PALU, KAIDAH.ID – Seminar hasil kajian spesies ekosistem mangrove, perhutanan sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah (Sulteng) menegaskan pentingnya rehabilitasi lingkungan berbasis data ilmiah dan pengetahuan lokal.
Kegiatan yang digelar di Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako (Untad) Palu ini menghadirkan kolaborasi antara Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) dengan melibatkan akademisi, praktisi, pemerintah, serta komunitas lokal.
Dekan Fakultas Kehutanan Untad, Prof. Dr. Sc, Agr. Ir. Yusran, menyatakan bahwa hasil kajian yang dipaparkan tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga aplikatif sebagai dasar perumusan kebijakan rehabilitasi yang terukur.
“Materi yang dipaparkan hari ini sangat penting karena mencakup analisis kondisi lapangan sekaligus rekomendasi teknis yang dapat menjadi dasar perumusan kebijakan rehabilitasi yang terukur dan berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Dalam pemaparan kajian mangrove di Desa Oncone Raya, Dr. Bau Toknok mengungkapkan bahwa dari total 31,44 hektare kawasan, hanya 18,7 persen yang masih berupa vegetasi mangrove. Sisanya telah berubah menjadi tambak (50,3 persen) dan areal terbuka (31 persen).
“Kondisi ini menunjukkan tekanan yang cukup besar terhadap ekosistem mangrove, sehingga diperlukan strategi rehabilitasi yang tepat dan berbasis data lapangan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan tidak hanya mengukur aspek biofisik, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat melalui FGD, penggunaan enumerator lokal, serta penggalian pengetahuan tradisional.
“Sabuk pesisir yang sehat, masyarakat yang kuat,” tegasnya.
Sementara itu, kajian Tahura Sulteng yang dipaparkan Ir. Erika mewakili Dr. Ir. Sudirman Dg. Massiri menekankan pentingnya pendekatan etnobiologi dan metode plot dalam pengelolaan kawasan seluas sekitar 5.195 hektar yang mencakup Kota Palu dan Kabupaten Sigi.
“Kawasan Tahura Sulteng adalah aset strategis yang tidak tergantikan, sehingga pengelolaannya harus berbasis data ilmiah sekaligus memperhatikan pengetahuan lokal masyarakat,” ungkapnya.
Pengelolaan Tahura dilakukan melalui sistem zonasi yang meliputi blok perlindungan, koleksi dan khusus, pemanfaatan, rehabilitasi, serta blok tradisional, dengan salah satu spesies penciri berupa pohon cendana.
Seminar ini juga menyoroti tantangan implementasi di lapangan, seperti keterbatasan data, keberlanjutan program, dan perlunya penguatan kapasitas masyarakat lokal.
Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif pengelolaan lanskap darat dan laut terpadu, yang didukung Yayasan KEHATI melalui program SOLUSI, hasil kerja sama Bappenas dan Pemerintah Jerman. (*)
(Moch. Subarkah)

Tinggalkan Balasan