- Skor rata-rata untuk semua negara dan wilayah di dunia tidak pernah serendah ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah indeks selama 25 tahun, lebih dari setengah negara di dunia kini masuk dalam kategori “sulit” atau “sangat serius” dalam hal kebebasan pers.
- Dari lima indikator yang digunakan untuk menilai kebebasan pers di seluruh dunia — yaitu lingkungan ekonomi, hukum, keamanan, politik, dan sosial bagi jurnalisme — indikator hukum mengalami penurunan paling tajam tahun ini.
- Amerika Serikat turun tujuh peringkat, dan negara-negara lain di kawasan Amerika seperti Ekuador dan Peru juga mengalami penurunan tajam dalam peringkat.
- Norwegia menempati posisi teratas untuk tahun kesepuluh berturut-turut, sementara Eritrea berada di posisi terakhir untuk tahun ketiga berturut-turut.
- Suriah pasca-Assad mencatat peningkatan terbesar dalam kebebasan pers di antara semua negara dan wilayah dalam Indeks 2026, naik 36 peringkat.
SKOR RATA-RATA TERENDAH DALAM SEPEREMPAT ABAD
Sejak RSF mulai menerbitkan Indeks Kebebasan Pers Dunia 25 tahun lalu, kebebasan pers terus mengalami penurunan secara bertahap. Penurunan ini terlihat pada peta indeks yang semakin memerah setiap tahun.
Jurnalis masih dibunuh dan dipenjara karena pekerjaan mereka, tetapi taktik yang melemahkan kebebasan pers kini semakin berkembang.
Jurnalisme tercekik oleh wacana politik yang bermusuhan terhadap jurnalis, melemah akibat kondisi ekonomi media yang goyah, dan tertekan oleh penggunaan hukum sebagai senjata melawan pers.
Untuk pertama kalinya dalam 25 tahun:
- Skor rata-rata keseluruhan dari semua negara yang dinilai tidak pernah serendah ini.
- Di lebih dari setengah negara dan wilayah dunia (52,2%), kondisi kebebasan pers dikategorikan sebagai “sulit” atau “sangat serius.” Kategori ini hanya merupakan minoritas kecil (13,7%) pada tahun 2002.
- Pada tahun 2002, sekitar 20% populasi dunia tinggal di negara dengan kategori kebebasan pers “baik.” Dua puluh lima tahun kemudian, kurang dari 1% populasi dunia yang tinggal di negara dengan kategori tersebut.
PERANG DAN PEMBATASAN AKSES INFORMASI
Di beberapa negara seperti Irak (peringkat 162), Sudan (161), dan Yaman (164), konflik bersenjata yang berulang menjadi penyebab utama menurunnya kebebasan pers. Perang yang sedang berlangsung memberikan dampak besar tahun ini, terutama di Palestina (156), di mana pemerintah Benjamin Netanyahu di Israel (yang turun 4 peringkat tahun ini) terus melanjutkan ofensifnya.

Tinggalkan Balasan