BOGOR, KAIDAH.ID – Ketua Umum Korps HMI-Wati (Kohati) HMI Cabang Bogor demiosioner, Fauzia Noorchaliza, menyerukan pentingnya memperkuat kembali tradisi intelektual, yang selama puluhan tahun menjadi identitas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor.

Seruan tersebut disampaikan Fauzia dalam pelantikan pengurus HMI Cabang Bogor dan Kohati HMI Cabang Bogor periode 2026-2027 yang berlangsung di Auditorium AHN IPB, Ahad, 14 Juni 2026 lalu.

Pada pelantikan tersebut, M. Risky Munandar resmi dilantik sebagai Ketua Umum HMI Cabang Bogor, sedangkan Indah Ramadhani dipercaya memimpin Kohati HMI Cabang Bogor periode 2026-2027.

Fauzia Noorchaliza mengajak seluruh kader, untuk mengakhiri berbagai bentuk fragmentasi yang dapat menghambat perkembangan organisasi, dan kembali fokus pada penguatan tradisi intelektual sebagai fondasi gerakan kaderisasi HMI.

Ia mengapresiasi kepengurusan baru, yang kembali memberikan ruang bagi Kohati untuk menyampaikan gagasan dalam agenda pelantikan. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa HMI dan Kohati merupakan satu kesatuan gerakan yang saling menguatkan dalam proses kaderisasi.

“HMI dan Kohati tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan bagian dari satu gerakan yang memiliki tujuan yang sama dalam mencetak kader-kader terbaik untuk umat dan bangsa,” katanya.

Fauzia mengingatkan, HMI Cabang Bogor yang berdiri sejak 17 November 1952 kini telah memasuki usia 73 tahun. Menurutnya, perjalanan panjang tersebut telah membentuk kematangan organisasi dalam menghadapi berbagai dinamika sosial, politik, dan kebangsaan.

Lantaran itu, ia menilai organisasi yang telah matang ini, harus semakin mengedepankan prinsip kesetaraan dalam memandang kader berdasarkan kapasitas dan kompetensi, bukan berdasarkan jenis kelamin maupun latar belakang perkaderan.

“Dalam kaderisasi di HMI, harus ada kesetaraan dalam memandang kader berdasarkan kapasitasnya, bukan membeda-bedakan berdasarkan jenis kelamin maupun latar belakang proses perkaderan,” harapnya.

Selain menekankan pentingnya kesetaraan, Fauzia Noorchaliza juga mengajak kader untuk kembali membaca sejarah organisasi, dan meneladani tokoh-tokoh yang telah memberikan kontribusi besar bagi HMI Cabang Bogor.

Salah satu nama yang disorotinya adalah Saleh Khalid, sosok yang dikenal memiliki kepemimpinan yang tenang, kuat secara intelektual, serta berpengaruh di tingkat nasional. Menurut Fauzia, nama Saleh Khalid masih dikenal dan dihormati di berbagai cabang HMI di Indonesia. Pengalaman tersebut ia rasakan ketika menjadi pembicara dalam sejumlah forum diskusi di berbagai daerah.

“Ketika saya berangkat ke HMI Cabang Manado, Gorontalo, maupun Bone Bolango untuk berdiskusi tentang Buku Kohati Bogor, banyak alumni yang masih mengenang kepemimpinan Kakanda Saleh Khalid. Ini menunjukkan bahwa warisan intelektual HMI Cabang Bogor masih hidup dan dikenang hingga hari ini,” ujarnya.

Ia berharap, kepengurusan baru mampu melanjutkan tradisi intelektual yang telah diwariskan para pendahulu, sekaligus melahirkan generasi pemimpin baru yang memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan negara.

“Saya berharap momentum pelantikan ini akan melahirkan Saleh Khalid berikutnya, Hanifah Husein berikutnya, Ida Nazar berikutnya, dan Betty Epsilon Idroos berikutnya,” tuturnya.

Pelantikan HMI dan Kohati HMI Cabang Bogor periode 2026-2027 turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah. Dalam kesempatan tersebut, Hanifah Husein, Fauzi Amro, dan Handian Purwawangsa menyampaikan keynote speech mengenai kepemudaan dan pembangunan bangsa.

Sementara itu, sesi talkshow menghadirkan Analia Trisna dan Asep Wahyuwijaya, yang membahas peran generasi muda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. (*)

(Ruslan Sangadji)