Di Indonesia (129), Singapura (123), dan Thailand (92), elite politik dan bisnis juga memanfaatkan sistem hukum yang belum cukup melindungi kebebasan pers. Penyalahgunaan hukum ini bahkan terjadi di negara dengan peringkat relatif tinggi seperti Prancis (25).
Kebijakan publik sejauh ini gagal memberikan solusi struktural terhadap berbagai tantangan — baik ancaman fisik maupun hukum — yang dihadapi jurnalis di seluruh dunia. Di lebih dari 80% negara yang dianalisis, mekanisme perlindungan dinilai tidak ada atau tidak efektif.
Meskipun European Media Freedom Act (EMFA) menjamin independensi dan keberlanjutan media — terutama media layanan publik — di Uni Eropa, regulasi ini kerap dilemahkan oleh kebijakan nasional, seperti yang terjadi di Hungaria (74) di bawah pemerintahan Viktor Orbán, serta di negara dengan peringkat lebih baik seperti Slovakia (37), Lithuania (15), dan Republik Ceko (11).
BENUA AMERIKA BERGULAT DENGAN KEKERASAN POLITIK DAN TANTANGAN KEAMANAN
Amerika Serikat melemah di Bawah Donald Trump. Sejak 2022, penurunan peringkat keseluruhan 28 negara di kawasan Amerika (-14 poin) sebanding dengan kemerosotan di dua kawasan paling berbahaya bagi jurnalis: Eropa Timur–Asia Tengah dan Timur Tengah–Afrika Utara.
Meski terdapat beberapa perbaikan dalam beberapa tahun terakhir, seperti di Brasil (52), sejarah kebebasan pers di kawasan ini kini ditandai oleh meningkatnya kekerasan dari dua aktor utama: kejahatan terorganisir dan aktor politik.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadikan serangan berulang terhadap pers dan jurnalis sebagai kebijakan sistematis, yang mendorong posisi AS turun ke peringkat 64 (-7). Penahanan jurnalis Salvador Mario Guevara — yang kemudian dideportasi — turut memperburuk situasi keamanan yang sudah tegang dan ditandai oleh kekerasan aparat.
Pemangkasan besar-besaran tenaga kerja di US Agency for Global Media (USAGM) juga berdampak global, menyebabkan penutupan, penghentian, dan pengurangan operasi media internasional seperti Voice of America (VOA), Radio Free Europe/Radio Liberty (RFE/RL), dan Radio Free Asia (RFA), yang sebelumnya menjadi sumber informasi terpercaya di sejumlah negara.
Presiden Javier Milei dan Nayib Bukele — pendukung vokal Donald Trump di Amerika Latin — mengadopsi pendekatan serupa terhadap media, dengan hasil yang juga mirip. Argentina (98, -11) dan El Salvador (143, -8) mengalami penurunan signifikan, terutama akibat memburuknya indikator politik dan sosial, yang mencerminkan meningkatnya tekanan dan permusuhan pemerintah terhadap pers.
AMERIKA LATIN DALAM KEMUNDURAN
Di negara-negara di mana kejahatan terorganisir membunuh jurnalis, peringkat dalam indeks jatuh drastis. Hal ini terjadi di Ekuador (125), yang turun 31 peringkat sejak pembunuhan Darwin Baque dan Patricio Aguilar pada 2025. Pada tahun yang sama, Peru (144, -14) juga terdampak oleh pembunuhan empat jurnalis.
Jaminan kebebasan pers di Venezuela (159) masih sangat tidak pasti meskipun beberapa jurnalis yang ditahan telah dibebaskan awal tahun ini. Sementara itu, Kuba (160) mengalami krisis mendalam yang memaksa jurnalis independen yang tersisa bekerja secara sembunyi-sembunyi. Lanskap media di Nikaragua (168) pun runtuh, ditandai oleh represi sistematis dan memburuknya kondisi kerja jurnalis secara permanen. (*)
Editor: Ruslan Sangadji

Tinggalkan Balasan