Menurut para ulama, Shalat Istisqa’ dapat dilakukan hingga menjelang sore hari, asalkan tidak dilakukan pada saat-saat yang diharamkan untuk melaksanakan shalat, seperti ketika matahari berada di titik tertinggi di langit atau ketika matahari terbenam
PALU, KAIDAH.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Tengah, mengajak umat Islam memperbanyak ikhtiar spiritual di tengah kondisi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah. Salah satunya dengan melaksanakan Shalat Istisqa atau shalat meminta hujan serta doa bersama.
Imbauan tersebut ditujukan kepada pengurus masjid, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), takmir masjid, organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, dan seluruh umat Islam di Sulawesi Tengah.
Ketua MUI Sulteng, HS Ali Muhammad Aljufri, mengatakan Shalat Istisqa dapat dilaksanakan di lingkungan masing-masing, baik pada Jumat maupun hari lainnya, sesuai kondisi dan kesepakatan masyarakat.
“Kami mengimbau kepada seluruh umat Islam, DMI, DKM, Takmir Masjid, serta ormas Islam se-Sulawesi Tengah untuk menyelenggarakan Shalat Istisqa dan doa bersama, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diturunkan hujan, dan kita dijauhkan dari kebakaran serta kerusakan lainnya,” imbau HS Ali Muhammad Aljufri.
Menurutnya, pelaksanaan Shalat meminta hujan ini, tidak harus dilakukan secara serentak maupun terpusat di satu lokasi. Setiap masyarakat dapat menentukan tempat dan waktu pelaksanaan sesuai dengan keadaan di wilayah masing-masing.
MUI Sulteng juga mengajak masyarakat, menjadikan kondisi kekeringan sebagai momentum untuk memperbanyak doa dan introspeksi diri, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Imbauan tersebut ditandatangani Ketua MUI Provinsi Sulawesi Tengah HS Ali Muhammad Aljufri dan Sekretaris Umum Sofyan Thaha Bachmid, yang diterima kaidah.ID, Selasa, 1 September 2026 malam.
MUI Sulteng berharap ajakan tersebut dapat direspons oleh masjid, lembaga keagamaan, ormas Islam, dan masyarakat dengan melaksanakan Shalat Istisqa secara khusyuk sebagai bentuk ikhtiar bersama memohon pertolongan Allah SWT.
Shalat Istisqa merupakan salat sunnah yang dilaksanakan untuk memohon turunnya hujan ketika terjadi kekeringan atau kondisi yang membutuhkan hujan.
Niat dan Tata Cara Shalat Istisqa
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Ushallī sunnatal istisqā’i rak‘ataini ma’mūman lillāhi ta‘ālā.
Artinya, “Aku sengaja melaksanakan shalat sunnah minta hujan dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”
Berikut merupakan tata cara Shalat Istisqa:
- Imam dan jamaah berkumpul di lapangan terbuka untuk menjalankan Shalat Istisqa bersama-sama.
- Tanpa adanya adzan dan iqamah, imam dan jamaah berniat untuk melaksanakan Shalat Istisqa dengan membaca niat.
- Setelah takbiratul ihram, dalam rakaat pertama, imam dan jamaah mengucapkan takbir sebanyak 7 kali, kemudian dilanjutkan membaca Surat Al Fatihah dan satu surat pendek dengan suara yang jelas dan didengar jamaah, dilanjutkan dengan ruku, dua sujud, dan duduk di antara dua sujud.
- Rakaat kedua, imam dan jamaah mengucapkan takbir sebanyak 5 kali, kemudian membaca Surat Al Fatihah dan surat pendek dengan suara yang jelas dan didengar oleh jamaah, dilanjutkan dengan ruku, dua sujud, dan duduk di antara dua sujud..
- Pada rakaat kedua, setelah sujud, imam dan jamaah melakukan duduk tahiyat akhir dan membaca bacaan tahiyyat, tasyahhud, dan shalawat seperti dalam Shalat wajib.
- Shalat diakhiri dengan salam.
- Setelah shalat, imam memberikan dua khutbah yang didengarkan oleh jamaah.
Menurut para ulama, Shalat Istisqa’ dapat dilakukan hingga menjelang sore hari, asalkan tidak dilakukan pada saat-saat yang diharamkan untuk melaksanakan shalat, seperti ketika matahari berada di titik tertinggi di langit atau ketika matahari terbenam. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan