak anggapan bahwa pertumbuhan penduduk, khususnya di negara-negara Dunia Ketiga, merupakan penyebab utama menipisnya sumber daya alam. Menurut Commoner, krisis ekologi justru berakar pada pola konsumsi negara-negara maju yang tidak proporsional. Pada saat yang sama, foto-foto pertama bumi dari luar angkasa semakin menegaskan betapa rapuhnya planet ini, sebagaimana disampaikan oleh Steve Cohen dari Earth Institute, Universitas Columbia.

Majalah Times bahkan menyebut Commoner sebagai “Paul Revere-nya ekologi.” Berbeda dengan Carson, ia melihat krisis lingkungan sebagai gejala dari sistem ekonomi dan sosial yang cacat. Sebagai ilmuwan, Commoner menyoroti bagaimana keserakahan korporasi, kebijakan pemerintah yang keliru, serta penyalahgunaan teknologi telah merusak keseimbangan antara manusia dan lingkungannya. Ia juga mengaitkan isu lingkungan dengan persoalan keadilan sosial—mulai dari kemiskinan, rasisme, kesehatan publik, hingga perdamaian dunia.

Hari Bumi pertama kali diperingati pada 22 April 1970, dipelopori oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson. Momentum ini muncul sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan di tengah pesatnya industrialisasi. Terinspirasi oleh semangat gerakan anti-perang dan perjuangan hak sipil, Hari Bumi berhasil menggerakkan sekitar 20 juta warga Amerika—sekitar 10 persen dari populasi saat itu—untuk turun ke jalan dalam aksi demonstrasi, diskusi, dan kampanye kesadaran lingkungan.

Profesor hukum lingkungan Michael Gerrard, yang saat itu masih mahasiswa di Universitas Columbia, turut menjadi saksi sejarah. Ia meliput peristiwa tersebut untuk Columbia Spectator, mencatat bagaimana gelombang kesadaran kolektif itu meluas di berbagai kampus dan kota. Peristiwa ini kemudian menjadi tonggak penting yang mendorong lahirnya berbagai kebijakan lingkungan, tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi juga di berbagai belahan dunia.

Kini, Hari Bumi diperingati secara global sebagai seruan bersama untuk bertindak. Ia menjadi pengingat bahwa tanggung jawab menjaga bumi tidak hanya berada di tangan pemerintah atau institusi besar, tetapi juga pada setiap individu.

Tema Hari Bumi 2026, “Kekuatan Kita, Planet Kita” (Our Power, Our Planet), menegaskan peran penting masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Tema ini mencerminkan keterkaitan erat antara kondisi lingkungan dengan berbagai aspek kehidupan—mulai dari biaya hidup, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, ketersediaan air, akses energi, hingga stabilitas ekonomi dan risiko bencana. Dengan kata lain, masa depan planet ini sangat ditentukan oleh pilihan dan tindakan kolektif kita hari ini.

Selamat Hari Bumi . (*)